Motivasi atau Motif Nasi?

(Saya kira, Tuhan menciptakan kemiskinan, satu paket dengan  manusia-manusia khusus yang mampu menelannya. Kaum istimewa)

Sulit membayangkan bakal terjadi, seorang yang miskin harta melakoni profesi sebagai motivator. Tampil di televisi, radio, memproduksi buku-buku nasehat, dengan gaya seadanya. Distributor petuah, adalah kuasa mereka yang dianggap oleh jaman sebagai para peraih keunggulan. Kaya, berprestasi mumpuni, dengan definisi-definisi versi masa kini. Orang miskin, dianggap tak kompatibel untuk masuk ruang itu.

Hampir mustahil menemui kenyataan, seorang tak berpunya, dalam perspektif pengukuran kuantitas kepemilikan materi masa modern, berdiri dihadapan sekian orang, lantas bercerita bagaimana lika-liku kehidupan. Membicarakan tentang keadaan yang dicibir sebagian orang sebagai “dampak karena tak mau kerja keras”. Golongan papa disangka tak punya daya salur inspiratif, bagi kaum yang lain. Hidup dalam kemiskinan menurut hitungan-hitungan statistik ketenteraman hidup, masuk pada kategori kemalangan. Kemudian bahasa membungkusnya melalui istilah “ketidakberuntungan”. Tak ada pelajaran yang mengejutkan disana. Hampir-hampir, kemiskinan tampil sebagai potret buruk, bukan serupa cermin yang baik untuk berkaca.

Saya takjub dengan orang-orang yang meluangkan kesempatan untuk mengikuti seminar-seminar motivasi. Duduk menyimak seseorang yang dianggap inspirator, bicara melambung perihal pencapaian-pencapain kebijaksanaan konseptualnya. Seakan dia makhluk ajaib yang jadi sosok penjawab segala tanya mengenai problematika kehidupan. Betapa kesibukan kerja, padatnya jadwal aktifitas perburuan nafkah dan saling sapa pada perhelatan sosial, membuat sekian orang tak sempat untuk menyerap hikmah-hikmah, sehingga memerlukan seorang ahli bernama motivator guna mengingatkannya.

Industri menyumbang Etalase. Dengan membidik kekeroposan bagian dalam tubuh peradaban modern, menjadi medan potensial untuk dijual. Menyediakan jalan bagi sejumlah pihak yang pandai bermain kata-kata ditambah mempunyai pengalaman hidup “unik”, dikemaslah mereka sebagai aset untuk perniagaan kesuksesan. Kata-kata mutiara bertaburan, jadi pernik-pernik yang menyertai lapak motivasi. Apa yang ditawarkan adalah cita-cita yang umum diketahui. Konsep-konsep ideal menjadi manusia unggul dalam kacamata modern. Berharta melimpah, tersohor, berkedudukan sosial istimewa dan pelukar masalah handal. Motivator adalah sejenis manusia khusus yang diberi perangkat-perangkat pikir, perilaku serta pencapaian yang gemilang. Tempat bergantung bagi mereka yang bingung terhadap kehidupan. Nyaris sempurna.

Maka sangat tidak mungkin, seorang fakir harta memegang pekerjaan itu. Jauh dari syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemegang palu aturan di industri motivasi. Justru kemiskinan merupakan keadaan yang menjadi bahasan. Motivator adalah juru selamat bagi tiap orang yang sedang berkubang dengan keadaan krisis harta. Sehingga tak patut, orang miskin menasehati yang lain tentang kesuksesan.

Ini jaman ketika nasehat menjadi komoditi. Aset yang diperjualbelikan. Lalu kemiskinan ditakar hanya sebagai kondisi ketidakpunyaan harta pada kuantitas tertentu. Peradaban sedang dibangun pada kaidah-kaidah yang serba material. Bahkan spiritualitaspun perlu dibendakan. Nasehat yang maya, dipertukarkan dengan lembaran dan keping uang, dijadikan bekal profesi, ikut dalam percaturan ekonomi yang berhukum laba-rugi. Tugas-tugas sebagai manusia untuk berbagi ilmu saripati hidup, disulap menjadi transaksi perniagaan. Kemanusiaan sudah pensiun, berganti arena barter keuntungan.

Sebuah perusahaan, komunitas atau kelompok orang yang sedang bimbang dengan sengkarut dinamikanya, meminta seorang motivator untuk datang. Berceramah panjang lebar dalam durasi yang telah disepakati. Tentu ada tarif yang berlaku. Saya sendiri tidak tahu, bagaimana cara para motivator itu menentukan harga sekali tampil. Sedang apa yang dipertukarkan sendiri sangat tidak jelas. Kondisi yang berbeda, apabila menilik sistem kategori argumentasi kenapa seseorang dibayar, pada profesi lain.

Contoh yang terang misalnya, penarik becak. Dia dibayar sebab kendaraan yang dipakainya melayani orang lain memungkin mengalami penyusutan nilai guna. Maka perlu ada pembiayaan perawatan. Membeli ban roda anyar, karena gundul, saking banyaknya jarak tempuh. Belanja cat untuk memperbarui warna moda tersebut, yang pudar akibat panas matahari dan guyuran yang hujan. Ada lagi, seorang dokter, misalnya. Dia dibayar karena berniaga obat-obat, yang dibelinya dengan modal tertentu, lalu dijual kepada pasien. Untuk perihal diagnosanya terhadap si sakit, tentang apa yang dikeluhkannya, itu wilayah tugas kemanusiaan yang tidak layak ditukar uang. Hal yang sama dengan tukang becak tadi juga. Keramahan yang diberikannya, perlindungan untuk penumpang apabila ada bahaya muncul mengancam, itu bukan merupakan variabel yang dijadikan syaratnya mendapat imbalan uang.

Ada persoalan tolok ukur yang makin buyar. Antara tugas mencari dan mengelola nafkah bagi bahan bakar pergerakan material dan tugas-tugas kemanusian yang berguna untuk melancarkan kayuhan spiritualitas. Keduanya merupakan sisi-sisi sekeping koin kehidupan. Tak bisa dipisahkan, bergerak seiring. Tapi bukan berarti tanpa takaran penanda. Tugas kemanusiaan yang berlandaskan “tanpa pamrih” bersanding dengan kegiataan mengais laba kebendaan, memang kerap keliru tempat. Tertukar wadah karena bingung meletakkan, mana urusan nilai yang tak layak diniagakan, mana urusan jasa yang patut diuangkan.

Hari-hari ini wejangan ditarifkan, petuah dijadikan barang dagangan. Kegiatan manusia untuk berinteraksi dalam bingkai saling menasehati dalam kebaikan, tidak lagi dibayar dengan keutuhan tekad untuk mengubah karakter-karakter yang bertentangan dengan tembok-tembok akhlak. Orang kerap menyebutnya hati nurani. Ini gejala yang membuat decak heran. Sangat mungkin disuatu saat nanti, doa-doa akan dilabeli dengan harga, ditempel stiker barcode. Cuma untuk menasehati diri sendiri, seseorang perlu menggunakan jasa motivator, dengan mengeluarkan sejumlah uang. Lebih miris lagi, hanya demi melakukan hal-hal baik, seseorang membutuhkan motivasi bertubi-tubi dari sekalian ahli, atau mengumpulkan pesan-pesan dalam bungkus kata mutiara yang dikeluarkan dari mulut-mulut yang dipercaya punya kompetensi.

Menyaksikan beberapa acara seminar motivasi, atau tayangan televisi, tak ubahnya saya sedang menonton akrobat cara bijak dan cepat menjadi sukses. Dan dalam mistar modernitas, sukses adalah kekayaan harta, kepengenguasaan sistem yang lebih luas dari kondisi sebelumnya. Program-program yang digelar tersebut lebih nampak seperti pemberian jurus-jurus jalan pintas meninggalkan kemiskinan harta, bukan kemiskinan jiwa.

Barangkali niat awalnya bagus. Acara-acara tersebut diselenggarakan sebagai alarm kewaspadaan sekaligus huma tempat istirahat pada hidup yang lelah. Orang-orang yang capek perlu disuntik analogi-analogi peristiwa yang mengupas tema sama, pada sisi yang berbeda. Sebut saja, kenduri perspektif. Perkumpulan untuk melakukan pertukaran cara pandang terhadap masalah. Supaya hidup lebih luas, dan keputusasaan ditendang jauh-jauh. Logika yang berjalan, bahwa kemiskinan harta adalah akar dari segala hal yang bersifat buruk, menyebabkan miskin jiwa pula dan mengganggu stabilitas sosial, merupakan dorongan untuk ramai-ramai menjadikan situasi itu menjadi musuh bersama. Wajar. Maka gelaran motivasi menjadi semacam pemantik untuk lebih progresif dan cerdas dalam lilitan perkara hidup.

Namun dalam perjalanannya berubah. Panggung-panggung yang berisi khotbah motivasi dijadikan telaga angan-angan, berharap setelah datang dan mengikuti tuturan strategi dari motivator, hidup seseorang bakal sukses. Tentu saja dengan definisi sukses terkini. Mampu menyelesaikan masalah-masalah tanpa harus berpening-pening ria, seringan solusi yang diberikan motivator ulung yang dijadikan panutan itu. Kecenderungan untuk ketagihan pun menjangkit. Kegiatan mengambil pelajaran-pelajaran dari luar, lebih besar ketimbang menggali dan memahami apa yang dialami bergejolak di dalam diri sendiri. Ujian dan masalah yang sedianya dijadikan tonggak kenaikan kelas bobot kemanusiaan, akhirnya dikarduskan sebagai momok. Dan motivator adalah seseorang yang bisa menjauhkan dari aral-lintangan itu.

Padahal, apa jadinya jika masalah tidak ada atau dianggap tiada? Hidup jadi datar, dan orang tak lagi punya penggaris untuk mengukur kualitas hidupnya.

Saya tidak sinis dengan perhelatan-perhelatan motivasi yang sedang gaduh di kota-kota, juga media. Namun hendak memberi usulan letak. Bahwa motivasi berikut pentas-pentas yang menyangganya itu baik, apabila diletakkan sebagai kursus cara berpikir. Melatih kepiawaian dalam mengurai tiap persoalan agar sesuai ruang dan waktu, lewat percontohan-percontohan kejadian yang dialami orang lain. Untuk selanjutnya pulang ke diri sendiri, mencetak formula-formula baru dari adonan penyerapan pengalaman liyan tadi. Tetap saja, pulangnya adalah ke dalam diri. Sebab porsi kemampuan tiap orang berbeda. Keberhasilan itu masing-masing, juga bertahap, tidak bisa disepadankan dan direngkuh sekali dayung, apalagi dibuat buku panduan.

Kemiskinan memang berat, tapi jika tolok ukurnya adalah miskin harta, itu masih belum tentu. Yang sangat memprihatinkan adalah miskin jiwa, tipis mental, kere spiritualitas. Hanya untuk memberi makanan kepada tetangga lapar, seseorang perlu menghitung neraca pamrih. Ketika hendak melaksanakan tugas kemanusiaan dan perbuatan dalam ranah kebaikan, dia perlu mendengar ceramah dulu, tentang betapa itu semua sebagai tugas utama manusia. Sampai yang lebih mencengangkan, pengabdian kepada Tuhanpun ditimbang dulu dengan berapa banyak laba pahala yang didapat. Kemiskinan spiritualitas lebih berbahaya dari kefakiran harta benda, dia mengobrak-abrik nilai, dan menyeret segala sesuatu kepada transaksi-transaksi yang dimaterialkan, diorientasikan kepada laba-rugi kebendaan.

Bagi saya, mereka yang sedang mengalami kemiskinan harta, justru punya tempat yang istimewa. Dalam gempita kapitalisme yang mengajak semua orang untuk membeli, memiliki dan melampiaskan keinginan, orang-orang miskin harta, sanggup tidak ikut serta. Meskipun disebabkan ketiadaan sumberdaya untuk ikut pesta, tapi bukankah itu tempaan yang tidak remeh? Berani lapar, ketika yang lain rakus melahap makanan, tak takut berserah diri kepada Tuhan sewaktu yang lain berbondong-bondong menuntut. Barangkali percontohan yang saya tuliskan terlalu muluk. Tapi itulah sisi-sisi baik besar yang ada dalam kemiskinan.

Memang susah terjadi, mendapati orang miskin sebagai keynote speaker di seminar-seminar motivasi. Sebab mereka adalah golongan yang sudah terlatih untuk tidak turut latah dalam festival kekerontangan jiwa. Level mereka lebih tinggi dalam kancah persoalan kesulitan hidup. Mereka berkali-kali lulus kelas penderitaan. Sudah mempunyai ketebalan nyali untuk hidup miskin, saat sebagian yang lain berlomba-lomba menumpuk harta benda. Daya tahan yang luar biasa, dan kualitas yang sukar dicoba. Kepada kemiskinan, semestinya kita perlu belajar, bahwa dunia memang lebat dengan ranjau kesengsaraan, tapi apakah ada pilihan mundur?

Selalu tersedia sisi-sisi alternatif, agar hidup dipandang sebagai kelengkapan. Bukan sekadar sibuk menggugat Tuhan dengan parameter keadilan dan ketidakadilan. Atau mengeluh panjang, kemudian mengunjungi sebuah perhelatan motivasi, hanya untuk mendengar nasehat “Bersabarlah, hidup memang sulit. Jangan menyerah, ikuti langkahku, perhatikan kata-kataku. Selepas ini hidupmu akan lebih baik. Salam Sukses”. Weh, motivasi atau motif nasi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s