
uatu waktu di tahun 1992, saya mendapati berlembar gambar aneh di tumpukan majalah bekas koleksi Om saya. Saat itu saya masih berusia 12 tahun dan duduk di kelas 6 SD. Dengan penasaran saya telusuri halaman demi halaman yang berisi adonan garis, blok hitam dan lekuk-lekuk dekoratif di sela huruf-huruf gothic. Disudut kiri atas halaman pertama terdapat tulisan VIGNET yang di cetak menggunakan huruf kapital tegak. Dalam hati saya bertanya, apa maksud gambar-gambar ini dan kenapa orang membuatnya ?. Kesan pertama ini memupuk misteri besar yang terbawa hingga saya dewasa. Saya kemudian gandrung mengkoleksi foto, gambar dan lukisan yang “aneh” . Saya melihat tattoo, menggemari gambar wayang dan sangat menikmati grafiti-grafiti yang terbeber di tembok tembok kota.
Hingga kemudian jogja membawa saya untuk justru semakin menggeluti karya – karya tersebut. Tak sadar, sesuatu yang saya kagumi puluhan tahun silam itu menggiring saya pada profesi yang sampai sekarang saya tekuni.
Ini asyik. Manusia adalah makhluk pengenang serta suka bernostalgia. Saya termasuk didalamnya. Ketika tersedia waktu luang, dan kesempatan longgar untuk menidurkan segala beban, kerapkali masa lalu membawa saya berpetualang. Seperti seluloid yang diputar balik. Rentengan peristiwa berjajar mencari perhatian. Kadang tertawa, karena konyol, kemudian juga menyeringai, sebab ada yang menohok ke dalam dada.
Dan saya berhitung, sudah seperempat abad lebih saya tuntaskan dengan jutaan huruf yang terlontar dari mulut. Dengan milyaran kedipmata yang menyerap suasana di depannya. Lalu yang pasti, saya telah melalui 28 tahun ini pada jalan yang bercabang-cabang membentuk zona fractal.
Hingga saat ini, vignet-vignet yang mengitari otak saya di usia 12 tahun itu, telah benar-benar membuat saya mengerti, bahwa ekspresi, intuisi dan eksplorasi pembuat vignet itu adalah, keinginan untuk menayangkan citra kehidupan itu dalam bentuk-bentuk yang sederhana. Meskipun yang tertangkap mata amatlah rumit.
Namun begitulah. Sekitar kita adalah paradoksal. Ada simplisitas, juga kompleksitas. Terdapat keramaian yang berpusar di tengah kesepian. Kenikmatan ditengah kesakitan. Dan kesedian pada derai tawa kebahagiaan. Semuanya apabila dimetaforkan pada bentuk-bentuk grafis, adalah paduan titik garis dan bentuk yang fractal dan tak beraturan.
Sedangkan yang linear adalah umur kita. Di awal sana-dititik nol-kita dilahirkan, diujung sana-ti koordinat tak terhingga- kita akan dimatikan. Lalu disini, di tengah orbit lurus, kita sedang bergulat dengan segerombolan kebimbangan. Tentang apa yang telah kita dapatkan, hingga hidup ini terasa berharga.
![]()