ampung saya tak seindah gondola di venice. Disana tidak ada sungai yang membelah membentuk lengkungan bening. sampan-sampan kayu yang menyisir dari arah matahari terbitpun tak dijumpai. Yang ada adalah hamparan sawah yang ketika kemarau datang, mengering dan gersang. Bau pantai yang akrab, dengan terik yang menghujam menjadi hiasan diwaktu musim penghujan belum datang. Namun saya merindukannya.
Kurang lebih lima belas tahun, perjalanan hidup saya dihabiskan disana. Masa kecil yang kompleks dengan jutaan kenangan manis juga buruk. Saya paling ingat, ketika di suatu hari saya terkesima dengan matahari terbit. Sengaja di hari itu, saya bangun pagi. Tubuk kecil saya berlari menuju tanah lapang yang leyaknya di batas timur kampung. Bersebelahan dengan pemakaman umum. Pasalnya, saya terinspirasi pada sebuah mimpi yang datang di malam sebelumnya. di mimpi itu saya melihat bulatan surya besar mengambang dipelupuk pagi yang remang-remang. Saya sigap, dan tergerak untuk mendekatinya, namun keadaan selanjutnya berubah. Kaki kecil yang berlari, tiba-tiba melayang dan membawa saya pada dimensi alam yang berbeda dimana semuanya serba putih. Didepan sana ada aliran sungai bening yang sekitarnya dirumbuhi rerumputan putih, seperti diselubungi salju, saking senangnya, saya berteriak girang sampai akhirnya terbangun. Ah..benar-benar mimpi yang menyenangkan.
Bayangan itu selintas mampir ke benak saya ketika mobil yang saya kendarai masuk ke jalan sepi arah kampung saya yang telah lama ditinggalkan. Perjalanan ini membuat saya merasa mengulangi masa-asa kecil dulu yang sumringah. Ada kerinduan memuncak pada bapak yang tak lagi sesehat dulu, dan kangen yang membanjir pada belaian ibu yang selalu suka membuat sayur asem jika saya dirumah.
Hari hampir maghrib, ketika rumah kecil saya terlihat. remang dan tanpa pikuk. Seperti dulu, bangunan itu masih terlihat muram namun tetap menyiratkan kenangan indah. Dan saya kembali bernostalgia. Disini saya pernah besar dan belajar, bagaimana filosofi hijrah dan pulang sebenarnya. Ya, hijrah adalah niatan lahir bathin untuk merubah sesuatu, mengadakan revolusi dan reformasi tubuh serta pikiran. Sedang pulang adalah mengintrospeksi segala titik hidup untuk dirangkum pada semangat baru. Semuanya bermuara pada instensitas keshatan psikologis untuk hidup yang lebih baik.
Saya pulang, dan harus belajar, bagaimana merasakan arti sesungguhnya sebuah rindu. Mencernakan makna cinta dan menyegerakan semangat untuk terus bertahan dan berorientasi pada keikhlasan. Barangkali itulah yang bisa membuat bahagia. Seperti gambaran mimik ibu dan bapak, yang senantiasa menunggu dengan aliran cinta luar biasa, disuatu saat mereka dapat kembali memeluk anak-anaknya dengan aroma sayang yang tak luntur, seperti masa kecil mereka dahulu.
