

elakangan saya sibuk menyiapkan sebuah media berbasis budaya. Ceritanya, beberpa petinggi yang konsen ke penggalian kembali situs budaya nusantara berinisiatif untuk merilis media yang berkarakter seius tersebut. Pertama kali saya menerimanya dengan suka hati. Ada bayangan, saya bisa kembali bernostalgia dengan perdebatan kultur yang jenaka.Tapi ini duluar dugaan. Ternyata saya berkumpul dengan orang -orang senior yang idealis dan sangat bersemangat. hari-hari selanjutnya, saya di todong untuk mencari nama yang tepat untuk media yang sata dengan muatan intelektual tersebut. Yang terbersit di waktu awal adalah SANEPA, idiom jawa yang kurang lebih-apabila diadaptasikan dalam versi bahasa indonesia- berarti metafor. Tapi ketika dilempar nama itu mentah. Sang pandega, Pak luluk – dirjen Migas – mengusung nama GONG. Namun ini juga patah, ketika didapati bahwa di jogja sana juga eksis majalah bernama serupa.
Pada acara makan siang sederhana di kediaman beliau (Pak Luluk), saya diajang berbincang tentang wacana idealis keIndonesiaan. Ini seperti dejavu ke masa kuliah saya dijogja. Perdepatan-perdebatan berkerut mengenai siapa dan apa Indonesia itu. Lalu perbincangan itu digiring kepada tujuannya. Ternyata, demi pencapaian visi keIndonesian yang serba historik itulah kenapa majalah ini perlu diterbitkan. Dan saya terhenyak, ketika di obrolan itu beliau menginginkan untuk membawa media itu ke pasar Internasional dengan tetap terbaca keIndonesiaannya.
Sungguh melelahkan. Apa yang saya kira meleset total. imajinasi saya salah memprediksi tentang bagaimana ruh media budaya yang sedang direncanakan itu. Saya kita media tersebut tentang busaya Pop dan seputaran kulru lokal yang terlupa. Ringan, renyah dengan menyuguhkan petualangan foto dan dan tulisan yang atraktif dan variatif. Namun ini adalah sekumpulan karya telaaah dalam menganai sejarah, rekonstruksi tradisi dan sekumpulan pengingat nilai lokal. Wuiiihhh sungguh seperti makalah yang yang dibukukan.
Dan dalam keterdesakan itu saya memikirkan sebuah idiom, yang tetap meng-indonesia namun juga mampu diintepretasikan oleh orang luar sana sebagai media budaya, untuk nama majalah ini. KULTURA, barangkali itu yang cocok. Semua setuju, dan tak berhenyi disitu, saya pun sekarang sibuk menyiapkan desainnya, sambil sesekali menyeriangai. Indonesia macam apa yang sedang dicari. Nampaknya memang kita bangsa yang sedang bingung. Tentang siapa kita dan bagaimana kita. Sebuah diskusi yang susah selesai.
![]()