
on http://www.erik-supit.co.cc
aya bertemu seorang teman lama, beberapa waktu lalu. Kami nyaris tak berjumpa sekitar 10 tahun. Ketika di jogja tahun 1998, tak sengaja kami dipertemukan oleh hobi yang sama. Dia suka memotret bagitupun saya. Sungguh suatu yang tak terduga sebelumnya, karena kami sudah lupa satu sama lain. Maklum, 10 tahun bukan rentang yang gampang untuk saling lekat mengingat.
Saya memanggilnya Jalu. Fotografer amatiran yang jatuh cinta dengan motor bebek Honda tahun 70-an.Dia suka menjelajah pasar-pasar tradisional jogja, dan nongkrong disitu semalaman. Kali pertama saya menebak kegiatannya itu untuk hunting foto-foto bertema Human Interest. Karena sosok Jalu yang saya pahami pada waktu awal adalah seorang petualang humanisme. Dia membaca buku-buku filsafat dan penggila puisi. Tapi setelah saya tahu lebih banyak mengenai dia, barulah saya mengerti bahwa Jalu tak sekedar fotografer human interest, tapi dia adalah pencerita visual yang benar-benar serius.
Jalu tak sekedar merekam gambar-gambar dari lalu-lalang pasar itu. Dia membuat plot atas sebuah peristiwa. Menata baris-demi baris wajah dan rasa didalamnya, lalu menjadikannya prosa visual yang benar-benar bercerita. Puluhan bahkan mungkin ratusan malam sempat saya habiskan bersama petualangannya.
Jalu pendiam. Meskipun matanya nanar bergejolak. Dia tak suka banyak berceloteh. Namun dia akan tertarik sekali jika mendekat pada keriuhan obyek. Bergaul dengan dia membuat saya benar-benar dibawa pada suasana paradoksal yang sambung menyambung. Diam dalam ramai. dan Sunyi dalam riuh.
Dan hari ini kami bertemu. Agak berbeda. Dia lebih rapi sekarang. Meskipun masih menggemari mengenakan kaos hitam dan rambut gondrong, namun hari ketika kami bertemu Jalu terkesan necis. Kami berbincang panjang lebar mengenai berbagai hal. Jalu sedikit berubah. Meskipun matanya masih nanar, tapi sifat “diamnya” masih melekat. Meskipun sekarang seringkali dia tutup dengan banyak tertawa.
Jalu bercerita, bahwa dia sedang menjalani profesi sebagai fotografer produk dan model. Pertama kali saya terkejut. Saya pikir lingkup fotografi yang digelutinya masih sama, human interest. Hingga beberapa jenak sebelum dia berkisah tentang profesinya sekarang, saya menyangka jangan-jangan fotonya pernah mampir di National Geographic.
Dia berganti jalur. Sekarang lebih banyak menekuni foto-foto untuk konsumsi produk Iklan dan model. Tentu jalu menikmati. Itu terlihat dari romannya. Yang saya yakin, ada satu hal yang tetap ada di setiap karya Jalu. Yaitu intensitas pesan dalam fotonya. Meskipun yang difoto dia adalah wanita-wanita cantik dengan busana minim, saya melihat bahwa dia tak menawarkan sebuah tontonan vulgar. Saya justru menangkap, bahwa jalu tengah melukis sebuah kisah tentang sang model. Tentang psikologi dia, perasaan dia sebagai manusia dan profesinya, dengan motif dan garis yang abstrak. Jalu sedang membuat novel visual. Sama seperti dulu.
Itulah yang saya cerna, ketika dia mengirimkan hasil karyanya malam ini melalui surat elektronik.
![]()