Batas

(Tentang keterbatasan yang membelenggu, dan batas-batas yang membantu)

Berjarak puluhan sentimenter di depan, terpampang gambar empat anak kecil berseragam sekolah, tengah senyum menghadap saya. Gigi-gigi tak rata  yang dinampakkan, berpadu baju sekolah dasar lusuh dengan warna putih yang tak lagi sempurna. Seorang kawan mengirimnya lewat surat elektronik. Meminta saya berkomentar, atas hasil berburunya, untuk keperluan khusus.

Beberapa jenak, batin bergetar ketika lekat-lekat menatap foto itu. Ada detil air muka mereka, yang membujuk saya untuk menebak-nebak. Apa gerangan yang dipikirkan kumpulan bocah dan bagaimana suasana latar belakang foto yang diburamkan itu. Mungkin ada beberapa orang tua sedang lewat disisi luar, yang tidak terambil kamera. Atau kaki-kaki para anak sumringah itu tak mengenakan alas sepatu, karena imaji yang tersuguh di hadapan saya ini, hanya setengah badan.

Kenapa mereka tersenyum? Bahagia, sebab usai sekolah, sehingga kesempatan untuk bermain lumpur ditepian kali dusun tiba? Atau senang pasal difoto, sebuah tawaran yang jarang mereka dapatkan? Beragam asumsi berkeliaran dikepala. Ini adalah foto yang diambil dari daerah pedalaman kalimantan.

Makna serta simbol peristiwa, dibingkai oleh seorang fotografer dari sudut pandang subyektifnya. Lewat teropong pemindai atau layar kristal digital pada punggung kamera, dia merekam kejadian, mewakilkan kenyataan yang berjalan pada lembaran foto. Saya menikmati karya itu, sangat. Ada pengalaman yang riuh didalamnya. Dari pernik detil hingga permainan bias warna, dialirkan. Membujuk untuk turut masuk, terlibat dan membuat simpul-simpul apresiasi, kepada realitas yang dibekukan dalam hasil seduhan cahaya yang digerus lensa itu.

Sempat terlintas dibenak, fotografi adalah salah satu percik contoh, bagaimana manusia memandang hidup. Kejadian berlangsung dengan dimensi yang berlapis-lapis. Saling kait mengait satu sama lain, nyaris membuat kita tidak bisa mengunyah semuanya. Bekal indera, baik penglihatan, pendengaran, pembau atau perasa, punya takaran kemampuan yang terbatas, hingga mau tidak mau, untuk menyerap keadaan yang tersaji, mesti telaten sepetak demi sepetak. Untuk menyeimbangkan keterbatasan perangkat penangkap gejala dalam diri manusia tersebut, maka sistem operasi yang bekerja, menyediakan fasilitas berupa perspektif, cara pandang.

Pada beberapa perjalanan, saya pernah iseng untuk mengingat penampakan, getaran dan suara-suara yang mampir ke indera. Mengambil satu kejadian lalu saya selidiki lengkap dengan temali sebab akibatnya. Tapi malang, saya selalu gagal. Menganalisa sebuah peristiwa tidak dapat dilakukan dengan benar-benar menyeluruh. Keterbatasan kemampuan alat pembingkainya adalah alasannya.

Namun, jika disorot lebih waras lagi, ternyata dari keterbatasan itulah manusia punya kekuatan. Tidak terbayangkan jika semua hal bisa dilihat, didengar, dicium dan dirasakan, betapa hidup akan sangat terseok-seok, saking berjubelnya muatan. Dan pemikiran akan sulit terbentuk karena luasnya latar belakang masalah, dan dalamnya galian persoalan. Karena kandungan keterbatasan itulah, maka batas-batas sesuatu membantu pikiran menerjemahkan sebuah keadaan, menafsir komponen-komponen yang berinteraksi didalamnya.

Sewaktu mendapati obyek, semenarik apapun itu, seorang fotografer tidak bisa melampiaskan keinginannya merekam seluruh sisi, dalam satu aksi. Dia harus bersikap, mengambil keputusan untuk berkonsentrasi pada  arah bidik tunggal. Menetapkan batas-batas bingkai fotografisnya, meyakini jarak, membangun perspektif, lalu mengadopsi peristiwa yang dibuat sang obyek pada sebidang karya foto. Penentuan batas, merupakan kemestian yang tak terelakkan. Hanya dengan itulah, fotografer menyerap pengalaman obyek, menilainya, sebelum akhirnya mengajak para penikmat fotonya untuk turut serta.

Layaknya fotografi, hidup adalah pengetahuan mengenai batas-batas. Dalam jengkal area berbatas, manusia membuat sejarahnya, menjalani peran dalam panggung penciptaan. Pada jarak antar batas, manusia berupaya mengenali diri, memaknainya, lalu menebar keindahan dan pesona baik lainnya, mengajak masuk dalam pengalaman yang sama.

Dalam jeda batas, orang menggali potensi kehidupan, pada tataran kualitas yang mana akan bertengger. Lalu untuk membantu mengidentifikasi batas -batas tersebut, manusia mewujudkannya dalam daerah bernama perspektif yang mempunyai pemagar berupa ukuran-ukuran. Seperti baik-buruk, benar-salah, pintar-bodoh dan lain sebagainya, supaya lebih mudah memainkan adegan, melakoni skenario hidup.

Untuk melakukan apapun, yang pertama terpikir adalah soal sebab dan akibat. Dua titik yang menjadi pangkal serta ujung, alas juga atap, sebagai parameter perbuatan. Seperti memudahkan lakunya, atau untuk menimbang seberapa besar daya dan upaya yang hendak di lancarkan. Orang membangun rumah, maka dia akan mengukur luasan tanahnya. Siapapun yang ingin membeli sesuatu, bakal terbersit besaran uang yang dikantongi beserta derajat prioritas kebutuhannya. Atlet atletik, dianggap sah mengikuti lomba, apabila dia berlari dari garis start menuju finish dalam area yang dibatasi panitia kompetisi. Banyak lagi yang lain, perilaku-perilaku penerapan batas-batas pada kehidupan sehari-hari.

Baju-baju indah yang terkoleksi di almari tidak bisa dipakai sekaligus. Asas kelayakan, memberi batas kepada tubuh untuk mencukupkan mengenakan satu saja. Keinginan yang meluap-luap, seketika akan tertundukkan oleh ide pembatasan. Begitulah, selalu ada mekanisme otomatis berbentuk sistem operasi terpadu, yang aktif dalam diri manusia.

Peperangan yang terjadi tiap kali adalah ketidaksetujuan akan batas yang tiba-tiba mengingatkan, bersamaan dengan sebuah keinginan atau harapan, yang singgah di pikiran. Pemberontakan pada tembok-tembok penghalang hasrat kerap terjadi. Perkelahian yang ingin memenangkan dorongan pelampiasan.

Banyak yang menyebutnya nafsu. Konsep tentang cecaran pemakluman untuk meloncati pagar kaidah kepatutan. Daya yang memasok lahirnya alasan-alasan. Barangkali karena eksistensi dari hal inilah, segala ajaran-ajaran pekerti selalu menempatkannya pada posisi yang mesti dikalahkan. Kepasrahan, merasa cukup, rasa bersyukur, hemat, tahu diri, tidak sombong, merupakan contoh dari wejangan-wejangan keluhuran untuk menundukkan nafsu. Sebab batas tak layak dilewati, karena batas sepatutnya dipatuhi. Demi menjaga peran, memelihara kualitas kehidupan.

Puasa, menurut saya, adalah aplikasi pengenalan batas yang kentara. Menyedikitkan kerja sekian komponen badan, agar perilaku yang diproduksinya bisa terkendali. Puasa adalah cara untuk mengenal batas sekaligus pelatihan guna memancangnya kuat-kuat. Sanksi jika ada pelanggaran  pada lelaku itu paling terasa pada wilayah akhlak. Merasa bersalah, tidak patuh, khianat pada diri sendiri, ketidakjujuran dan semacamnya.

Suatu saat, seorang kenalan saya yang suka melukis, mengajak untuk beranjangsana ke selasarnya. Dia ingin menunjukkan pada saya, bagaimana merasakan suasana, ketika sebuah lukisan tengah dikerjakan. Setelah memilih kanvas, membentangkan pada papan, teman saya mulai memainkan kuasnya. Menyeret cat-cat warna-warni menutupi pori kain. Pelukis ini memahami batas-batas kanvasnya. Ayunan kuas bergerak tak liar. Inspirasi mengalir dipolakan dalam wadah yang pas. Dia sedang mematuhi batas-batas area lukisan , disiplin terhadapnya supaya apresiasi tentang keindahan, keungulan, dan pesona lukisan, muncul.

Ketika menulis paragraf-paragraf ini, saya teringat kejadian tersebut. Tak jauh dari soal fotografi, demikian juga dengan melukis. Berkarya, merentet keinginan, hasrat, dan semburat pesan pada bidang berbatas. Menundukkan pelampiasan, penerjangan, agar karya indah bisa dilahirkan. Layaknya hidup manusia juga, menjalani skenario pada batas-batas yang ditetapkan. Ada kelahiran, juga kematian. Terdapat kebangkitan lalu pembalasan. Semuanya bergerak dari jeda antar titik. Bertahap, berpetak-petak.

Oleh sebab dibatasi dimensi layar foto, akhirnya saya bisa dilempari senyum keempat bocah murid Sekolah dasar itu. Kepolosan mereka bisa saya tafsirkan dengan spektrum yang beragam. Dikarenakan adanya keterbatasan pula, saya berpikir tentang batas, lalu sampeyan, membaca tulisan ini, yang terbatas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s