Skip to content

Surrogates dan Obrolan Kita

19/11/2010

( Based from My twitter note, @eriksupit)

etiap pagi, saya tegerak untuk Belajar dengan orang-orang didunia maya. Alam yang kompleks, riuh serta dinamis.  Ibarat melihat kerumunan yg silih berganti,saya mengintip di sebalik kode-kode pada papan monitor. Diam, menyaksikan timeline bergerak dengan ajaib, melihat berbagai pembicaraan, saya makin tahu, dunia ini sungguh beragam. Ketika mengaja huruf-huruf itu, menerjemahkan obrolan yang hening, tapi bersahutan, otak sayapun tak henti-hentinya berusaha menafsir, tentang apa gerangan yang diperbincangkan itu. Interaksi dunia maya, tak sekedar tegur sapa sederhana, tapi sudah masuk dalam area perhelatan yang akrab juga serius .

Melipat jarak, waktu dan kalimat, memaksa seseorang untuk lebih cerdas meraih maksud. Barangkali juga mereka-reka suasana hati penulis didinding dunia maya itu.

Sebut saja ini revolusi komunikasi, yang pasti,  tanpa sadar kehidupan dunia cyber,tidak lagi maya, dia sudah nyata dan masuk dalam kebutuhan. Beberapa teman saya tanya, mereka bilang, lebih baik lepas kesempatan nonton TV daripada berpisah dengan blackberry. Lalu yang lain juga menjawab, tiba-tiba saja menjadi gelisah dan bingung jika koneksi intenet putus atau bermasalah, termasuk saya.

Anggaplah semuanya adalah kedahsyatan teknologi yang berusaha memberi jawab atas kompleksitas dunia nyata yang kian membuncit. Saya tidak menyejajarkan kebutuhan komunikasi cyber tersebut setara dengan kebutuhan akan sandang, pangan atau papan, Namun setidaknya dia lebih tinggi ketimbang keinginan orang untuk mengunjungi bioskop dan menikmati film didalamnya.

Meski belum banyak yang tercebur dalam “alam digital” ini, tapi melihat kecenderungan dunia nyata yang makin sesak, tidak menutup kemungkinan, kedepan cyberworld akan benar-benar menjadi real world, minimal “perwakilan dunia nyata”.

Seperti sifat dasar manusia pada umumnya, awalnya adalah melanjutkan “rasa ingin tahu”,  kemudian “menggalang alternatif solusi”, akhirnya menjadi “pilihan dimensi”. Masyarakat kota besar yang banyak mengalami kesulitan mobilitas fisik karena sempitnya ruang interaksi intens, menjadi pelaku pertama. Tapi itu baru awal. Lalu sewaktu interaksi maya ini sudah bulat menjadi sebuah pilihan baik, tentu akan menyebar ke segala penjuru. Saya jadi ingat film Surrogates, yang mengisahkan kehidupan ganda yang bertukar peran. Semua org menyerahkan segala aktifitasnya pada robot.

Orang-orang duduk dan tidur dirumah, mengendalikan robot-robot mereka masing-masing, untuk ngantor, bersosialisasi bahkan bercinta. Hanya Bruce Willis yang berperan sebagai Tom Greer yang gelisah. Meskipun dia sendiri memelihara “imitasi dirinya” tapi tak sepenuhnya nyaman. Pergaulan ditengah keluarganya menjadi asing serta palsu. Pada suatu kesempatan, dia menemukan alasan kuat untuk lebih membenci dunia ganda itu.

Terjadi sebuah pembunuhan, dan Greer menyeledikinya, tentu saja bukan dia secara fisik yang turun tangan, tapi tiruannya, sang robot. Merasa tak puas, setelah lama berkutat dgn kasus pembunuhan pelik tersebut, Greer mulai berpikiran bahwa robot tiruan dirinya malah memperlemah kemampuannya. Dengan segera dia melepas peran sang robot lalu melanjutkan pengungkapan kasusnya dengan jatidirinya yang sesungguhnya. Menelusur kasus ala manusia seutuhnya.

Diujung film, Greer berhasil membuktikan bahwa, dunia tiruan digital tak sepenuhnya efektif mengadopsi kemampuan manusia. Ada sindiran yang cukup mengena saat menonton film karya sutradara Jonathan Mostow ini, yang “nylekit”. Dimasa ketika banyak hal terkait dengan kehidupan virtual, kehidupan nyata dipermudah, berduyun-duyun orang masuk, tapi keasingan tiba-tiba muncul. Pada awalnya adalah membuat jembatan untuk mempermudah, tapi ditengahnya justru banyak yg terjebak dan sukar meloloskan diri.

Hidup dalam tameng avatar dan huruf-huruf berjajar kemudian terbelenggu didalamnya, tentu ini sangat tidak diharapkan. Memang terlalu berlebihan jika kecenderungan komunikasi virtual yang mewabah diarahkan seperti film Surrogates tadi. Dimana kemajuan teknologi menjadi tragedi yang akhirnya memperbudak manusia dengan cara yang sangat literal. Karena tentu film  Hollywood itu bukan cermin yang enak, bohongnya terlalu keren untuk dijadikan proyeksi kehidupan.

Apakah jejak virtual kita akan sampai pada level surrogates seperti gambaran film itu atau tidak, itu bukan pertanyaan yang indah jika dijawab sekarang. Yang pasti, pada alam virtual, kita telah memasukinya, bergaul didalamnya, luruh hingga cenderung tergantung. tapi itulah jalan harapan. Harapan untuk mempermudah hidup, mencari solusi ditengah susahnya komunikasi intens secara fisik, dan merintis lahan baru untuk bercengkerama.

Dunia virtual dan keriuhan didalamnya, bukan lagi ruangan sebelah menyebelah, tapi sudah menjadi kotak baru kita, membentuk puak, sesadar-sadarnya. Welcome To The Jungle !!!

Advertisement

From → Essay

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.