
even today, peace in the Kingdom of Heaven remains elusive.
idley Scott membayangkan sebuah perdamaian yang Indah di Yerussalem. Dalam Kingdom of heaven yang di buatnya tahun 2005 dia menaruh harapan yang muluk untuk sebuah semangat cinta kasih di tanah sengketa itu. Sebuah cerita yang relatif jujur ketimbang film-film hollywood lain mengenai perang salib. Saladin yang bijak diletakkan bukan sebagai momok, disaat dunia barat sedang berat sebelah mengkisahkan dunia Islam. Dan Balian, sang panglima perangpun, tak di taruh sebagai malaikat yang selalu putih.
Menonton kembali Kingdom of Heaven saya resah. Ada kegagalan yang fatal masuk ke dalam perasaan. Tidak seperti 3 tahun silam, saat pertama kali menikmati film ini. Belakangan, setelah berita televisi dan headline koran kerap diisi oleh drama penyerangan pesawat tempur Israel ke Gaza dan menelan ratusan korban, saya miris luar biasa.
Bukan hal yang melegakan jika mata kita ditunjukkan gelimangan tubuh tak lengkap berserakan porak-poranda akibat dentuman bom. Hati siapapun akan merintih begitu menyaksikannya. Saya seperti diletakkan di ruangan tanpa pilihan. Dibagian bumi yang lain, nyawa begitu murah dan terhambur dengan alasan “kebenaran”.
Saya mengingat kembali beberapa adegan dalam fim Kingdom of Heaven, ketika semuanya ricuh tapi hati masih dingin. Prajurit yang berbaris dibawah kibaran umbul-umbul keagamaan. Wajah-wajah suram menghias panasnya gurun tandus jazirah arab yang garang. Tentara kristen yang mempertahankan benteng terakhir yerussalem, berharap-harap cemas. Apakah Saladin yang diujung sana mengatur siasat akan benar-benar meluluhlantakkan negeri yang sudah mereka rebut dengan darah itu.
Balian-sang panglima-terus menerus mengobarkan semangat untuk terus berjuang dan bertahan. To kill an infidel is not a murder, it is the path to heaven!”. begitu ujaran yang bergelora dalam batin masing-masing prajurit. Meskipun lirih dan perih, dengungan itu berusaha mereka serap, dan menghapus segala rasa takut dari pelupuk mata.
Dari sisi Saladin, kekalahan masa lalu pasukan Islam rupanya menjadi bekal untuk memupuk tenaga guna merebut kembali tanah dimana tiga agama samawi itu tumbuh dan besar. Saladin yang membawa puluhan ribu pasukan berkeinginan kembali menduduki Yerussalem sebagai basis budaya agama dan basis sejarah.
Kedua kubu, sama meneriakkan titah Tuhan untuk menguasai tanah yang dijanjikan dalam versi kesadaran Yahudi. Barangkali Ibrahim akan menangis jika ada di kerumunan itu, begitu juga Musa, ISa dan Muhammad SAW. Sungguh suatu hal yang memilukan, apabila teriakan suci berupa doa-doa, dijadikan bahan bakar bagi mesin pembunuh.
Dibagian akhir kisah itu, muncul sebuah “jalan keluar” yang sungguh luar biasa. Ketika pasukan Nasrani goyah dan patah akhirnya Saladin menawarkan jalan perdamaian dengan berjanji tak akan melukai warga dan pasukan kristen lalu merangkul mereka dengan kedamaian. Balian sepakat, baginya dan mungkin seluruh prajurit perang saat itu, pertempuran ini adalah peristiwa yang mubadzir dan bukan lagi sebuah metode penyelesaian yang bijak. Ini bukan lagi pembelaan Tuhan, ini politis, peraihan kekuasaan dan kekayaan. Kedua kubu berusaha menyadarkan diri bahwa sangat naif apabila menjadikan penggilingan nyawa manusia ini sebagai ruang diskusi yang wajar untuk alasan kebenaran.
Semua yang bertikai di Palestina harus bercermin. Saya rasa Israel yang mendengung-dengungkan perburuan Musa tentang tanah yang dijanjikan, dengan menggelar pentas kekerasan di Palestina patut dikutuk. Mereka sebaiknya diminta mengartikan ulang arti kata survival for the fittest yang pernah darwin bilang. Atau bercermin dengan segala ajaran Musa yang menentang pembunuhan.
Tapi kita tak bisa berharap terlalu banyak. pertikaian itu terjadi dari sebab musabab yang teramat kompleks dan menempuh sejarah yang panjang. Kita tak mampu lagi berharap adanya orang-orang dimedan laga yang masih punya nurani seperti Saladin atau Balian. Ketika zaman tak lagi melahirkan orang-orang seperti itu kita hanya mampu berdoa dan berteriak dari kejauhan : agar setiap kekerasan bisa dihentikan.
” First, I thought we were fighting for God, then, I realized.We were fighting for wealth and land,
I was ashamed!” By Raymond III of Tripoli (Tiberias)
![]()

agaimana mengartikan pergantian tahun jika selang gulirnya hari saja kita tak sadar ? Saya kembali terhenyak. Di Jakarta ini waktu berlari seperti angin, tak tampak dan misterius. Orang-orang berduyun mengais nafkah mulai pagi buta. Berdesak-desakan diantara kerumun lalu lintas kota yang sibuk. Melintas di jalan-jalan padat dan berseliweran tak sabar menunggu lampu merah berganti hijau. Dan kita semua tak sadar, bahwa ketika melakukan itu detik yang bertambah semakin tak teraba dan maya.