Prajurit Terakhir
alam begitu sentimentil di sini. Sewaktu jarum jam mulai mengarah ke angka dua belas, kampung ini seperti daerah tak berpenghuni. Hanya ada derik jangkrik dan sesekali lengkingan binatang malam yang tak jelas jenisnya.
Ya, saya sekarang berada di sebuah tempat yang menawarkan keheningan yang luar biasa. Jika suatu saat anda berkesempatan untuk tinggal di daerah pedalaman, maka malam akan menjadi hal yang menakjubkan. Seperti yang saya rasakan sekarang.
Katepe
etiap kali hendak meninggalkan Jakarta, saya dihadapkan pada sebuah pernyataan, “saatnya meninggalkan Indonesia !”. Ini bukan catatan tentang perjalanan ke manca negara, saya hanya akan kembali memasuki rimba sumatera dan berdiam sementara waktu disana. Dan di kampung pedalaman tanah andalas itu, nyaris ada satu benda yang begitu dicari di Jakarta, tapi tak berguna lagi disana. Benda itu disebut KTP.
Bukan bermaksud melecehkan, tapi KTP di kampung saya memang hampir tak berfungsi. Orang-orang mengantri di kantor kecamatan untuk membuat perangkat identitas itu, sepertinya hanya demi formalitas. Setiap kali dirasa habis masa berlakunya, mereka berduyun-duyun untuk mendapatkan lembaran itu kemudian pulang dengan senyuman dan meletakkannya di almari pada tumpukan baju paling bawah. Begitu setiap tahunnya. Saya sering bertanya-tanya sendiri, seberapa pentingkah barang itu ?




