Prajurit Terakhir
alam begitu sentimentil di sini. Sewaktu jarum jam mulai mengarah ke angka dua belas, kampung ini seperti daerah tak berpenghuni. Hanya ada derik jangkrik dan sesekali lengkingan binatang malam yang tak jelas jenisnya.
Ya, saya sekarang berada di sebuah tempat yang menawarkan keheningan yang luar biasa. Jika suatu saat anda berkesempatan untuk tinggal di daerah pedalaman, maka malam akan menjadi hal yang menakjubkan. Seperti yang saya rasakan sekarang.
Ini sekedar berbagi. Nama kampung tempat saya menulis catatan ini adalah Jayaloka, terletak sekitar 60 km dari Kota Lubuklinggau Sumatera Selatan. Jika ditempuh dari Kota Palembang, tentu saja melalui perjalanan darat, akan memakan waktu 8-9 jam. Dengan medan yang berat karena dipenuhi jalur berlubang serta kubangan lumpur jika hujan deras mengguyur.
Tapi jangan salah menyangka bahwa Jayaloka adalah tempat yang terjauh dari “peradaban” dikarenakan letaknya. Justru inilah yang membuat berdecak. Meskipun dikelilingi hutan belantara, dan perkebunan karet, bangunan-bangunan disini tak kalah megah. Banyak Rumah Toko (ruko) yang berjejer di tepi kanan-kiri jalan utama, dengan interior yang tak kalah modern dibanding ruko-ruko di perkotaan kecil negeri ini.
Tapi bukan itu yang menjadi perhatian saya datang kesini. Ada hal lain yang menarik hati, tentang asal muasal dirintisnya daerah ini.
Cerita singkatnya kurang lebih begini,
Tahun 1956, kawasan ini masih rimba yang ganas. Jalan akses memang ada, hasil peninggalan Belanda. Itupun kecil menyusur hutan. Arahnya menuju beberapa kilang minyak sisa masa kolonial yang ada di tengah belantara. Di bulan Oktober tahun tersebut, serombongan tentara dari Jawa datang untuk membuka hutan sebagai lokasi hunian baru. Dari sebuah catatan yang berhasil saya dapat di tambah penuturan pelaku sejarah waktu itu, para tentara itu adalah pejuang-pejuang revolusi kemerdekaan yang tak bisa bergabung dengan Tentara Nasional struktural masa itu karena masalah-masalah yang belum jelas.
Mereka rata-rata berasal dari Jogja dan seputaran Jawa Tengah. Karena tereliminasi dari penyaringan anggota Angkatan Bersenjata, maka oleh Pimpinan puncak Tentara dan Instruksi Presiden Soekarno, diberangkatkanlah ribuan pejuang itu ke pelosok. Ini adalah salah satu upaya pemerintah membuka daerah baru, melunaskan program penyebaran penduduk Jawa yang sudah padat kala itu. Karena mempertimbangkan jasa-jasanya terhadap negara, kepada ribuan pejuang tersebut disematkanlah gelar Laskar Soekarno sebagai bentuk identitas. Barangkali ini sebagai pelipur supaya mereka tak merasa terdepak. Diterangkan bahwa laskar tersebut, berada di bawah garis struktural Tentara Nasional, serta di letakkan sebagai prajurit cadangan yang setiap saat bisa dipanggil kembali jika negara membutuhkan.
Saya mendapat keterangan ini dari sebuah buku “stensilan” yang memang dibekalkan kepada setiap tentara yang berangkat membuka hutan itu sebagai buku saku. Sayangnya, saya gagal menyusuri kebenaran isi dari buku ini. Karena sudah berpindah tangan dan digandakan selama dua generasi. Keotentikannya memang dipertanyakan.
Anehnya, setelah saya melakukan wawancara dengan pelaku sejarah yang ketika saya pertama kali datang, masih hidup, ada misteri terselubung dalam proses migrasi para tentara itu. Pelaku yang tinggal tersisa dua orang itu, menyakini bahwa maksud boyongan mereka ke tanah Swarna Dwipa ini bukan proses hijrah biasa. Mereka seakan di beri amanat luhur oleh Sang Pemimpin Besar Revolusi, Soekarno, untuk membangun Jakarta Kedua. Desas-desus tentang sumber daya alam berlimpah yang berkemungkinan sebagai soko guru ekonomi negara, menjadi isu yang mengalir dari mulut ke mulut. Kedua prajurit tua itu juga menuturkan, bahwa secara implisit sebenarnya Soekarno ingin melacak kembali sumur-sumur minyak peninggalan belanda untuk dimanfaatkan sebagai penyokong ekonomi nasional ke depan. Memang sekarang terbukti, bahwa di kawasan yang mereka buka, sudah di eksplorasi ladang-ladang minyak, serta gas alam. Disamping potensi perkebunan karet serta sawit yang hasilnya sangat signifikan terhadap penghasilan masyarakat juga pendapatan daerah.
Dengan terbata-bata kedua orang pejuang itu melanjutkan kisahnya kepada saya. Dalam hati kecil, pasukan cadangan itu berharap, suatu saat mereka akan dipanggil kembali oleh negara. Sebagai patriot, gelora cinta bangsa sulit padam untuk mempertahankan kemerdekaan dan turut andil membangunnya. Tapi mereka tak bisa berbuat apapun selain menunggu, sambil terus menerobos hutan membelah pepohonan berdiameter raksasa lalu meretas pemukiman baru. Mereka rela meninggalkan senjata dan menukarnya dengan cangkul, golok serta sungki. Mewujudkan Jakarta Kedua sebagaimana yang pernah didengungkan petinggi-petinggi mereka di Jawa. Sekumpulan mantan gerilyawan itu berusaha utuh dan tulus mengabdi, membuktikan kesetiaan kepada Putra Sang Fajar juga ibu pertiwi. Mereka menghibur diri, bahwa inilah perjuangan dalam bentuk lain, disamping angkat senjata dimedan laga.
Hutan terbuka, rumah-rumah dari kayu rimba berderet. Jalan-jalan mulai layak dirambah. Lalu Soekarno datang untuk menginspeksi sekaligus meresmikan desa baru tersebut.Sang Proklamator lantas memberi nama bekas hutan itu dengan sebutan Jayaloka. Diambil dari bahasa sansekerta yang berarti Taman Abadi. Dengan kepala kerbau yang di tanam di perempatan jalan besar menuju kampung baru, Soekarno memberi perlambang serta harapan, bahwa kelak daerah anyar ini akan berkembang subur serta makmur. Jejak peresmian tanah baru ini terekam dalam beberapa lembar foto lusuh yang sengaja dikoleksi oleh narasumber yang saya temui. Mereka begitu bangga memasang gambar-gambar itu pada album coklat yang sudah menciut.
Namun lain halnya dengan dugaan para tentara. Mereka pikir setelah daerah baru itu siap huni, rombongan akan ditarik ke Jakarta untuk bergabung dengan teman-teman tentara yang lain. Hingga mobil Fiat Bung karno beranjak dari Jayaloka, harapan mereka tak pernah terjawab sempurna.
Di kemudian hari, setelah Bung Karno wafat, mereka baru sadar tentang maksud yang sebenarnya. Saat orde baru berkuasa, mulai kentaralah bahwa ternyata para pejuang ini memang “terbuang”. Harapan untuk di panggil kembali, berjuang sebagai tentara yang resmi pupus sudah. Disusul dengan susahnya mereka mengurus surat-surat ke-veteran-an, dengan nama laskar soekarno yang masih melekat membuat lengkap penderitaan mereka. Jelas, di masa Soeharto, segala sesuatu yang berbau Soekarno akan disingkirkan. Desa yang sudah terintis, terkucil dari distribusi pembangunan. Jalan-jalan tak terawat, hingga berlumpur. Juga begitu susahnya mengurus perangkat administratif seperti pembuatan KTP dan surat-surat lain.
Beruntung, setelah jaman berganti, dan reformasi bergulir semuanya berubah setahap demi setahap. Apalagi saat Megawati berkuasa, fasilitas sosial dibangun bagus, kesulitan-kesulitan administratif tertanggulangi. Mungkin karena Megawati tahu, bahwa yang bermukim di wilayah Jayaloka itu adalah laskar bentukan bapaknya yang sekaligus pengikut setia sang Penyambung Lidah Rakyat. Ini dugaan saya.
Malangnya, surat ke-veteran-an yang mereka tunggu sebagai bukti kebanggaan diri serta keluarga bahwa mereka pernah mati-matian membela negeri ini tak kunjung turun dengan mudah. Memang, sebagian kecil dari para pejuang itu mendapatkan lembar kepahlawanan tersebut, meski itupun dengan kesukaran yang luar biasa. Cara yang diambil kebanyakan dengan “berbohong” dan sarat siasat. Semuanya demi secarik kertas pengakuan atas darah yang pernah terpercik untuk negeri yang begitu mereka cintai.
Seiring waktu, satu per satu dari mereka wafat. Dan ketika menulis catatan ini, saya baru menghadiri pemakaman pejuang terakhir yang tersisa. Semenjak tahun 2005, saya hilir mudik ke tempat ini untuk membuat film dokumenter dengan tema cerita Jakarta kedua itu. Pada akhirnya banyak nilai yang saya dapat untuk direnungkan. Saya banyak belajar untuk memahami, bahwa negara tak selalu baik kepada rakyatnya, pun kepada para pejuang yang telah membelanya habis-habisan.
Tak ada referensi formal tercatat yang bisa saya temukan. Ketika mengonfirmasi cerita-cerita ini dengan berbagai pihak terkait, saya pun harus rela kembali dengan tangan hampa. Terlampau banyak yang menutupi informasi ini, entah karena apa. Sewaktu berselancar di dunia maya, saya juga tak berhasil menemukan sesuatu yang berhubungan dengan kisah ini. Hanya buku usang “stensilan” dan catatan tangan hasil wawancara dengan pahlawan-pahlawan itu, yang menjadi saksi tentang perjuangan dan penantian mereka.
Awalnya saya sedemikian menggebu untuk merampungkan film dokumenter ini, tapi sekarang tidak lagi. Di samping karena berbagai faktor yang saya anggap “kurang” dan sumber formal yang terbatas hanya pada buku kisut hasil fotokopi, akhirnya saya memutuskan untuk berubah haluan. Saya hanya akan menyimpan video-video ini, menjadi kenangan. Biarkan waktu yang menjawab. Tak ada lagi penyaksi peristiwa, tempat saya bertanya, karena orang terakhir yang diandalkan telah berpulang menghadap Khalik. Saya sadar dan berusaha berdamai dengan idelisme, bahwa membuat karya yang berhimpitan dengan sejarah, memang bukan langkah yang gampang. Banyak faktor harus dipenuhi, jika tidak maka akan terlampau banyak orang akan tertipu oleh informasi tak tuntas. Apalagi di negeri ini, antara sejarah, kepentingan politik dan logika hikayat sosial sering kurang akur.
Ditambah, saat berbincang sejarah yang berkaitan dengan Bung Karno, salalu saja dikitari oleh tutur tambahan yang tak jauh dari aroma mistis, bias pengkultusan juga pendar klangenan generasi tua.
Sekarang, tumpukan kaset mini DV itu menemani saya. Menghabiskan malam sentimentil yang sunyi senyap, Meskipun, lampu jalan terang benderang, dan beberapa bangunan terlihat kokoh menantang. Tak ada orang melintas, seperti ada kesedihan yang melawat, atas pemakaman pahlawan terakhir, sore tadi.
![]()




