Baliho

(Dari sebuah papan iklan, transaksi berlangsung. Citra ditukar oleh kepasrahan untuk terbujuk) 

Apa perbedaan baliho kampanye pemilihan kepala daerah dengan papan iklan sebuah produk? Sepanjang perjalanan, pertanyaan itu menggelayut dikepala saya. Sejak mobil yang saya tumpangi berangkat ke arah tujuan, kanan-kiri jalur terlewati, terkesan serupa etalase yang menawarkan rayuan-rayuan politik juga perniagaan barang. Tentang seseorang yang berpeci hitam, dengan wajah berseri-seri yang terpampang jelas bersanding dengan tulisan-tulisan tentang penawaran dirinya sebagai pemimpin, hingga bujukan sekian produk yang dipotret ilustratif menyuguhkan sejumlah deskripsi tentang fungsi.

Apabila dipancang bebarengan, antara kedua jenis iklan tersebut, sekilas memang akan tampak sama. Semuanya tentang sajian untuk memilih, mengenai desakan untuk membeli. Yang kentara membedakan adalah siapa yang bertestimoni disana. Saya tidak menelisik papan iklan tertentu yang spesifik, hanya analisa dari pemandangan rata-rata. Jika papan iklan produk, sebuah barang atau jasa, “seakan-akan” ditawarkan oleh pihak ketiga. Bisa produsen atau pemakai produk tersebut. Diwakilkan lewat kalimat-kalimat kesaksian yang menyasar penonton iklan, untuk turut merasakan fungsi maupun khasiat produk. Berbeda dengan pariwara politik, mengenai hajatan besar pemilihan kepala daerah. Secara kasat mata, seseorang yang dicitrakan pada lembar  reklame itu, berbicara sendiri, menawarkan dirinya. Dia mengunggulkan apa yang dipunyainya, menyatakan kemampuan dan kemauan diri tidak melalui testimoni orang lain.  Seakan sedang berpidato merentet informasi tentang kapabilitasnya, lalu ditutup dengan ujaran “Pilihlah, Saya!”

Logika demokrasi yang berjalan di negeri ini kerapkali bertabrakan dengan nilai-nilai kepatutan yang umum diyakini orang banyak. Seperti tindakan menawarkan diri sebagai pemimpin itu. Saya ingat, dikampung tempat saya dibesarkan, bilangan pesisir utara Jawa Tengah, sering terjadi, hanya untuk memilih seorang ketua kelompok tani saja, mesti menempuh kepelikan serius. Seseorang yang ditunjuk menempati posisi itu biasanya, akan keberatan terlebih dahulu. Mengungkapkan sekian alasan-alasan kerendah-hatian untuk menghindari orang lain memilih dirinya. Ada tawar menawar yang bergulir dan seru. Para pemilih, yang menimbang bahwa seseorang itu mampu atau tidak, mendesak melalui argumentasi kemampuan. Mencocokkan kebutuhan kelompok dengan kebisaan orang tertunjuk, beserta deretan alasan. Hingga tercapai kemufakatan yang bulat, membuat sang kandidat tak mampu mengelak lagi.

Ada diskusi yang mengalir. Bahwa pencarian pemimpin  adalah proses tawar-menawar dengan menyertakan basa-basi kearifan. Sejumlah orang yang berkumpul, hendak menitipkan kepentingan-kepentingannya guna dikelola oleh satu orang pengatur, demi tercapainya tujuan bersama. Lalu calon yang dipandang mampu tersebut, mengungkapkan sisi lemah dirinya, dengan tujuan-tujuan penerangan, bahwa tak ada manusia sempurna. Menangkis ekspektasi berlebihan.

Memang akan tampak naif, menyaksikan adegan itu.  Bahwa setiap orang punya kehendak untuk menguasai, hasrat memimpin sesuatu, namun kenapa harus menghindar dengan mengajukan rentetan alasan-alasan keberatan? Tapi bukankah dibalik itu terdapat dialog-dialog untuk meredam harapan keberhasilan yang terlalu muluk? Orang tidak lantas membabi buta dengan asanya. Rasionalitas menjadi bahasan pokok lewat pembicaraan dalam proses tawar-menawar tersebut. Kemampuan seseorang tidak dijabar hiperbolik, dan kekecewaan dengan kemungkinan-kemungkinan gagal, bisa disiapkan semenjak awal.

Dalam metode pemilihan kepala daerah terkini, barangkali dialog-dialog seperti bisa terjadi di tataran partai politik dengan kandidat yang diusungnya. Meskipun keraguan muncul, apakah pada suasana perilaku partai yang misterius dengan jurus-jurus muslihat “yang penting menang” itu kearifan-kearifan seperti itu mampu mereka lakukan. Di tengah syarat-syarat atas kertas yang diajukan serba muluk, tetapi teknisnya justru uang yang berbicara, saya rasa itu pengharapan yang sia-sia.

Pada Kedalaman hati tentu bertanya, bagaimana mungkin mempercayai seseorang yang berkoar-koar bahwa dirinya mampu berbuat ini dan itu? Menonton gambar seseorang yang menawarkan dirinya dengan daftar kepenguasannya atas problematika kekuasaan. Sementara jatidiri orang tersebut hanya bisa didapat lewat kilas-kilas pada media? Sedang media sendiri, mencantum atau memberitakan perihal figur, sebatas kepentingannya. Tentu jauh dari lengkap. Dia bukan tetangga semua orang, bukan pula saudara serumah dari semua orang, yang akrab dan dikenal psikologis juga sepak terjang sosialnya oleh khalayak luas. Sosok-sosok yang terpajang di baliho-baliho itu adalah seorang yang tiba-tiba menyeruak lantas teriak “Hei, lihat saya, saya hebat!”

Setiap orang tentu punya perangkat penimbang, untuk menakar kesombongan. Apakah dengan melihat baliho-baliho itu, software penganalisa derajat keangkuhan seseorang menjadi tumpul? atau ukuran bahwa seseorang itu sombong atau benar-benar mampu melakukan sesuatu sudah remang-remang?

Demokrasi adalah jalan panjang yang mestinya terus dikoreksi. Meskipun resikonya adalah lelah. Dia memang bukan Tuhan yang harus dipuja habis-habisan. Tapi hidup bersama adalah soal mengelola penemuan-penemuan cara menuju utopia keharmonisan. Dan demokrasi barangkali, sampai hari ini adalah pilihan yang sedang dijalani. Logika bahwa untuk menyatukan keinginan orang banyak yang sangat beragam itu mesti ditempuh dengan musyawarah-musyawarah sebagai jembatan, menjadi dasar atas pemetikan sistem itu.

Partai politik di klaim sebagai representasi atas kehendak rakyat. Meskipun inisiatif pendiriannya dilakukan secara personal. Tujuan-tujuannya dibingkai dalam lingkup komunal eksklusif. Sebab sampai kini, belum ada tradisi untuk membuka informasi tentang daftar anggota partai secara terang-terangan, lewat media apapun. Sehingga seseorang bisa tahu, siapa yang konon mewakilinya dari ruang kepartaian. Konon katanya, siapapun yang duduk di bangku DPR, yang kemudian menganggap diri sebagai wakil rakyat, masuk dan disortir lewat jalur kepartaian. Maka kawahnya adalah partai. Kumpulan itu yang bertanggung jawab atas tahu-tidaknya rakyat dengan seorang kandididat. Sebenarnya, bila telaten, Pengenalan figur bisa dicicil, tidak dengan mendadak, ketika menjelang pemilu, sebuah potret asing terpajang ditepi jalan, lantas berbisik “saya wakil anda di DPR lho”. Tapi itu adalah rangkaian rumit, yang bikin capek. Lalu partai politik, sepertinya tidak hobi lelah.

Menjelang akhir perjalanan, saya mencoba menarik garis ideal, membayangkan jika seandainya baliho iklan politik pemilihan kepala daerah bisa serupa dengan iklan produk. Metode testimonial yang acak. Kesaksian tentang kemampuan seorang calon, diberikan oleh pihak ketiga. Bisa tokoh masyarakat yang telah teruji kredibilitasnya lewat kesaksian akan perbuatan-perbuatan orang termaksud yang menghasilkan manfaat bagi kalangan luas, atau disampaikan oleh orang kebanyakan dengan variasi sosok yang lebih banyak dan mampu dikonfirmasikan melalui pembukaan jalur-jalur komunikasi. Seperti menerakan nomor telpon penyaksi dan semacamnya untuk mengesankan arah pertanggungjawaban testimoni. Ini memang terkesan konyol. Masih rawan kebohongan dan berbiaya tinggi.

Tapi mengelola negara, juga daerah memang bukan hal yang sederhana. Menggoreng kepentingan yang berjubel-jubel dalam wajan institusi, bukan sesuatu yang gampang. Meskipun kesulitan adalah sebuah resiko. Siapa suruh bikin negara?

Iklan politik, Iklan produk, pengumuman tentang sekian keunggulan. Didalamnya ada kebohongan yang disiasati agar nampak rapi, atau kejujuran yang dipendam supaya tak membatalkan kemungkinan perolehan laba. Semuanya dikemas dalam bungkus yang serba indah supaya yang tak kasat mata tetap terlindungi. Bukankah kebohongan akan jadi boleh ketika tidak banyak orang memprotesnya? Kecuali kita bersepakat secara konsisten, untuk tidak mengijinkannya, sama sekali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s