Sekolah

Semula disebut murid, dari bahasa Arab, yang arti bebasnya adalah “pengupaya yang tekun, penggali potensi diri”. Seiring itu digunakan pula siswa, berasal dari zisya, bahasa Sanskrit, yang makna luwesnya, “orang yang diajari atau diberi petunjuk”. Kedua penamaan itu terasa anggun dan bermartabat. Namun kini berganti menjadi “peserta didik”. Tidak ada lagi kedalaman makna, berjarak, kering dan kental nuansa komersial. Barangkali, sekolah sudah mirip pabrik dan anak-anak itu disiapkan layaknya barang jualan di pasar kerja. 

Tapi, jangan-jangan begitulah kelumrahan sistem pendidikan formal masa ini. Serba dagang. Pengelolanya tak sungkan lagi untuk pasang baliho dan spanduk penerimaan “peserta didik” baru, dengan tatanan kalimat persis iklan perusahaan mencari karyawan. Mereka tak segan menawarkan fasilitas-fasilitas layanan dan akreditasi, bak iming-iming bonus pendapatan pada calon pekerja. Tak ada nilai kemanusiaan apapun yang dikemukakan disana, selain urusan laba dan niaga. Para orang tua dianggap sekadar konsumen, yang mesti dibujuk agar menitipkan putra-putrinya, untuk dipoles menjadi mesin tercanggih yang mampu memproduksi prestasi-prestasi versi mereka.

Idola

Awalnya, kaum pagan yang berbahasa Yunani, memanggil dewa-dewa mereka dengan sebutan “Eidos”. Artinya, “perlambang, perwakilan”. Seiring waktu, julukan itu berkembang menjadi “Eidolon” yang bermaksud, gambaran mental atau perwujudan batin dari kekuatan agung yang menjadi sesembahan. Bahasa Latin lalu menyerap dan menuliskannya dengan “Idolum”, bermakna perwujudan mental serta fisik dari makhluk misterius penghuni alam khayal. Sebagian juga mengartikannya sebagai hantu atau siluman.

Sebelum masuk khazanah Bahasa Inggris dan dieja “Idol” pada abad ke-13, kata tersebut mampir dulu ke masyarakat Perancis Kuno di abad 11 dalam lafal “Idole”. Pengartiannya mulai mengerucut pada berhala, arca atau patung sesembahan. Konotasinya jatuh negatif saat kaum monotheis membubuhkan arti “tuhan palsu”, sebab tak setuju dengan pelestarian sisa-sisa kepercayaan pagan di beberapa wilayah Eropa. Pemahaman ini menyebar. Arti Idol meluas menjadi, orang yang serba palsu dan tidak bisa dipercaya atau orang yang sesat iman.

Baru pada rentang 1590-an, muncul pemaknaan anyar seiring kedatangan era materialisme. Lahirlah Idol versi modern dengan aroma mistik yang sengaja dipangkas. Idol means a person so adored, human object of adoring devotion. Oleh Bahasa Indonesia, Idol diserap menjadi Idola. Dan KBBI mencantumkan arti: orang, gambar, patung dan sebagainya yang menjadi pujaan.

Tidak ada lagi nuansa “sesembahan” dalam pengartiannya. Meski saat dipraktikkan, seorang idola kerapkali dipuja secara berlebihan, nyaris seperti sesembahan.

Selfie

Swafoto atawa selfie, bukan hal aneh. Konon, di masa purba, orang mencari air untuk bercermin. Kemudian di waktu berikutnya, orang terdorong untuk melakukan hal serupa saat melintasi kaca etalase toko atau mendapati kaca mobil. Paling tidak, dia melirik ke perangkat berkaca tertentu sembari malu-malu memacak diri. Bedanya hanya pada sisi keterbukaan dan media yang dipakai saja. Dulu cenderung diam-diam menggunakan air maupun kaca, kini terang-terangan memakai kamera. Selfie adalah kewajaran yang menjadi bagian dari evolusi perilaku manusia. Sebab secara naluriah manusia gemar mengapresiasi diri sendiri. Memastikan penampilannya baik-baik saja. Selain pula, suka merekam peristiwa-peristiwa menyenangkan yang melibatkan dirinya, lalu menyimpannya sebagai kenangan.

Passion

Kata “Passion” berasal dari bahasa Latin, “passionem” yang berarti, “suffering, enduring”. Dalam bahasa Indonesia, bisa disebut dengan “Derita, tangguh, tahan terhadap tekanan”. Kata ini mulai masuk dalam perbendaharaan bahasa Inggris sekitar abad ke-12. Dua ratus tahun sebelumnya, bahasa Perancis telah lebih dulu menggunakan dan menuliskannya dalam ejaan yang sama, “Passion”.

Narasi tentang penderitaan dan ketahanan Yesus saat memikul kayu salib, menjadi latar belakang kelahiran kata tersebut. Amanat peristiwa itu lazim diungkapkan dengan kalimat “Passion of the Christ”, yang pada 2004 dipungut Mel Gibson sebagai satu judul filmnya. Seiring waktu, “Passion” dimaknai sebagai kelapangan penerimaan manusia atas derita dan kesakitan, lalu berjuang menjinakkannya. Kata yang relatif setara untuk merepresentasikan ilustrasi itu adalah “legowo”, dari bahasa Jawa. Orang yang memiliki “Passion” artinya sanggup menderita serta tangguh menjalaninya.

Sering mendengar kata “Passion”, terutama yang diucapkan oleh penutur berbahasa Indonesia? Saya sering. Dan kerap bingung. Sebab “Passion” yang dia maksud, samasekali berbeda dengan makna dari bahasa aslinya.

Bug

Dua macam “bug” dalam diri manusia yang sering disasar para mastermind saat bikin drama politik pendulang simpati adalah “rasa kasihan” dan “harapan”. Bila keduanya sudah terkelabui, maka tinggal diarahkan keberpihakannya. Tentu saja rekayasa dilancarkan melalui rangkaian narasi ampuh. Cerita-cerita heroik, tentang manusia atau sekelompok orang yang berhasil bangkit dari penderitaan ironis menuju kemenangan gemilang, setelah bekerja keras tak putus harapan. Perjuangan yang diceritakan untuk menarik perasaan orang lain, mengaduk-aduk emosi mereka, hingga orang-orang itu bersimpati penuh pada tokoh utama cerita. Itu kenapa tokoh-tokoh tertentu kerap diperankan sebagai “korban” dari lawan yang dikesankan kejam.  Si tokoh dipoles sedemikian rupa agar tampak sebagai makhluk paling menderita di muka bumi. Tujuannya, supaya orang mengasihaninya. Kalau sudah kasihan, tinggal ditunggangi sambil diiming-imingi harapan akan kemerdekaan yang membahagiakan. Memang klise. Tapi demikianlah yang disukai sebagian besar orang. Teknik yang telah diterapkan sejak berabad-abad silam namun tetap mujarab hingga sekarang. Dibalik jubah demokrasi, cara itu kian sering dimainkan dengan berbagai kamuflasenya.

Radikal

Kisaran tahun 1802, kata “radical” mulai marak digunakan dalam ujaran bahasa Inggris dan diartikan sebagai “reformis”. 15 tahun kemudian, Partai Liberal Inggris resmi memakai istilah tersebut sebagai pernyifatan atas garis politiknya. Di bidang lain, tahun 1816, para ilmuwan juga memungutnya untuk diterapkan dalam kajian Kimia. Namun jauh sebelum masa itu, sekitar akhir abad 14, “Radical” sudah masuk dalam perbendaharaan kata bahasa Latin, ditulis dengan “Radicalis”. Sebuah lema filosofis yang berasal dari “Radix”, artinya “akar, asal-muasal, tulen”. Konotasinya selalu positif. Demikian pula saat Bahasa Indonesia menyerapnya. KBBI membubuhi arti: radikal/ra·di·kal/: secara mendasar; sampai kepada hal yang prinsip; Amat keras menuntut perubahan (politik); maju dalam berpikir atau bertindak.

Kini radikal dimaknai berbeda, disertai aroma yang kerap negatif. Apa yang terjadi? Tentu saja, kesalahan bukan pada kata atau bahasanya, melainkan cara orang memperlakukan kata itu sendiri. Semakin banyak yang abai, asal comot dan malas memahami. Bahkan untuk hal-hal yang akrab melintasi benak mereka, yaitu kata-kata. Konyol? Begitulah! Tapi, bagaimana lagi? Anggaplah ini resiko atas wolak-waliking zaman. Semacam bagian dari evolusi: perubahan perilaku manusia dalam merawat lidah dan pikirannya.

Nalar

Bahasa Indonesia menerjemahkan “common sense” dengan “akal sehat”, yang dimaksudkan sebagai pemahaman dasar atas sesuatu dan disepakati sebagian besar khalayak. Meski ini terjemahan kontekstual namun terasa aneh. Sebabnya, tidak ada patokan jelas mengenai kesehatan akal itu. Misal, seseorang membuat kalimat, “politik akal sehat”. Lantas, sehat versi siapa? Apakah versi buku-buku perkuliahan atau versi kelompok kepentingan tertentu yang dipihaki orang tersebut? Lagipula, lawan katanya juga lucu: “akal sakit”! Apakah sudah ada orang yang mampu mengendus gejalanya lalu bisa menyembuhkannya? Semacam Pakar kognisi, Dokter, Tabib atawa Dukun? Saya rasa, frasa yang cocok untuk menerjemahkan “common sense” adalah “nalar umum” atau “nalar awam”. Lebih mengena dan sesuai dengan maksud yang diinginkan, sebagaimana tertulis di atas.