Spanduk

Kecenderungan zaman boleh berubah. Tapi tulisan-tulisan di spanduk cetak digital berisi himbauan sejumlah pemerintah daerah, masih menggunakan struktur kalimat yang sama dengan kelaziman 30 tahun silam. Membosankan. Awalannya kerapkali berbunyi, “Dengan semangat …bla…bla…bla..” atau “Dalam rangka …bla…bla…bla…”. Bedanya, kini desainnya lebih berwarna. Dan satu lagi, ada foto kepala daerah yang acap tertempel di sana, dalam gaya yang itu-itu saja. Mereka percaya diri memajang tampang, meski tak terkait dengan konteks tulisan spanduk itu. Seakan-akan hanya ingin meneguhkan, “Akulah penguasa wilayah ini. Camkan itu!” Menakjubkan. Nampaknya, mereka benar-benar memanfaatkan media itu untuk menyebar foto diri sesering mungkin, menjangkau kawasan seluas mungkin. Luar biasa. Terpujilah penemu teknologi cetak digital!

Sungkem

S​ungkem adalah tradisi menakjubkan. Saat melakukannya, kita menekuk diri, membekuk keakuan. Ritus kultural sederhana namun mengandung kecamuk yang rumit. Tentang upaya menjinakkan segala hasrat untuk mengungguli liyan, jadi pawang atas diri sendiri. Di dalamnya terselip makna, bahwa kemenangan bukanlah sesuatu yang serba megah dan menjulang. Melainkan kerelaan untuk meluruh ke bawah, merapat ke tanah, mengendus asal muasal.

Raya

Sebab yang sebenar-benarnya nyata adalah masa lalu. Sedangkan masa depan, hanyalah bentang misterius yang cuma bisa diraba dengan harapan serta doa-doa. Padahal, kesalahan dan hasrat ingin menyakiti yang telanjur terlontar, berada pada masa lalu itu! Syukurlah, kita disediakan waktu untuk meneliti segala cacat seraya meluruskan seluruh niat. Sedetik, semenit atau dalam satuan terkecil apapun. Meski sekelebat, itulah kesempatan untuk mengais ampunan demi masa depan yang akan kita sibak lewat perjuangan.

Selamat hari raya.

Rentan

Tanpa diminta apalagi dipaksa, orang-orang  mengobral kekonyolannya sendiri. Menebar aibnya sendiri. Cukup sediakan aplikasi internet berbasis media sosial dan seperangkat kesepian yang misterius, mereka bakal sukarela menelanjangi dirinya. Atas nama kebebasan berpendapat, hak berekspresi maupun curahan hati. Lihat, bukankah manusia itu rentan?

Tak perlu intimidasi belati untuk membuat mereka mempertontonkan kelemahannya.

Sekolah

Semula disebut murid, dari bahasa Arab, yang arti bebasnya adalah “pengupaya yang tekun, penggali potensi diri”. Seiring itu digunakan pula siswa, berasal dari zisya, bahasa Sanskrit, yang makna luwesnya, “orang yang diajari atau diberi petunjuk”. Kedua penamaan itu terasa anggun dan bermartabat. Namun kini berganti menjadi “peserta didik”. Tidak ada lagi kedalaman makna, berjarak, kering dan kental nuansa komersial. Barangkali, sekolah sudah mirip pabrik dan anak-anak itu disiapkan layaknya barang jualan di pasar kerja. 

Tapi, jangan-jangan begitulah kelumrahan sistem pendidikan formal masa ini. Serba dagang. Pengelolanya tak sungkan lagi untuk pasang baliho dan spanduk penerimaan “peserta didik” baru, dengan tatanan kalimat persis iklan perusahaan mencari karyawan. Mereka tak segan menawarkan fasilitas-fasilitas layanan dan akreditasi, bak iming-iming bonus pendapatan pada calon pekerja. Tak ada nilai kemanusiaan apapun yang dikemukakan disana, selain urusan laba dan niaga. Para orang tua dianggap sekadar konsumen, yang mesti dibujuk agar menitipkan putra-putrinya, untuk dipoles menjadi mesin tercanggih yang mampu memproduksi prestasi-prestasi versi mereka.

Idola

Awalnya, kaum pagan yang berbahasa Yunani, memanggil dewa-dewa mereka dengan sebutan “Eidos”. Artinya, “perlambang, perwakilan”. Seiring waktu, julukan itu berkembang menjadi “Eidolon” yang bermaksud, gambaran mental atau perwujudan batin dari kekuatan agung yang menjadi sesembahan. Bahasa Latin lalu menyerap dan menuliskannya dengan “Idolum”, bermakna perwujudan mental serta fisik dari makhluk misterius penghuni alam khayal. Sebagian juga mengartikannya sebagai hantu atau siluman.

Sebelum masuk khazanah Bahasa Inggris dan dieja “Idol” pada abad ke-13, kata tersebut mampir dulu ke masyarakat Perancis Kuno di abad 11 dalam lafal “Idole”. Pengartiannya mulai mengerucut pada berhala, arca atau patung sesembahan. Konotasinya jatuh negatif saat kaum monotheis membubuhkan arti “tuhan palsu”, sebab tak setuju dengan pelestarian sisa-sisa kepercayaan pagan di beberapa wilayah Eropa. Pemahaman ini menyebar. Arti Idol meluas menjadi, orang yang serba palsu dan tidak bisa dipercaya atau orang yang sesat iman.

Baru pada rentang 1590-an, muncul pemaknaan anyar seiring kedatangan era materialisme. Lahirlah Idol versi modern dengan aroma mistik yang sengaja dipangkas. Idol means a person so adored, human object of adoring devotion. Oleh Bahasa Indonesia, Idol diserap menjadi Idola. Dan KBBI mencantumkan arti: orang, gambar, patung dan sebagainya yang menjadi pujaan.

Tidak ada lagi nuansa “sesembahan” dalam pengartiannya. Meski saat dipraktikkan, seorang idola kerapkali dipuja secara berlebihan, nyaris seperti sesembahan.

Selfie

Swafoto atawa selfie, bukan hal aneh. Konon, di masa purba, orang mencari air untuk bercermin. Kemudian di waktu berikutnya, orang terdorong untuk melakukan hal serupa saat melintasi kaca etalase toko atau mendapati kaca mobil. Paling tidak, dia melirik ke perangkat berkaca tertentu sembari malu-malu memacak diri. Bedanya hanya pada sisi keterbukaan dan media yang dipakai saja. Dulu cenderung diam-diam menggunakan air maupun kaca, kini terang-terangan memakai kamera. Selfie adalah kewajaran yang menjadi bagian dari evolusi perilaku manusia. Sebab secara naluriah manusia gemar mengapresiasi diri sendiri. Memastikan penampilannya baik-baik saja. Selain pula, suka merekam peristiwa-peristiwa menyenangkan yang melibatkan dirinya, lalu menyimpannya sebagai kenangan.