Merawat Ruwet

(Jurus Berjaga, Bangsa Yang Dikelilingi Perkara)

Jika Indonesia baik-baik saja, barangkali kita tak secerdas ini. Kalimat ini seketika mampir ke benak saya beberapa saat setelah menonton renteten berita di televisi. Uraian-uraian singkat yang seliweran menanggapi kegaduhan politik juga hukum, adalah suguhan yang rutin, hingga membangun lapis-lapis kekebalan rasa dan sangka.

Media terkini, telah mengubah cara orang menilai peristiwa. Begitu juga tilikan tentang situasi negara. Perspektif yang digelar berbungkus “cover both sides” tak lagi berbau pilihan-pilihan opini beragam, tapi lebih kepada penggiringan pendapat. Perlahan-lahan penerima informasi dirayu untuk masuk dalam situasi yang diinginkan media. Hingga lelah menyambut, dan ujungnya adalah penikmat berita kehilangan ketajaman emosi.

Nyaris benar, hal yang serba berlebihan itu cenderung bikin hambar juga gamang. Setiap saat digempur dengan lontaran-lontaran warta tentang negara yang nadanya terus sumbang, menghasilkan rasa sakit dikhianati penguasa, perlahan-lahan pudar dan beralih pola menjadi “biasa-biasa saja” . Bukan wabah apatisme, tapi kecenderungan kedap rasa massal.

Kegeraman akan korupsi tak lagi sekuat dulu. Kemuakkan pada tingkah pejabat pongah yang tampil puritan tidak sederas ketika masa-masa pertama mendapatkan kabar tentang itu. Argumentasi kegelisahan atas kondisi negeri kian enteng, berirama sama, tak meledak-ledak sebagaimana masa awal reformasi, misalnya. Mungkin saja, kejenuhan tengah membayangi. Persoalan-persoalan kekuasaan yang hilir mudik pada layar kaca atau lembar surat kabar, tak ubahnya hadir sebagai drama yang direpetisi. Itu-itu saja, tanpa kehadiran adegan yang mengejutkan. Kita dikelilingi oleh pengulangan-pengulangan keluh kesah, sembari dijanjikan harapan tentang “badai pasti berlalu”.

Hidup memang panggung tempat untuk bersiasat, bagaimana mengelola harapan. Perjalanan mendekatkan niat kepada pencapaian yang konseptual. Mesin utama dari dinamika dunia ini, bisa jadi adalah imajinasi tentang harmoni. Mimpi tentang keselarasan bobot masalah dengan bandul solusi. Dengan begitu orang tetap begerak, untuk mencapai hal-hal itu. Entah bisa benar-benar tercapai atau tidak. Yang pasti, jalan terus! Dan di negeri ini, harapan merupakan bahan bakar utama untuk tetap tersenyum.

Barangkali itulah kenapa rakyat Indonesia bisa bertahan hingga kini. Dalam hunjaman perkara-perkara yang riuh rendah, sistem kekebalan tubuhnya bertahap naik. Setelah terkungkung dalam kurungan kebebasan informasi dimasa Orde baru, orang indonesia cukup merayakan pesta pora lepas penjara, dalam beberapa tahun saja. Dan masa berikutnya, kembali pada posisi penikmat informasi yang sabar, pendengar masalah yang baik. Seakan-akan, dalam tubuh para penghuni negeri ini tersimpan anti virus sakti juga langka, mengubah setiap penyakit yang hinggap, berbalik menjadi zat penguat dan mengokohkan.

Orang bisa marah dengan apa yang tertayang di layar kaca. Menonton tindakan semena-mena, kecongkakan birokrat, dan perampokan kekayaan negara dengan terbuka. Hingga beberapa saat kemudian, mampu menjelmakan sikap pada raut yang berbeda. Melunak sembari mengelus dada, dibubuhi sejumput senyuman ngilu ”Ah biasa, paling sehabis ini, akan hilang cerita”

Ini bukan gambaran keputusasaan. Justru sebaliknya. Ekspresi-ekspresi semacam itu lebih saya tangkap sebagai jurus kesabaran yang khas Indonesia. Berada ditengah lilitan benang kusut bernama NKRI memang bukan situasi yang mengenakkan. Dimana semboyan “Dalam setiap masalah terkandung jalan keluar” digumamkan bergema-gema, tapi eksekusi atas solusi tak kunjung tampak serius dipertontonkan pada khalayak. Bertahan dalam suasana yang sebegitu ruwetnya, butuh manusia berjenis khusus. Yang pandai berloncatan antar tebing-tebing paradoks, dan pintar mengatur perasaan.

Kekuatan bangsa ini, sepertinya memang disuntik dari cairan bernama persoalan. Yang membuat Indonesia terus ada di kerumunan penyakit yang menggerogoti adalah kualitas daya tahan rakyatnya yang diatas rata-rata. Seseorang bisa bilang “Kesabaran ada batasnya”. Meskipun tahu, setelah mengucapkan kalimat itu, asumsi tentang batas telah berubah, dari letak yang dikira semula, pindah bergeser menjauh lagi.

Benar, bahwa seluruh masalah selayaknya diselesaikan. Pada konteks negara Indonesia, itu sedang dilakukan. Lewat hukum yang timpang, dengan para penjaganya yang terancam jerat korupsi. Kita sedang memperbaiki rumah Indonesia menggunakan alat pertukangan yang lecet-lecet, tumpul, beberapa berkarat. “Tak ada rotan akarpun jadi”, begitu ujar peribahasa, sebagaimana dipatuhi oleh bangsa ini. Dengan upaya yang ada, bekerja memberantas hama wereng yang sedang mengoyak sawah yang memang sudah terukur gagal panen.

Di kampung saya yang jauh dari hiruk pikuk kota besar, seorang anak muda lulusan SD mampu memperbaiki sepeda motor yang mogok total, menjadi normal kembali. Kondisi kendaraan, diatas kertas tak mungkin lagi dihidupkan. Berkat keisengan sang pemuda, benda yang semestinya menjadi penghuni gudang besi tua itu, kembali fungsi. Sembuh dari mati surinya setelah disentuh orang yang telaten menekuni calon rongsokan.

Seorang yang lain lagi adalah pemilik bengkel radio yang gelisah karena langkanya penguna jasanya. Demi menjawab tantangan pasar, agar tetap memperoleh nafkah setelah jaman berganti, secara otodidak membongkar telepon seluler berkondisi kembang kempis. Lalu dengan tekun mempelajarinya. Setelah beberapa waktu, sang pemilik bengkel radio ternyata beralih profesi sebagai teknisi ponsel, berkat kenekadannya bersekolah lewat barang bekas.

Fenomena-fenomena seperti itu banyak saya temui. Bukan bermaksud mengunggul-unggulkan kemampuan orang-orang tersebut, juga tentang ketahanan bangsa Indonesia, tapi hanya sebagai gelintir percontohan. Bahwa keterjepitan, kenekadan atau bahkan keisengan adalah senjata ampuh dalam meniti lika-liku hidup. Hingga pada tataran kehidupan bernegara, cara merawat hidup di arena keruwetan Indonesia adalah bekal untuk tetap betah mengakui “Baik atau buruk, ini negaraku”.

Apalah arti masalah, bila tak menghasilkan keluaran yang unggul? Dimata bangsa indonesia, menurut saya, gelimang persoalan adalah cara untuk menaikkan peringkat mutu kemanusiaannya. Tinggal dalam goa bernama indonesia, lalu mereka-reka jalan keluar agar bisa menikmati panorama adalah ikhtiar mengolah harapan. Cita-cita terus didengungkan dari dalam lorong, beserta jargon-jargon yang menggetarakan. Bangsa ini adalah bangsa yang ahli bernafas dalam lumpur. Penghuni kamar gelap yang menikmati cahaya dari kejauhan. Hingga suatu hari salah seorang bertanya “Sampai kapan keadaan ini?” kemudian yang lain menjawab “Sudahlah, enjoy aja. Percayalah Gusti mboten sare”. Lalu mereka tergelak, tak kemana-mana, hingga hari-hari berikutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s