Keluh

Di masa-masa yang capek, dia hanya ingin merenung. Tentang petang yang selalu menawarkan resah usia renta. Atau soal jalanan yang makin penuh ancaman. Larinya tak lagi gesit seperti 20 tahun silam. Besi-besi perakitnya telah aus, berkarat menjijikkan. Sementara, dia harus melawan mobil-mobil necis bersuara halus, yang seliweran sembari mendengus, “Lu nyenggol, gua gaplok!” Menyebalkan!

Dulu dia tidak semerana ini. Masih trengginas. Raja jalanan. Idaman para perempuan yang kerap cerewet dengan naik-turun harga cabe. Dan dia menikmatinya. Dia merasa diandalkan. Apa yang lebih membahagiakan selain bisa berguna?

Masa lalu terasa indah. Sedang masa depan? Mengerikan! Dia tahu ujung nasibnya. Di luar kota, tempat tumpukan rongsok berbau badeg, adalah persemayaman terakhir yang sungguh tak dikehendakinya. “Aku ingin dipajang di museum utara kota. Kau tahu kan, tempat itu? Bagiku, itu cara terhormat untuk melapuk. Daripada membusuk dan terlupakan,” angannya suatu kali.

Tapi apa daya? Dia tak bisa melawan zaman. Waktu memang brengsek. Selalu melumat apapun untuk ditepiskan pada ketiak sejarah.

“Kegagahanku hanya akan diingat orang-orang tua yang juga akan membusuk sama sepertiku. Apes!” Lenguhnya.

Jika bisa memilih, dia ingin moksa sekarang. Melebur dengan udara, terhirup manusia, lalu mendiami benak mereka sebagai kenangan. Setidaknya, itu cita-cita lain yang didambakannya jika gagal menjadi artefak klasik penghuni museum kota. Dengan begitu, dia punya harapan untuk diingat dan didongengkan.

Advertisements

Kicau

Mpu Tanakung, pengarang kakawin Banawa Sekar itu, barangkali sedang bersantai di beranda pondoknya saat sekelompok burung bersahut kicau. Entah di mana hewan-hewan itu hinggap. Berisik meski tak sebising perkelahian kucing.

Untung saja, tidurnya cukup semalam. Atau, dia tak sedang terserang sakit gigi yang gampang senewen bila mendengar kegaduhan. Mpu sangat bugar, hingga iseng mengandaikan riuh kicauan seperti sekurumun manusia yang sibuk meributkan kebenaran. Saling sambar pendapat, persis laju kuda-kuda balap yang kalap selepas gencar lecutan.

Mungkin dia menerawang sembari menyungging senyum. Sedikit sinis, agak mencibir.

Jika sang Mpu hidup di masa kini, gerak-gerik tadi bisa tersurat lebih. Tak menutup kemungkinan, dia terkekeh sambil misuh bukan alang kepalang. Bukan sebab jengkel. Tapi karena geli menyaksikan kebodohan diobral, kekonyolan dipuja, kecupetan dikemas manis-manis, lalu diedarkan gratis setelah diberi label “Kebenaran”. Kemudian, sekian juta manusia bertopeng merebutkannya. Tanpa canggung, tak kenal malu.

Framing

Bisa dibilang, tak sedikit media massa melakukan “framing”. Susunan judul, pemilihan kata, hingga pengambilan sudut pandang, menyembulkan maksud itu. Condong berpihak itu niscaya. Kadarnya saja yang berbeda. Netralitas merupakan ilusi, walau mesti terus diperjuangkan.

Tak apa. Toh yang menangkap arah informasinya adalah manusia. Terdapat nalar yang mengolah, dan hati yang memilah. Sengawur apapun berita itu, bakal disaring secara alamiah. Bukankah tertanam perangkat lunak bernama akal budi?

Kalaupun ada yang gagal mengelolanya, itu risiko. Tak semua orang sudah benar-benar berhasil menjadi manusia. Entah karena dikutuk mustahil naik derajat atau baru setengah menjelma. Lho, lantas separuh yang lain apa? Mungkin balon, barangkali jengkol. Bisa jadi. Kata peribahasa, “Isi kepala dan niatan hati, siapa yang mengerti?”

Zombie

Kalau orang-orang sudah tak menghiraukan makna, gagap menangkap metafora, asing dengan sanepan juga paribasan, jijik pada majas-majas, asyik mencerabut kata-kata dari rasa, maka perbincangan apapun akan selalu sarat marabahaya. Pikiran lantas dangkal, nurani makin kering.

Apa saja yang dipercakapkan berpeluang menuai bala.

Pertimbangkanlah!

“Pertimbangkanlah!” Sergahnya pagi itu dengan raut muka keras meyakinkan. “Kita seperti bermain petak umpet dengan nasib. Tak jelas benar, kapan bakal celaka atau beruntung.”

Lalu dia duduk seraya membakar rokok yang sejak bermenit-menit lalu terselip di bibir. Setelah menyamankan letak tubuh sembari menghela napas panjang, dia melanjutkan. “Seluruh kesalahan yang pernah kita perbuat di masa lampau tetap mengintai dan siap menyeruak menggelisahkan hidup pada waktu yang tak disangka-sangka. Kapan pun, tiba-tiba saja menyerbu. Jangan kau kira hukum sebab akibat itu tahayul. Aib memang menyebalkan! Kita, sekarang ini, hanya segerombolan makhluk congkak yang sedang menunggu giliran untuk tampil dungu di tengah kepungan aib-aib itu. Saat apes datang, segala keunggulan yang pernah dibanggakan bakal tumpul. Tumbang! Maka, pertimbangkanlah! Sebab berhati-hati saja tidak cukup. Waspada saja tidak cukup. Ingat, kita berada di tengah semesta dengan permainan yang sangat misterius, dan kau tentu sudah paham, kita bukan dalang dari semuanya”

Perlente

Kalau sampeyan sempat bertandang ke sudut-sudut negeri — di luar kota besar — menggunakan pesawat udara, luangkanlah untuk iseng mendengar kalimat-kalimat ajaib dari mulut orang-orang perlente yang sibuk menelepon sesaat sebelum pesawat tinggal landas atau usai mendarat namun belum berhenti dengan sempurna.

Ada saja yang mereka ucapkan. Seperti, “Ya, dari Jakarta, ada urusan. Ah, biasa, acara rapat dengan menteri”, hingga, “…Kalau dua milyar sih dibeli saja. Tunggu saya sampai rumah, nanti kita obrolkan. Ini dari Jakarta, ketemu kawan-kawan DPR”, dan lain semacamnya. Nyenengke tenan!

Mereka orang-orang maha sibuk, sering berpenampilan bak pejabat kagetan atau makhluk kaya baru lengkap dengan perilaku “Ealaaah, bedhes!“, yang harus menelepon meski larangan diberlakukan. Pokoknya nelpon! Bahkan dengan suara yang lebih kencang dibanding dengung mesin pesawat, seperti disengaja agar didengar orang lain. Dari kelantangannya yang kerap tak wajar itu, tersirat sikap: seluruh penumpang mesti tahu, bahwa mereka adalah orang penting, paling tidak, kalangan berduit. Ini dugaan saya saja. Kalau salah, ya biasa.

Jika sampeyan pernah menemui peristiwa-peristiwa begitu, selamat, sampeyan punya cerita istimewa yang boleh dituturkan kepada anak cucu kelak, sambil berpesan: ojo gumunan, tingkahe menungso ki macem-macem. Nyebahi? Ha cen iyo! Dobol!

Letup seorang kawan kepada kawannya yang sedang membutuhkan kawan

Dia menyeringai sinis sembari menghenyakkan tubuh di samping kawannya yang tengah gundah. Katanya, “Jangan berpikir seperti orang lampau. Kau bakal salah sangka. Masa kini sungguh berbeda. Bahkan soal kekonyolan dan rasa malu sekalipun. Kau mesti tahu, batas keduanya sudah tak segamblang waktu kita ingusan. Tak ada lagi ora ilok, saru, pamali atau semacamnya. Kemungkinannya, itu semua telah raib dari kamus unggah-ungguh, atau paling tidak, sekarang makna-maknanya sudah jungkir balik. Malih rupa, ganti rasa. Orang-orang itu pun barangkali tak akan meratapi tingkah-tingkahnya yang jika di zaman sebelumnya lazim dianggap menjijikkan. Jangan-jangan, mereka malah akan menyesali, kenapa tidak lebih mengumbar lagi, lebih nekad, tega dan habis-habisan lagi. Sebab di masa depan nanti, ini kira-kiraku saja, justru laku demikianlah yang disebut jalan sukses. Kau paham, kan? Jadi, sekarang tinggal pilihanmu. Hendak ikut hanyut atau membiarkannya seraya menapak jalan sendiri yang asing dan terasingkan. Yang sunyi dan disunyikan. Jalan yang bisa memberimu kesempatan untuk membangun gubuk kecil di kesenyapan, agar bisa dijadikan persinggahan orang-orang lelah akibat terbentur-bentur hiruk-pikuk zaman dan butuh pertapaan. Karena kalau kau sok pahlawan melawan arus yang sedang dirayakan itu, lalu berkoar bak penceramah etiket yang haus perhatian, kau akan ditertawakan dalam nada cibiran yang paling menyakitkan, diperlakukan persis badut yang gagal melucu lantas dihajar lontaran botol bekas minuman kemasan”