
alan di Jakarta sudah senyap. Saya memacu kendaraan dengan menahan dingin malam yang menembus jaket. Mungkin jam sudah menunjuk kearah pukul 00.00 atau barangkali juga sudah lepas tengah malam. Melintasi perempatan kuningan terlihat beberapa Polisi sedang berhadapan dengan seorang pengendara motor. Tak jelas apa yang mereka perdebatkan. Saya hanya tersenyum kecil dengan terus memutar gas motor melaju.
Lampu merah menghentikan saya di persimpangan Slipi. Beberapa kendaraan – mobil dan motor – sepertinya tak mempedulikan nyala lampu. mereka melabas meski di depan ada sebuah sepeda motor yang hendak menyeberang.
Saya kembali tersenyum dan mendenguskan napas. Apalagi ketika dari arah belakang saya sebuah mobil patroli polisi pun melakukan hal yang serupa dengan kendaraan yang melanggar lampu merah tadi, saya menggeleng-gelengkan kepala.
Rupanya, malam hari memang saat yang paling mudah dan aman untuk melumpuhkan tiap aturan di jalan raya. Apakah ini sudah “kewajaran” atau memang mental disiplin yang sudah tipis.
Sesampainya di rumah saya terhenyak.
Saya jadi teringat beberapa hari yang lalu. Di tanggal-tanggal akhir Desember (tepatnya saya lupa) harian Kompas memuat dua surat di halaman surat pembaca yang muatannya kurang lebih sama. Keduanya menjabarkan keluhan-keluhan di jalan raya .
Yang pertama adalah kejadian di Jambi. Saat sebuah truk melintas di jalan raya lintas Sumatera, beberapa orang polisi menghentikannya. Truk itu membawa buku-buku yang hendak disumbangkan di beberapa daerah tertinggal. Diceritakan dalam surat itu, pak polisi akhirnya menahan truk dan meminta tebusan Rp.200.000 apabila kendaraan tersebut hendak meneruskan perjalanan. Sopir dan awaknya sempat berdebat Bahkan mereka sempat menelpon kantor induknya di Jakarta untuk menjelaskan kepada polisi bahwa apa yang mereka angkut adalah barang-barang legal dan ditujukan untuk urusan sosial. Sayangnya polisi tetap tak menggubris dan bersikukuh meminta uang tebusan.
Kejadian kedua yang diterakan disurat lain dalam halaman itu lebih menggelikan. Seorang ibu diberhentikan Polisi di jalan rayadi Jakarta (tempatnya saya lupa) ketika sedang terburu mengejar waktu dengan mobilnya. Laju mobil kendaraan sang ibu masih dalam kondisi wajar. Seorang Polisi dengan sigap menghampirnya dan menyakan surat-surat kelengkapan mobil. Sang ibupun menyerahkan surat-surat tersebut meski masih dalam keadaan bertanya-tanya : kenapa ia di berhentikan. Dengan alasan yang tak jelas, polisi itu berdebat dengan sang ibu. Kemudian Polisi mengatakan kalau ia mencurigai plat nomor mobil sang ibu yang disangkanya dicat ulang. Sang ibu tak terima dengan alasan itu. Dia merasa terganggu karena diberhentikan saat dia sedang terburu-buru, dengan alasan yang seakan “dibuat-dibuat” lagi. Sebab, sewaktu diperiksa ternyata plat nomor mobil tersebut masih dalam kondisi utuh dan normal, tidak ditemukan bekas-bekas manipulasi.
Mereka beradu mulut. Polisi tersebut kemudian geram dan meninggalkan sang Ibu dengan meninggalkan pesan bahwa dia sedang menjalankan tugas yang didasari dengan praduga tak bersalah. Entah dimana korelasinya. Karena sang Ibu tetap menolak segala alasan-alasan iu, diapun berujar hendak melaporan polisi tadi ke kantor polisi, sang Polisipun berteriak menantang menyilahkan sang Ibu melaporkan dengan menambah kata-kata pembelaan “Bahwa dia adalah keponakan Kapolri”.
Saya terkekeh membaca itu. Sudah amburadulkah keadaan hukum di negeri ini. Kejadian yang saya alami tadi dijalan ditambah dengan penuturan orang lain melalui surat di Harian Kompas, membuat saya miris. Jangan-jangan negeri ini memang sudah menyiapkan diri untuk merintis hukum rimba. Aparat keamanan yang sewenang-wenang dan sangat bertentangan dengan motto merekan untuk melayani masyarakat dengan baik.
Seperti menebak, duluan mana ayam dan telur, kejadian-kejadian di jalan raya menjadi sulit di terka siapa yang salah. Polisi atau masyarakat atau jangan-jangan sistemnya. Orang melanggar aturan dijalan, polisi melakukan pemerasan di sebalik topeng “tugas”, lalu semuanya mafhum dan tanpa ada tindakan yang serius denganhal-hal tersebut.
Barangkali negeri ini memang sudah kacau. Namun apakah akan terus dibiarkan. Kita terus memberi fokus yang intens terhadap masalah-masalah besar, seperti korupsi dan pengurasan aset negara. Namun terlupa terhadap perkara sepele tapi menyesakkan dada disekeliling kita. Kebanyakan lupa, bahwa untuk menyelesaikan problema besar musti mengikis masalah kecil dulu.
Dan ketika yang kecil itu disepelekan, dia seperti bola salju yang menggelinding. Dilereng gunung nanti bola tersebut tidak akan indah lagi, gelindingannya adan meraksasa dan mengobarkan malapetaka.
Saya merinding. Malam makin berlari mengejar pagi. Sambil menghela napas saya beranjak ke ranjang untuk tidur sembari berharap, malam ini akan mendapatkan mimpi: tentang negeri diawan yang dilukiskan Katon Bagaskara atau negeri senja yang pernah diceritakan Seno Gumira Ajidharma.