Indonesia, pulanglah !

(Untuk Mukadimah Kenduri Cinta Oktober 2012)

Sebutlah rumah itu bernama nusantara. Tempat menghuni sekian banyak suku bangsa, bahasa, dan beragam kekayaan nilai dalam baju kebudayaan. Lalu, Indonesia adalah anak bungsu yang lahir dari  pergulatan panjang tentang konsep dan terapan makna hidup bersama, dalam rumah tersebut. Sesosok anak yang dibesarkan di gelaran panggung sejarah yang riuh rendah. Berpetualang menelusur jatidirinya lewat peristiwa-peristiwa berdarah juga mampir ke arena pesta pora. Jauh berjalan, meninggalkan rumahnya, hinggap pada beragam halte bernama sistem pemerintahan. Menepi di sejumlah teras terminal berjuluk tata kebangsaan, diskusi di warung kopi ideologi kehidupan, turut serta memeriahkan festival keagamaan. Semuanya demi mencari jawab, siapa sesungguhnya Indonesia, siapa sebenarnya saya?

Begitulah, Indonesia dalam perkembangannya. layaknya seseorang yang merantau jauh dan kelelahan. Merindukan rumah, tempat ia dilahirkan dan “digadang-gadang”, tapi tak memahami peta bagaimana cara kembali. Jatuh bangun bersama usianya yang terus bertambah, dalam usahanya meretas identitas. Negeri ini seperti terjerat dalam ikatan-ikatan kerinduan terhadap kagagahan idealisme bhinneka tunggal ika. Kangen dengan aroma-aroma nilai keluhuran yang pernah dilontarkan oleh anggota keluarganya : suku-suku bangsa pembangunnya.

Sesekali si bungsu mengenang. Mengingat kebesaran kakak-kakaknya. Sriwijaya, Mataram kuno, Majapahit, Pajajaran dan beberapa yang lain. Tenggelam di genangan pesona kejayaan pendahulunya, sekaligus iri, namun tak mengerti bagaimana mengambil pelajaran dari kegemilangan pencapaian masa silam. Anak bernama Indonesia itu  duduk diam terpesona, tapi lupa berbuat apa-apa.

Wajah Indonesia sudah tertutup berlapis-lapis debu. Perjalanan panjang membuat mukanya susah dikenali.  Dari masa orde lama, baru hingga reformasi, cat-cat ditoreh oleh barisan penguasa, bereksperimen dengan warna, dengan janji yang tak pernah tuntas ditepati.

Hari-hari ini, paras Indonesia tengah dilukis oleh media. Dengan kegaduhan berita, kesibukan informasi tentang berbagai persoalan yang seakan tak kunjung rampung. Korupsi, kegamangan sistem pendidikan, penjaringan raja-raja kecil di daerah melalui pilkada, penjarahan hutan, perselingkuhan penguasa dengan pemodal asing yang merampok kekayaan alam, antrinya kelas menengah membeli perangkat komunikasi termutakhir di mal-mal kota besar, berjejalnya rakyat jelata dalam kerumunan pembagian beras oleh seorang kaya dan masih banyak lagi. Menatap indonesia lewat layar berita dan lembaran surat kabar, adalah membaca keterpurukan. Tubuh negeri yang compang-camping, nyaris tak ada hal-hal baiknya. Apakah memang seperti itu?

Barangkali kita perlu meneropong sejenak. Melukar luasan pandang lebih lebar. Menilik  pelosok-pelosok negeri dan menyapa dengan Indonesia lewat persapaan asumsi yang lebih ramah. Jangan-jangan ada yang terlupa didalam benak. Ketika berpikir tentang Indonesia, yang terpampang adalah potret-potret penguasa. Bukan mereka yang gigih menyiangi ladangnya, para nelayan di pelabuhan-pelabuhan kecil yang mengeluh langkanya BBM, tapi demi memperjuangkan kehidupan, masih tetap melaut. Atau pedagang pasar yang cemas dengan penggusuran, tapi tetap menggelar lapak demi mencukupi nafkah rumah tangganya.

Mengeja Indonesia berarti berani menatap keluasan itu. Lebih dalam lagi dari sekadar koordinat batas-batas geografis. Indonesia juga berarti sekumpulan semangat yang dialiri oleh mereka yang tak disebut dalam pentas media. Dalam diri indonesia bersemayam kompleksitas nilai pantang menyerah dari jutaan warganya yang hidup dikampung-kampung. Mereka yang tak lantang-lantang amat menyebut nama negeri ini, tapi meletakkannya dalam hati. Orang-orang yang tak terjamah manisnya negara, tapi tetap setia menggenggam semangat Indonesia.

Rimba informasi yang lebat telah membawa fokus ke satu bidang kecil. Mengabaikan ruang yang lain, hingga pembicaraan tentang Indonesia terperangkap kepada wilayah-wilayah politik teras penguasa, mengecilkan tatapan dari realitas lain yang ternyata juga urun rembug terhadap dinamika negeri ini. Para pelestari kesadaran peran sebagai khalifah di bumi. Yang menyirami sifat gotong royong dalam kemaslahatan kebaikan di liang-liang batinnya. Pelaksana filosofi-filosofi kebijaksanaan, tidak sekadar penghafal yang meneriakkan tanpa pernah melakukan. Sekumpulan manusia yang masih menuangi kedalaman spiritualitas dalam wadah materialitas, untuk menggerakkan kehidupan, demi tujuan-tujuan menuju Tuhan.

Serupa bingkisan, Indonesia lebih merupakan keikhlasan pemberian. Sedang negara adalah perangkat yang disepakati terletak sebagai pembungkus. Dia bukan representasi absolut atas kado itu sendiri. Meskipun keduanya berada dalam satu kemasan, namun substansi adalah tujuan pokok dari segala materi, pun dalam analogi bingkisan itu. Kedigdayaan rumah nusantara dititipkan melalui energi orang-orang yang bahkan tidak koar-koar tentang apa itu fungsi negara. Mereka yang masih hidup dalam kerekatan nilai-nilai warisan moyangnya. Tinggal di dusun-dusun dengan keakraban bertetangga dan saling menjaga harmoni hidup bersama. Golongan yang lepas dari pantauan siapapun yang bergegap gempita dengan pesta para penguasa.

Ini bukan soal bagaimana memupuk optimisme atau mereduksi pesimisme. Hanya upaya menata perkara agar lebih proporsional menghadapinya. Bahwa negara memang tengah melakoni drama kegagalan, itu tidak salah. Namun, disebalik itu, ada pancang-pancang tiang kurus yang menyangganya, hingga tetap bertahan sampai hari ini, yaitu semangat keindonesiaan, energi bangsa yang telah makan asam garam. Berupa kemandirian atas diri sendiri, tak berharap banyak kepada negara. Bekerja untuk menebar manfaat pada lingkungan yang terjangkau, berbuat sesuatu demi kehidupan yang mempunyai target lebih jauh ketimbang cita-cita kenegaraan, yaitu mengabdi kepada Pencipta Semesta.

Bukan narasi yang dibuat-buat. Seakan-akan mengungkit sikap-sikap ideal yang terkesan imajinatif, namun demikianlah realitas yang berlangsung tapi tak banyak diobrolkan. Betapa Indonesia telah gagap terhadap dirinya, terbata-bata melafal semangat-semangatnya. Ragu dengan kekuatan internal, lalu minder dan mencoba menjadi yang bukan dirinya. Kita mendapati tanda tanya besar ketika bertanya bagaimana sesungguhnya menjadi Indonesia itu? Argumentasi luluh lantak karena pemahaman tentang Indonesia tercerabut dari akar-akar pembentuknya. Negara indonesia yang sekarang sedang terseok itu telah jauh dari rumah tempat dilahirkan. Melupakan ibunya berupa keluhuran-keluhuran pekerti, pelajaran kegigihan, percaya diri  dan mengolah sumber daya seperti dilakukan kakak-kakak kandung dimasa terdahulu.

Garuda yang gagah makin menyusut kepaknya hingga menyerupai burung emprit. Perut bumi di rampok terang-terangan namun tak berdaya untuk melawan. Penipuan-penipuan lewat legitimasi demokrasi seliweran didepan mata, tapi keberanian menggugat luntur karena ketidakberdayaan. Indonesia sedang tenggelam dalam kemarahan terhadap dirinya sendiri, tapi tak beranjak untuk mendatangi penawarnya. Kebingungan yang menggejala, keluhan tak usai, tentang ragam persoalan dan lenguh kebimbangan : kenapa ini terjadi, kenapa itu berlaku.

Bumi kaya yang dimiskinkan oleh mentalitas menikmati keterjajahan, negeri besar yang dikerdilkan keasyikan kegelapan.

Indonesia butuh pulang. Merasakan kembali hawa udara sejuk rumahnya. Merasukkan pancaran-pancaran nilai moyangnya yang selama ini diabaikan. Bukan untuk berleha-leha dalam kehebatan warisan, tapi sebagai sengatan, supaya menggeliat , terjaga lalu berbuat, menata kehidupan. Indonesia, pulanglah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s