Negeri Calon, Bangsa Mantan

(Sebab calon adalah harapan dan mantan adalah kenangan)

Tak ada yang bisa menyaingi kecepatan perubahan respon atas kharisma dan tindak laku seorang pemimpin, seperti halnya bangsa Indonesia. Sudah berkali-kali menobatkan seseorang untuk duduk baris terdepan lokomotif negara, dengan gegap gempita, lalu pada saat yang tak terlalu lama, kontan berbalik mencercanya.  Ini semacam pertanda bahwa bangsa ini memang dikaruniai keunggulan khusus sebagai kumpulan manusia yang ahli dalam memuji, sekaligus pandai pada urusan mencaci. Kritis serta jeli.

Berapa orang pemimpin yang pernah memegang tampuk pimpinan puncak dinegeri ini yang awalnya dipuja habis-habisan, lalu kemudian dibanting dengan lancaran kebencian berkeping-keping? Indonesia adalah bangsa yang serba cepat. Mudah jenuh dengan kemandegan, berani hidup dalam dinamika yang lebih tinggi dari bangsa-bangsa dibelahan bumi lain.

Tapi tunggu dulu, dari sisi yang lain, negeri ini juga dianugerahi, sifat gampang mengenang. Aroma masa lalu yang didambakan sebagai gambaran ideal kehidupan, lekat menyeruak di ruang-ruang sosial.  Seorang presiden yang ketika menjabat bisa kerepotan dicecar kritik pedas juga hunjaman hujat, namun setelah usai masa kerja, mampu diingat sebagai pahlawan yang dirindukan. Seorang gubernur, bupati, camat , lurah bahkan RT sekalipun bisa berbau wangi ketika sudah pensiun dari bangku kuasanya. Dikenang lewat seremoni-seremoni memori, “ah lebih enak masa itu, ketika dia penguasanya, ketimbang sekarang”

Barangkali benar, bangsa ini adalah produsen sekaligus pemuja para mantan. Kelengkapan teknologi perasaan yang menempatkan siapapun pemimpinnya sebagai sosok yang dimungkinkan untuk dilambungkan setinggi-tingginya kelebihan dirinya, lalu pada saat yang tidak terlalu lama dikuliti kekurangan-kekurangannya.  Hingga datang suatu hari, pada saat keresahan bernegara tak kunjung rampung, orang-orang berbondong mengingat daftar kebaikannya, di kamar-kamar perenungan.

Lihat saja keadaan yang melanda para figur-figur yang pernah jadi pejabat di teras kekuasaan. Begitu usai masa baktinya, tiba-tiba mereka bisa mengubah perilakunya drastis. Menjadi orang bijak yang penuh dengan solusi-solusi atas berbagai persoalan, bertukar baju sebagai penasehat-penasehat yang tahu banyak dan jadi narasumber untuk digali pengalamannya. Padahal, ketika sedang menggenggam tongkat kewenangan, potretnya tak seanggun itu. Berkelit, bertahan juga berbantah dengan luncuran-luncuran kritik. Kebijakan-kebijakan yang dilemparnya bersambut dengan koreksi keras, penolakan atau riuh rendah persengketaan argumentasi.  Seorang mantan pemimpin mendadak menjadi orang-orang suci yang disambut dengan kehormatan-kehormatan seremonial. Perlakuan yang kontras dengan ketika dia masih menjadi masinis bagi rangkaian sepur bangsa ini.

Tak perlu menggunakan analisa yang berlapis-lapis untuk memahami perilaku kebanyakan kita, bangsa Indonesia dalam merespon seorang pemimpin. Dari saat dia masih berperan sebagai kandidat hingga selesai lantas bergelar mantan. Ini bukan persoalan yang serius-serius amat. Mungkin karena begitu besar dan luasnya keanekaragaman manusia yang menghuni Indonesia, sehingga tak mudah memimpin kumpulan ini. Menjadi pemimpin di negeri ini adalah resiko besar, untuk melayani kehendak yang tak sedikit. Fatalnya, hiruk pikuk yang sedemikian ramai dan berlari cepat, membuat tak cukup waktu untuk mempelajari seseorang yang hendak diangkat sebagai panglima kehidupan bernegara. Informasi tentang siapa seorang yang hendak dijadikan pemimpin, untuk kemudian disaring dalam pemilihan umum itu, hanya sepenggal-penggal diterima. Kesempatan-kesempatan untuk dalam memahami apakah seseorang layak atau tidak, seakan menyempit. Indonesia butuh cepat. Jangan berlama-lama menilai sesuatu, cukup permukaannya saja dulu. Yang penting, angkat dulu dia sebagai pemimpin, jika lambat mari diturunkan, lalu bergegas memilih lagi.

Hingga kini, saya tak mendeteksi ada orang yang kapok menjadi presiden Indonesia. Bahkan banyak, pada tingkat gubernur atau bupati, malah ketagihan menenggak anggur kekuasaan. Mereka bisa berinisiatif melanggengkan tahtanya dengan meminta kerabatnya untuk mencalonkan diri pada pemilihan berikutnya. Sejak masa reformasi, berakhirnya orde baru, hingga sekarang, kita mendapati, mereka yang maju sebagai kandidat presiden sewaktu jelang pemilu, adalah wajah-wajah yang relatif sama. Seakan dari ratusan juta orang Indonesia tak patut menggantikan mereka. Hingga muncul kalimat lucu yang dijadikan sajian untuk guyon di lingkaran-lingkaran kecil masyarakat, “Syarat menjadi presiden di negeri ini adalah pernah menjadi presiden atau minimal pejabat yang tak jauh-jauh dari posisi itu”

Negeri ini diisi oleh orang-orang pemaaf. Keluhuran-keluhuran budi yang dipunyai, menjadikan siapapun yang pernah dicaci telanjang, akan dengan mudah diampuni. Untuk itulah, istilah mantan pemimpin adalah ungkapan tentang keadaan dimana seseorang yang pernah dibenci dan dicaci, menginsyafkan diri. Mantan pejabat adalah para pertapa yang sedang membersihkan diri, menunggu saat untuk mencalonkan diri kembali, atau minimal berubah peran sebagai pengamat dan komentator yang cerdas. Kembali meraup simpati orang banyak. Barangkali karena bangsa ini tidak rajin untuk menyimpan ingatan buruk. “Yang lalu biarkanlah berlalu, mari jelang masa yang baru” Begitu peribahasa yang yang didengang-dengungkan.

Melihat polanya, tempat terbaik untuk selamat dari lilitan kecepatan respon bangsa Indonesia adalah jangan menjadi pemimpin dinegeri ini jika tidak siap dihabisi. Seorang yang hendak menjejaki tangga kepemimpinan, sebaiknya mulai berhati-hati. Bila tak kuat-kuat amat, lebih baik urungkanlah niat. Supaya perjalanan hidupnya lolos dari cela, batalkan keinginan untuk jadi bupati, gubernur, atau presiden sekalipun. Posisi teraman adalah tetap menjadi calon, atau betah-betahlah berpredikat mantan.  Sebab dengan itu, seseorang bisa terus mendulang simpati dan mendiami situasi suci. Kandidat adalah kursi yang lebih empuk ketimbang sofa pemimpin. Sebuah peran yang dipuja, karena mengampu harapan-harapan baik. Digadang-gadang sebagai pengemban cita-cita. Sementara apabila dia meneruskan kehendaknya, akan menuai resiko besar. Menjadi pemimpin adalah kesiapan untuk dicaci, lepas dari puja-puji.

Demikian pula dengan posisi sebagai mantan. Dalam bahasa jawa ada istilah “mandheg pandita”. Perlambang tentang seorang pemimpin yang usai melakoni tugas. Duduk di kesunyian, menyambut usia sepuh untuk lebih fokus pada pendalaman maknawi akan kehidupan. Mantan pemimpin Indonesia adalah orang bijak yang telah lulus dari kelas penderitaan. Sudah lunas dicaci, telah lolos dari seleksi kritik bangsa besar. Dalam kebiasaan sehari-hari orang Jawa, dikenal istilah “misuh” kemudian diterjemahkan dengan agak kurang cocok , lewat  kata “memaki”, padahal maksudnya bukan itu. “Misuh” adalah simbol lontaran lisan dalam sejalur pekerjaan untuk “wisuh”, artinya bersih-bersih atau mencuci.  Maka seorang mantan pemimpin adalah figur yang selesai dibersihkan dan siap masuk dalam koridor peran sebagai pandita, guru bagi banyak orang, produsen kebajikan dan kebijaksanaan.

Bagi para calon, sebaiknya dipikir lagi. Batalkanlah niatan menjadi salah satu pejabat puncak di negeri ini kalau hanya takut dimaki. Alergi terhadap kritik berhadapan dengan kemampuan evaluasi bangsa ini yang setajam pisau pembelah rambut, merupakan kelemahan fatal yang tidak bisa dibawa serta. Indonesia butuh orang kuat dalam arti liat, lentur juga gembur, dan yang terpenting tidak cengeng, yang siap memandu didepan kemudi negara. Jika tak punya itu, lebih baik keluar dari kalangan, dan menjadi rakyat biasa.

Begitu juga dengan para mantan. Predikat sebagai pandita, sudah cukup mulia. Layaknya pakaian, mantan pemimpin adalah orang yang telah berhasil dicuci. Nikmati saja usia senja, dan lebih baik tak mencalonkan diri lagi. Kecuali dia belum lulus uji kebersihan, sehingga “diwisuhi” dengan “pisuhan” oleh ratusan juta manusia.

Indonesia adalah negeri calon dan mantan. Bangsa ini sedang terus sibuk menyaring, siapa sesungguhnya yang paling ideal. Khusnul khatimah membawa jajaran pulau-pulau nusantara pada kegemilangan yang diimpikan. Bertarung melawan kemandegan, dalam permainan ingat dan lupa. Kecuali semua telah capek, dan pemimpin idaman tak kunjung ketemu, lantas terdiam. Dalam lelah berujar “Oh ya, kenapa kita susah begini ya? Jangan-jangan karena Tuhan tidak pernah kita libatkan dalam pencarian?” lalu semua termenung, menenggelamkan diri dalam genangan kepasrahan. Jangan-jangan, kepada Tuhanpun kita menerapkan logika “calon dan mantan”? Memujanya sebelum segala sesuatu dimulai, lantas menyucikannya saat selesai segala persoalan. Tapi lupa menyertakannya pada tiap perbuatan. Jangan-jangan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s