Skip to content

Empat Malam

15/05/2010

I.

di jalanan, subuh berjingkat

gelembung tawamu nempel
di ujung-ujung palem
seberang kursi rotan,
sebalik rerimbunan
huruf-huruf tercecer
sisa semalam, aku tahu
tidak ada kesimpulan karena
diam adalah perdebatan

kau pamit mencari doa
lantas berbisik,
“Tuhan sedang bercinta”

***

II

dahulu, bebatuan bisa bicara
pada alang-alang dan telapak kakiku
waktu lewat, mereka bercanda
menawarkan lelucon, tentang ringkikmu
yang menyandera, berbulan-bulan

setelah sepuluh tahun itu,
mereka rontok ambles menghitam
menyimpan separuh senyummu di sela
plastik dan perca rongsokan

di kakiku yang menua, lantas melenguh
“Sekarang, giliran kami bercinta”

***

III

Masih ada yang menghentak
saat kau hentikan obrolan
dan mengajakku jalan
nelusur pematang
menganyam kenangan

mata sembab, gerimis putus-putus
aku bisa lihat, ada sepi nangkring
di sela rambutmu
memanjang berwarna keperakan
aku ingin meraihnya, kau bilang jangan
katamu memohon,
“aku pernah bercinta dengannya”

***

IV

Aku masih gagap menerjemahkan
sobekan almanak di dinding kamar
warnanya jadi coklat
tak ada lagi catatan pematang
mengular dengan aksara yang buyar

Mungkin kau sedang menikmati
bercengkerama dengan tuhanmu
atau sibuk memutar waktu
kembali ke jalan itu
lalu bercanda dengan batu-batu

lupakah ? masih ada sisa
di bangku rotan, ujung malam
ringkik itu, julur perak sepimu
dan bisikan tentang Tuhan memilu

harus kukabarkan,
sekarang, mereka akrab denganku
duduk bersama, menunggu pagi membeku

Kuala lumpur – Jakarta, 11 Mei 2010

From → Poetry

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.