Sudut Kota

Keresahan yang menyusup saban malam, telah lumat digilas gaduh siang. Nyaris tak ada sisa. Bahkan pada sudut-sudut kota yang apak, komplotan risau harus ngumpet di kolong-kolong selokan, agar tak ikut punah diinjak beringas para pengejar harapan. Mereka bertahan hingga senja datang. Sesekali, mengendap-endap, mengintip pergerakan waktu menuju malam. Sampai benar-benar kelam. Lalu: pesta dimulai!

Persis tawon yang terusik sarang, mereka menyebar. Menghinggapi kepala dan hati orang-orang yang lelah. Menyusupkan kekhawatiran sembari meringis bebarengan. Mencibir dengan cara yang paling brengsek! Menebar kemarahan hingga kesedihan sambil berseloroh satu sama lain. Di akhir, mereka tabur wabah kesepian. Membuat orang-orang yang terpapar, jatuh tersungkur. Kalah. Lantas sujud disusul gumam, “Duh Gusti!”

Advertisements

Masih Adu Tanduk

Tak ada yang baru. Percakapan ruang publik soal politik berisi cerita yang sama. Narasinya ajeg: adu tanduk para jagoan. Membosankan. Nyaris sepi dengan topik-topik menyegarkan. Ujungnya seragam. Mengulang teriakan tentang kebesaran masa silam. Majapahit, Sriwijaya, bla-bla-bla. Apa lagi? Kenangan memang indah, sebab mustahil dialami lagi. Sesuatu yang tak terjangkau kerap lebih mudah dikemas sebagai keindahan. Menawarkan ilusi memang jitu untuk merebut simpati. Atau berdagang ideologi lampau yang sudah diusangkan zaman.

Kini masa akrobat algoritma. Kode-kode cerdas berkuasa, menyabot karsa hingga rasa. Tapi, tak sedikit orang malah lebih cemas pujaannya kalah bertanding dalam arisan lima tahunan, ketimbang terusik dengan ancaman balatentara kode digital yang tengah merombak tatanan dan memusnahkan banyak jenis pekerjaan.

Tong

Dia bisa menampung banyak hal, tapi tidak dengan umpatan. Sedangkan, hanya itu yang paling sering dialaminya. Dihajar oleh luapan kekesalan pelintas jalan yang mengutuk kesemrawutan. Terasa mual menerimanya tiap waktu. Andai berbentuk, rentetan caci maki itu pasti sudah membuatnya remuk bentuk dalam sekejap.

“Tapi aku tidak bisa berharap banyak. Bukankah ini sudah jadi tugasku? Mewadahi setiap sampah yang dilontarkan manusia? Sangat berlebihan jika menginginkan tubuhku mulus-mulus saja!” ujarnya pada tetua Semut yang asyik mengais tilas gula di kaleng bekas minuman bersoda. “Setidaknya kau tak perlu susah-susah merambat untuk mengenyangkan perut. Kau tak punya lapar. Beda denganku, juga dengan manusia-manusia itu,” timpal si tetua.

Di jalanan kota ini, hanya harapan yang tak dibuang. Lagipula, sungguh konyol apabila orang-orang melakukannya. Harapan adalah bahan bakar yang membuat mereka tetap tangguh berkelahi dengan kesulitan. “Mewah bukan?” lanjutnya. “Manusia memilikinya, sehingga tetap punya alasan untuk meneruskan hidup. Sedang aku?”.

Tetua Semut mendongak. Berkacak pinggang, “Kau terlalu banyak mengeluh! Cengeng!,” hardiknya beruntun. “Kuberi tahu sesuatu. Jika sampah-sampah itu tak kau tadahi, lantas bagaimana rupa dunia ini? Tak semua benda mau berlaku sepertimu. Juga hewan-hewan. Juga manusia. Mereka ingin serba bersih. Mau selalu suci. Kotoran adalah musuh terlaknat. Meski semua keluar dari tubuh mereka sendiri. Bukankah pada dasarnya, merekalah sumber kotoran itu? Tapi Mereka angkuh menyangkal. Dan kamu? Ya kamu! Hanya kamu yang sanggup menerimanya. Itu kemuliaanmu! Kemewahanmu!”

Keluh

Di masa-masa yang capek, dia hanya ingin merenung. Tentang petang yang selalu menawarkan resah usia renta. Atau soal jalanan yang makin penuh ancaman. Larinya tak lagi gesit seperti 20 tahun silam. Besi-besi perakitnya telah aus, berkarat menjijikkan. Sementara, dia harus melawan mobil-mobil necis bersuara halus, yang seliweran sembari mendengus, “Lu nyenggol, gua gaplok!” Menyebalkan!

Dulu dia tidak semerana ini. Masih trengginas. Raja jalanan. Idaman para perempuan yang kerap cerewet dengan naik-turun harga cabe. Dan dia menikmatinya. Dia merasa diandalkan. Apa yang lebih membahagiakan selain bisa berguna?

Masa lalu terasa indah. Sedang masa depan? Mengerikan! Dia tahu ujung nasibnya. Di luar kota, tempat tumpukan rongsok berbau badeg, adalah persemayaman terakhir yang sungguh tak dikehendakinya. “Aku ingin dipajang di museum utara kota. Kau tahu kan, tempat itu? Bagiku, itu cara terhormat untuk melapuk. Daripada membusuk dan terlupakan,” angannya suatu kali.

Tapi apa daya? Dia tak bisa melawan zaman. Waktu memang brengsek. Selalu melumat apapun untuk ditepiskan pada ketiak sejarah.

“Kegagahanku hanya akan diingat orang-orang tua yang juga akan membusuk sama sepertiku. Apes!” Lenguhnya.

Jika bisa memilih, dia ingin moksa sekarang. Melebur dengan udara, terhirup manusia, lalu mendiami benak mereka sebagai kenangan. Setidaknya, itu cita-cita lain yang didambakannya jika gagal menjadi artefak klasik penghuni museum kota. Dengan begitu, dia punya harapan untuk diingat dan didongengkan.

Kicau

Mpu Tanakung, pengarang kakawin Banawa Sekar itu, barangkali sedang bersantai di beranda pondoknya saat sekelompok burung bersahut kicau. Entah di mana hewan-hewan itu hinggap. Berisik meski tak sebising perkelahian kucing.

Untung saja, tidurnya cukup semalam. Atau, dia tak sedang terserang sakit gigi yang gampang senewen bila mendengar kegaduhan. Mpu sangat bugar, hingga iseng mengandaikan riuh kicauan seperti sekurumun manusia yang sibuk meributkan kebenaran. Saling sambar pendapat, persis laju kuda-kuda balap yang kalap selepas gencar lecutan.

Mungkin dia menerawang sembari menyungging senyum. Sedikit sinis, agak mencibir.

Jika sang Mpu hidup di masa kini, gerak-gerik tadi bisa tersurat lebih. Tak menutup kemungkinan, dia terkekeh sambil misuh bukan alang kepalang. Bukan sebab jengkel. Tapi karena geli menyaksikan kebodohan diobral, kekonyolan dipuja, kecupetan dikemas manis-manis, lalu diedarkan gratis setelah diberi label “Kebenaran”. Kemudian, sekian juta manusia bertopeng merebutkannya. Tanpa canggung, tak kenal malu.

Framing

Bisa dibilang, tak sedikit media massa melakukan “framing”. Susunan judul, pemilihan kata, hingga pengambilan sudut pandang, menyembulkan maksud itu. Condong berpihak itu niscaya. Kadarnya saja yang berbeda. Netralitas merupakan ilusi, walau mesti terus diperjuangkan.

Tak apa. Toh yang menangkap arah informasinya adalah manusia. Terdapat nalar yang mengolah, dan hati yang memilah. Sengawur apapun berita itu, bakal disaring secara alamiah. Bukankah tertanam perangkat lunak bernama akal budi?

Kalaupun ada yang gagal mengelolanya, itu risiko. Tak semua orang sudah benar-benar berhasil menjadi manusia. Entah karena dikutuk mustahil naik derajat atau baru setengah menjelma. Lho, lantas separuh yang lain apa? Mungkin balon, barangkali jengkol. Bisa jadi. Kata peribahasa, “Isi kepala dan niatan hati, siapa yang mengerti?”

Zombie

Kalau orang-orang sudah tak menghiraukan makna, gagap menangkap metafora, asing dengan sanepan juga paribasan, jijik pada majas-majas, asyik mencerabut kata-kata dari rasa, maka perbincangan apapun akan selalu sarat marabahaya. Pikiran lantas dangkal, nurani makin kering.

Apa saja yang dipercakapkan berpeluang menuai bala.