Zombie

Kalau orang-orang sudah tak menghiraukan makna, gagap menangkap metafora, asing dengan sanepan juga paribasan, jijik pada majas-majas, asyik mencerabut kata-kata dari rasa, maka perbincangan apapun akan selalu sarat marabahaya. Pikiran lantas dangkal, nurani makin kering.

Apa saja yang dipercakapkan berpeluang menuai bala.

Advertisements

Pertimbangkanlah!

“Pertimbangkanlah!” Sergahnya pagi itu dengan raut muka keras meyakinkan. “Kita seperti bermain petak umpet dengan nasib. Tak jelas benar, kapan bakal celaka atau beruntung.”

Lalu dia duduk seraya membakar rokok yang sejak bermenit-menit lalu terselip di bibir. Setelah menyamankan letak tubuh sembari menghela napas panjang, dia melanjutkan. “Seluruh kesalahan yang pernah kita perbuat di masa lampau tetap mengintai dan siap menyeruak menggelisahkan hidup pada waktu yang tak disangka-sangka. Kapan pun, tiba-tiba saja menyerbu. Jangan kau kira hukum sebab akibat itu tahayul. Aib memang menyebalkan! Kita, sekarang ini, hanya segerombolan makhluk congkak yang sedang menunggu giliran untuk tampil dungu di tengah kepungan aib-aib itu. Saat apes datang, segala keunggulan yang pernah dibanggakan bakal tumpul. Tumbang! Maka, pertimbangkanlah! Sebab berhati-hati saja tidak cukup. Waspada saja tidak cukup. Ingat, kita berada di tengah semesta dengan permainan yang sangat misterius, dan kau tentu sudah paham, kita bukan dalang dari semuanya”

Perlente

Kalau sampeyan sempat bertandang ke sudut-sudut negeri — di luar kota besar — menggunakan pesawat udara, luangkanlah untuk iseng mendengar kalimat-kalimat ajaib dari mulut orang-orang perlente yang sibuk menelepon sesaat sebelum pesawat tinggal landas atau usai mendarat namun belum berhenti dengan sempurna.

Ada saja yang mereka ucapkan. Seperti, “Ya, dari Jakarta, ada urusan. Ah, biasa, acara rapat dengan menteri”, hingga, “…Kalau dua milyar sih dibeli saja. Tunggu saya sampai rumah, nanti kita obrolkan. Ini dari Jakarta, ketemu kawan-kawan DPR”, dan lain semacamnya. Nyenengke tenan!

Mereka orang-orang maha sibuk, sering berpenampilan bak pejabat kagetan atau makhluk kaya baru lengkap dengan perilaku “Ealaaah, bedhes!“, yang harus menelepon meski larangan diberlakukan. Pokoknya nelpon! Bahkan dengan suara yang lebih kencang dibanding dengung mesin pesawat, seperti disengaja agar didengar orang lain. Dari kelantangannya yang kerap tak wajar itu, tersirat sikap: seluruh penumpang mesti tahu, bahwa mereka adalah orang penting, paling tidak, kalangan berduit. Ini dugaan saya saja. Kalau salah, ya biasa.

Jika sampeyan pernah menemui peristiwa-peristiwa begitu, selamat, sampeyan punya cerita istimewa yang boleh dituturkan kepada anak cucu kelak, sambil berpesan: ojo gumunan, tingkahe menungso ki macem-macem. Nyebahi? Ha cen iyo! Dobol!

Letup seorang kawan kepada kawannya yang sedang membutuhkan kawan

Dia menyeringai sinis sembari menghenyakkan tubuh di samping kawannya yang tengah gundah. Katanya, “Jangan berpikir seperti orang lampau. Kau bakal salah sangka. Masa kini sungguh berbeda. Bahkan soal kekonyolan dan rasa malu sekalipun. Kau mesti tahu, batas keduanya sudah tak segamblang waktu kita ingusan. Tak ada lagi ora ilok, saru, pamali atau semacamnya. Kemungkinannya, itu semua telah raib dari kamus unggah-ungguh, atau paling tidak, sekarang makna-maknanya sudah jungkir balik. Malih rupa, ganti rasa. Orang-orang itu pun barangkali tak akan meratapi tingkah-tingkahnya yang jika di zaman sebelumnya lazim dianggap menjijikkan. Jangan-jangan, mereka malah akan menyesali, kenapa tidak lebih mengumbar lagi, lebih nekad, tega dan habis-habisan lagi. Sebab di masa depan nanti, ini kira-kiraku saja, justru laku demikianlah yang disebut jalan sukses. Kau paham, kan? Jadi, sekarang tinggal pilihanmu. Hendak ikut hanyut atau membiarkannya seraya menapak jalan sendiri yang asing dan terasingkan. Yang sunyi dan disunyikan. Jalan yang bisa memberimu kesempatan untuk membangun gubuk kecil di kesenyapan, agar bisa dijadikan persinggahan orang-orang lelah akibat terbentur-bentur hiruk-pikuk zaman dan butuh pertapaan. Karena kalau kau sok pahlawan melawan arus yang sedang dirayakan itu, lalu berkoar bak penceramah etiket yang haus perhatian, kau akan ditertawakan dalam nada cibiran yang paling menyakitkan, diperlakukan persis badut yang gagal melucu lantas dihajar lontaran botol bekas minuman kemasan”

Kepepet

Hujan yang turun sebelum petang, kerap memunculkan momok di jalanan Jakarta. Seperti beberapa hari yang lalu. Kemacetan mengular panjang di ruas-ruas utama, berlangsung berjam-jam dengan ketidakpastian masa terurai. Tapi ini bukan peristiwa baru. Bahkan sudah cenderung lumrah. Sedemikian sering terjadi, sehingga tubuh sebagian besar warga lekas menyesuaikan diri. Terutama dalam soal menahan kencing. Tak perlu pakai jampi-jampi atau lelaku kadigdayan segala rupa, mereka sudah menguasai kemampuan itu. Asalkan masih ada data internet di gawai yang bisa disedot, rasa kebelet kencing akibat kemacetan sebrengsek apapun bisa dikelabui.

Kurang tabah apa? Kurang sakti bagaimana? Bertubi-tubi terlontar pada keadaan kepepet telah membuat daya tahan manusia terlatih tangguh. Dan, bukankah demikian kelaziman hidup itu? Lepas dari satu keterjepitan untuk masuk dalam keterhimpitan yang lain. Masa jeda di antaranya, disebut kebahagiaan. Waktu untuk menghela napas, istirahat sejenak, sebelum kembali bergelut dengan kepelikan berikutnya. Hasil yang paling berbekas hanyalah ketangguhan. Sedangkan selebihnya akan berangsur amblas.

Lalu, ibarat pengalaman pada kemacetan itu, orang hanya bisa menyiasati keadaan supaya tidak hancur. Meskipun tahu, peristiwa semacam itu serupa putaran yang niscaya dilalui kembali. Cepat atau lambat, sekarang atau nanti. Anggaplah ini ketetapan alamiah. Pilihan yang tersedia adalah labrak hingga pungkasan. Sebab menyerah sekalipun tetap berbuntut risiko. Konon begitu.

Pengingat

Di beberapa tempat yang saya lewati pagi ini, lagu-lagu era 80-an masih diperdengarkan. Entah, apa saja judulnya. Saya hanya mengenali lewat iramanya yang serba mendayu, dengan syair-syair nelangsa. Sebutan sinisnya, cengeng. Padahal, lantunan semacam itu bertolak belakang dengan hawa pagi Jakarta yang sedang berderap optimistik, sebelum matahari menggarang siang nanti. Namun, jangan-jangan para penggemar lagu-lagu itu justru menganggap sebaliknya. Mereka butuh semacam kesadaran akan penderitaan, gambaran tentang kesedihan maupun kenangan buruk untuk memahami makna bahagia. Lagu-lagu itu lantas dijadikan pengingat yang melecut kewaspadaan. Berlaku layaknya alarm, sehingga mereka bersemangat dalam mengais nafkah. Siapa tahu? Masing-masing orang punya cara sendiri untuk menguatkan dirinya demi bertahan hidup.

Dangdut

Dangdut nyaris selalu menyuguhkan kesan yang jungkir balik. Iramanya mendayu, liriknya bercerita soal kesedihan serta ironi-ironi lain, bahkan kerapkali mengisahkan kesengsaraan dengan berlebihan, namun cara menikmatinya justru dengan bergoyang. Weh! Paradoks!

Tapi suka atau tidak, hingga kini,  jenis musik inilah yang relatif banyak meraup telinga dibanding jenis lain. Penikmatnya meruyak sampai ke pelosok negeri. Tak ubahnya, dangdut telah merasuk ke dalam pori-pori masyarakat, hingga memengaruhi sikap mereka dalam menjalani hidup. Seakan-akan siratan pesan dari dangdut sudah menyatu dengan keseharian, yakni, “Seberat apapun penderitaan, serunyam apapun gambaran masa depan Indonesia, sesengit apapun perdebatan konyol di media sosial, sempatkan untuk bergoyang dan mrenges bahagia, entah jujur atawa pura-pura”.