Feeds:
Posts
Comments

PEMILU PILU

partai2

m-copy1

enjelang pemilu. Mata kita dipaksa untuk menonton ratusan poster partai dan caleg. Lirikan kita pun tak luput dari pemandangan jejeran baligho bergambar orang-orang yang rata-rata “senyum”-entah pada siapa, dan bikin kepala yang melihat jadi pusing. Nun jauh diatas sana, kibaran bendera dari partai-partai yang logonya lebih minor daripada nomornya, bersaing dengan antena televisi, jemuran dan puncak – puncak gedung. Bayangkan !! kita dijejali nomor tanpa ada ajakan untuk mengenali identitas (logo : mungkin ? ) dari parade politik 5 tahunan itu.

Mungkin tidak, jika disuatu pemilu dimasa depan kelak, kita bisa melihat poster-poster yang lebih rapi dan memuat tata visual yang lebih enak dipandang tidak memuakkan seperti papan iklan (mungkin). setidaknya, caranya lebih cerdas lah !.

Mungkin tidak, jika partai partai yang akan menakhodai negeri ini lebih membuka diskusi untuk mencari cara kampanye yang tidak “norak” dengan bahasa-bahasa visual yang lebih cerdas dan inovatif ?

Mungkin tidak, jika logo-logo partai itu lebih dikedepankan sebagai senjata pengenal untuk pemilih daripada mencecar kita dengan nomor-nomor(seperti togel yah ….), sehingga mampu membuktikan bahwa logo tersebut memang punya daya magis untuk diingat dan dicintai.

Mungkin tidak, jika poster-poster para presiden yang “nyalon” berganti pose fotonyai ke “angle” yang lebih “alternatif”, ketimbang hanya tampak depan, senyum dikit dengan ekspresi yang “mentah” ?

Mungkin tidak, jika website kampanye mereka didesain lebih elegan dengan informasi yang jujur dan didalamnya terdapat aplikasi-aplikasi yang interaktif terhadap pemilih ?

Di Indonesia banyak designer, berjubel art director,bersesakan pakar komunikasi visual, semuanya menjadi paradoks dengan kondisi kampanye politik negeri ini yang carut marut, seakan zonder konsep komunikasi visual yang cerdas. (bahasa lainnya : visual iklan rokok jauh lebih bagus daripada visual iklan politik). Paling tidak tujuannya sederhana : supaya iklan-iklan kampanye itu tidak disumpah serapahi banyak orang.

Bukan untuk mengkiblat ke amerika, tapi cara dan media kampanye Obama tempo hari bisa jadi bahan pertimbangan. Betapa jauhnya dengan keadaan di Indonesia sekarang.

ketika mencatat tulisan ini, saya jadi teringat dengan obrolan saya dengan pak sumbo tinarbuko. Bapak yang jenaka ini mengkomentari sampah-sapah visual tersebut dengan enteng :

“mbok anggenipun mriksani ngagem paningalipun para caleg, rak mangke ketingaal sae sedaya, monggo mriksani ngagem etika lan estetikanipun para caleg”

( mbok Ngeliatnya dengan cara pandang para caleg, kan nanti jadi bagus semua, coba lihatlah dengan etika dan estetika para caleg tersebut)

saya terkekeh. Benar , saya lupa untuk menggunakan logika para caleg tersebut. nuwun pak sumbo.

DUA POLISI

polisi

j-copyalan di Jakarta sudah senyap. Saya memacu kendaraan dengan menahan dingin malam yang menembus jaket. Mungkin jam sudah menunjuk kearah pukul 00.00 atau barangkali juga sudah lepas tengah malam. Melintasi perempatan kuningan terlihat beberapa Polisi sedang berhadapan dengan seorang pengendara motor. Tak jelas apa yang mereka perdebatkan. Saya hanya tersenyum kecil dengan terus memutar gas motor melaju.

Lampu merah menghentikan saya di persimpangan Slipi. Beberapa kendaraan – mobil dan motor – sepertinya tak mempedulikan nyala lampu. mereka melabas meski di depan ada sebuah sepeda motor yang hendak menyeberang.

Saya kembali tersenyum dan mendenguskan napas. Apalagi ketika dari arah belakang saya sebuah mobil patroli polisi pun melakukan hal yang serupa dengan kendaraan yang melanggar lampu merah tadi, saya menggeleng-gelengkan kepala.

Rupanya, malam hari memang saat yang paling mudah dan aman untuk melumpuhkan tiap aturan di jalan raya. Apakah ini sudah “kewajaran” atau memang mental disiplin yang sudah tipis.

Sesampainya di rumah saya terhenyak.

Saya jadi teringat beberapa hari yang lalu. Di tanggal-tanggal akhir Desember (tepatnya saya lupa) harian Kompas memuat dua surat di halaman surat pembaca yang muatannya kurang lebih sama. Keduanya menjabarkan keluhan-keluhan di jalan raya .

Yang pertama adalah kejadian di Jambi. Saat sebuah truk melintas di jalan raya lintas Sumatera, beberapa orang polisi menghentikannya. Truk itu membawa buku-buku yang hendak disumbangkan di beberapa daerah tertinggal. Diceritakan dalam surat itu, pak polisi akhirnya menahan truk dan meminta tebusan Rp.200.000 apabila kendaraan tersebut hendak meneruskan perjalanan. Sopir dan awaknya sempat berdebat Bahkan mereka sempat menelpon kantor induknya di Jakarta untuk menjelaskan kepada polisi bahwa apa yang mereka angkut adalah barang-barang legal dan ditujukan untuk urusan sosial. Sayangnya polisi tetap tak menggubris dan bersikukuh meminta uang tebusan.

Kejadian kedua yang diterakan disurat lain dalam halaman itu lebih menggelikan. Seorang ibu diberhentikan Polisi di jalan rayadi Jakarta (tempatnya saya lupa) ketika sedang terburu mengejar waktu dengan mobilnya. Laju mobil kendaraan sang ibu masih dalam kondisi wajar. Seorang Polisi dengan sigap menghampirnya dan menyakan surat-surat kelengkapan mobil. Sang ibupun menyerahkan surat-surat tersebut meski masih dalam keadaan bertanya-tanya : kenapa ia di berhentikan. Dengan alasan yang tak jelas, polisi itu berdebat dengan sang ibu. Kemudian Polisi mengatakan kalau ia mencurigai plat nomor mobil sang ibu yang disangkanya dicat ulang. Sang ibu tak terima dengan alasan itu. Dia merasa terganggu karena diberhentikan saat dia sedang terburu-buru, dengan alasan yang seakan “dibuat-dibuat” lagi. Sebab, sewaktu diperiksa ternyata plat nomor mobil tersebut masih dalam kondisi utuh dan normal, tidak ditemukan bekas-bekas manipulasi.

Mereka beradu mulut. Polisi tersebut kemudian geram dan meninggalkan sang Ibu dengan meninggalkan pesan bahwa dia sedang menjalankan tugas yang didasari dengan praduga tak bersalah. Entah dimana korelasinya. Karena sang Ibu tetap menolak segala alasan-alasan iu, diapun berujar hendak melaporan polisi tadi ke kantor polisi, sang Polisipun berteriak menantang menyilahkan sang Ibu melaporkan dengan menambah kata-kata pembelaan “Bahwa dia adalah keponakan Kapolri”.

Saya terkekeh membaca itu. Sudah amburadulkah keadaan hukum di negeri ini. Kejadian yang saya alami tadi dijalan ditambah dengan penuturan orang lain melalui surat di Harian Kompas, membuat saya miris. Jangan-jangan negeri ini memang sudah menyiapkan diri untuk merintis hukum rimba. Aparat keamanan yang sewenang-wenang dan sangat bertentangan dengan motto merekan untuk melayani masyarakat dengan baik.

Seperti menebak, duluan mana ayam dan telur, kejadian-kejadian di jalan raya menjadi sulit di terka siapa yang salah. Polisi atau masyarakat atau jangan-jangan sistemnya. Orang melanggar aturan dijalan, polisi melakukan pemerasan di sebalik topeng “tugas”, lalu semuanya mafhum dan tanpa ada tindakan yang serius denganhal-hal tersebut.

Barangkali negeri ini memang sudah kacau. Namun apakah akan terus dibiarkan. Kita terus memberi fokus yang intens terhadap masalah-masalah besar, seperti korupsi dan pengurasan aset negara. Namun terlupa terhadap perkara sepele tapi menyesakkan dada disekeliling kita. Kebanyakan lupa, bahwa untuk menyelesaikan problema besar musti mengikis masalah kecil dulu.

Dan ketika yang kecil itu disepelekan, dia seperti bola salju yang menggelinding. Dilereng gunung nanti bola tersebut tidak akan indah lagi, gelindingannya adan meraksasa dan mengobarkan malapetaka.

Saya merinding. Malam makin berlari mengejar pagi. Sambil menghela napas saya beranjak ke ranjang untuk tidur sembari berharap, malam ini akan mendapatkan mimpi: tentang negeri diawan yang dilukiskan Katon Bagaskara atau negeri senja yang pernah diceritakan Seno Gumira Ajidharma.

Older Posts »