Empat Malam
I.
di jalanan, subuh berjingkat
gelembung tawamu nempel
di ujung-ujung palem
seberang kursi rotan,
sebalik rerimbunan
huruf-huruf tercecer
sisa semalam, aku tahu
tidak ada kesimpulan karena
diam adalah perdebatan
kau pamit mencari doa
lantas berbisik,
“Tuhan sedang bercinta”
***
II
dahulu, bebatuan bisa bicara
pada alang-alang dan telapak kakiku
waktu lewat, mereka bercanda
menawarkan lelucon, tentang ringkikmu
yang menyandera, berbulan-bulan
setelah sepuluh tahun itu,
mereka rontok ambles menghitam
menyimpan separuh senyummu di sela
plastik dan perca rongsokan
di kakiku yang menua, lantas melenguh
“Sekarang, giliran kami bercinta”
***
III
Masih ada yang menghentak
saat kau hentikan obrolan
dan mengajakku jalan
nelusur pematang
menganyam kenangan
mata sembab, gerimis putus-putus
aku bisa lihat, ada sepi nangkring
di sela rambutmu
memanjang berwarna keperakan
aku ingin meraihnya, kau bilang jangan
katamu memohon,
“aku pernah bercinta dengannya”
***
IV
Aku masih gagap menerjemahkan
sobekan almanak di dinding kamar
warnanya jadi coklat
tak ada lagi catatan pematang
mengular dengan aksara yang buyar
Mungkin kau sedang menikmati
bercengkerama dengan tuhanmu
atau sibuk memutar waktu
kembali ke jalan itu
lalu bercanda dengan batu-batu
lupakah ? masih ada sisa
di bangku rotan, ujung malam
ringkik itu, julur perak sepimu
dan bisikan tentang Tuhan memilu
harus kukabarkan,
sekarang, mereka akrab denganku
duduk bersama, menunggu pagi membeku
Kuala lumpur – Jakarta, 11 Mei 2010
![]()




