Suara

(Bisa jadi, hal pertama yang menghadirkan rangkai imajinasi adalah suara. Termasuk yang menceraikannya)

Bukan usaha yang gampang untuk menikmati pertunjukkan wayang. Duduk berjam-jam, terlibat dengan bahasa jawa yang selang-seling bisa ditangkap artinya lalu kadang pula kabur, karena keterbatasan referensi kosakata yang dimengerti. Ini masalah kecintaan yang secara sadar mesti dilakukan dengan telaten. Hadir dan melebur dalam pertunjukkan wayang barangkali ikhtiar yang tak bisa sekali bisa. Apalagi seperti saya, generasi yang dibesarkan dengan bahasa jawa “gado-gado”, angkatan yang tumbuh diiringi budaya visual berjarak macam televisi, keturunan yang terbiasa menafsir simbol kentara, dengan tingkat kedalaman interpretasi yang tak seberliku wayang.

Dahulu, saya takjub, justru bukan dengan kesetiaan orang-orang yang menonton pemanggungan wayang. Tapi lebih kepada mereka yang menikmati bungkusan cerita-cerita yang disari dari epos mahabharata dan kisah ramayana itu, dari radio dan kaset-kaset.  Betapa para pendengar itu mampu memangkas sekian kesulitan-kesulitan imajinatif karena tak hadirnya visual, lantas bergabung penuh dengan suasana narasi yang dilontar via suara oleh dalang.  Ketika saya kecil, untuk menyelenggerakan pertunjukkan wayang, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Biasanya, hanya orang yang berpunya, yang mampu menggelarnya. Maka lapis-lapis masyarakat yang lain membiasakan diri untuk merasakan kelezatan sajian wayang melalui media yang lebih murah, seperti radio atau kaset tadi. Menjaga hubungan dengan kisah-kisah klasik dan legendaris itu tetap dilestarikan melalui cara-cara yang paling mungkin dilakukan. Selain juga persoalan kebutuhan akan hiburan, tapi wayang sepertinya tak hanya berhenti disana, dia lebih sebagai alarm kehidupan orang-orang di kampung saya. Menjaga ritme asupan nilai-nilai yang terselip dalam barisan adegan yang dimainkan sang dalang.

Fenomena keakraban banyak orang terhadap kisah-kisah wayang yang dituturkan melalui media suara itu,  memunculkan keistimewaan-keistimewaan tersendiri. Kepiawaian mereka dalam menandai karakter suara sesosok tokoh wayang yang sedang bicara, lalu membayangkannya dalam benak masing-masing, adalah proses yang menarik untuk ditelisik. Kemampuan identifikasi para pendengar, mengenali satu demi satu nada pembeda logat, ketukan bunyi masing-masing figur dalam narasi yang diceritakan dalang, merupakan kelebihan yang tidak bisa diremehkan.

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk visual. Dimana pada setiap kesempatan, untuk mendeteksi sesuatu, sebelum itu diturunkan dalam sistem bahasa maupun ekspresi tubuh, manusia akan membingkainya dalam rabaan-rabaan fotografik dalam benaknya. Kegiatan mendengar, melihat atau merasa, hampir-hampir tak ada yang lepas dari pemadatan visual terlebih dahulu. Ketika mendengar kata lalu-lintas, maka mekanisme ingatan akan segera memunculkan representasi wujud berupa gambar-gambar pada layar maya, yang kemudian disebut imajinasi. Rentetan konsep rupa yang menjadi perlambang atas sesuatu yang didengar tersebut. Tentang gambaran jalan raya yang padat dengan kendaraan, atau simbol-simbol kecil yang merupakan elemen pecahannya seperti, lampu pengatur jalan, polisi atau zebracross. Begitu juga sewaktu mencium aroma. Benak akan menarik percontohan terdekat sesuai pengalaman orang tersebut. Bau wangi bisa menimbulkan bayangan bunga, ruangan yang elegan pada sebuah gedung, atau barangkali juga kemasan parfum yang bertengger di rak saji toko kosmetik. Bergantung kepada kepadatan dan keterdekatan pengalaman yang bersangkutan.

Lalu bagaimana dengan penikmat wayang yang mendengarkan keriuhan cerita lewat media suara itu? Pada tiap dialog, aksen perkataan yang disematkan dalang pada tokoh, diserap oleh pendengar lantas mereka akan membayangkan wujud tokoh tersebut. Tentu pada wahana benak. Sementara, ketakjuban saya adalah, begitu variatifnya tokoh wayang, terutama dijawa, melahirkan kesulitan-kesulitan imajinatif, yang mestinya menuntut seseorang yang mengikuti jalan penceritaan itu untuk benar-benar akrab sehingga mampu mengidentifikasi. Mungkin seorang pendengar radio yang memutar pertunjukkan wayang, sebelumnya sudah kerap menonton sajian langsungnya. Mengenali rupa tokoh satu-satu lalu menghafalkannya. Tapi ternyata, tak begitu sepenuhnya. Seperti yang saya ungkap diatas, untuk menemukan pertujukkan wayang guna ditonton itu tak mudah. Penyelenggaraannya berbiaya tinggi, juga frekuensi pagelarannya tak bisa sering. Barangkali ada yang terjadwal dengan pasti, tapi itu tentu punya jeda waktu tertentu. Misalnya upacara-upacara adat kampung yang menjadikan pertunjukkan wayang sebagai puncak acaranya. Itupun bisa setahun sekali, atau bahkan lebih.

Berada dalam kelompok yang lekat dengan tradisi menikmati wayang dengan radio, kerapkali memunculkan kejutan-kejutan. Seseorang bisa secara tiba-tiba bilang “Oh, ini Si Tokoh A sedang menghadap tokoh B” atau “Tokoh C hendak memerangi Tokoh D” Ada keakraban yang ulet, meskipun mereka juga belum tentu bisa mendefinisikan secara pasti bagaimana tampilan tokoh-tokoh tersebut dalam bentuk padat, wayang kulit.

Saya sedang membuntuti terus, tentang misteri suara. Hingga kini, kedahsyatan fungsi suara masih menjadi teka-teki yang terus saya telusuri. Seorang ibu yang sedang menimang bayinya yang menangis, cukup mendesis atau berdendang lirih hingga membuat sang anak tertidur. Tentu semua tahu, bayi tidak bisa menangkap dengungan ibunya dalam saluran kata-bahasa. Mungkin saja yang diserap adalah rangkaian nadanya. Ada semacam gelombang-gelombang kasih sayang yang mengalir lewat alunan dendang hingga membuatnya nyaman lantas tertidur.

Pada masa lalu, orang juga terbiasa mendengarkan lelucon lewat radio. Mereka tergelak tanpa harus menyaksikan ekspresi pelaku komedi. Tak melihat raut wajah, gerak tubuh atau tingkah slapstik para pelakonnya. Mereka mendengar, membayangkan lalu tertawa. Sesederhana itu, meskipun proses yang mengalir dalam kepala tentu sangat rumit. Kita, di masa kini, yang terbiasa menikmati dagelan dengan visual yang terpampang tentu punya kemudahan-kemudahan dibanding mereka yang hanya mendengar.  Bahasa tubuh yang dilihat, dibumbui dengan celetukan-celetukan kekonyolan, menggampangkan untuk terbitnya tawa, sebagai ekspresi atas kelucuan yang berlangsung. Apalagi dijaman televisi yang menyuguhkan hiburan dagelan dengan konsep-konsep tontonan yang kuat aroma visualnya. Seorang laki-laki yang berpakaian dan betingkah ala wanita atau gerak tubuh pelawak yang menabrak kebiasaan perilaku badan, kerap dijadikan tanduk utama untuk merangsang tawa. Orang yang merosot dari duduknya, gaya melamun yang dibuat beda, seperti yang sering dilakukan oleh grup legendaris Srimulat, bisa ditarik sebagai contoh.

Menjelang saat-saat khusus, orang butuh mengenang. Lalu media yang paling cepat menghadirkan peristiwa di waktu lampau itu adalah lagu. Arus ingatan seakan berirama, begitu sebuah lagu diputar,  seperangkat gambar masa-masa yang diungkit itu hadir dalam ingatan. Rindu, nelangsa, bahagia dan romantis berbaur saling jejal. Lagu-lagu yang berkait dengan pengalaman-pengalaman yang hendak diulang kembali dalam jajaran nostalgia itu, seperti temali yang membuat jalinan-jalinan adegan. Hingga sang pengenang bisa masuk, bersatu kembali dengan kejadian masa itu.

Kekuatan suara memang tak bisa dibilang remeh. Kita tahu, anak-anak akan gampang menghafalkan sesuatu ketika bahan yang ingin diserap tersebut dikemas dalam tembang. Bagaimana juga dengan ritual-ritual keagamaan yang sebagian besar mengandalkan aspek penyuaraan untuk membawa seseorang pada suasana keilahian. Doa yang dipanjatkan dengan konsentrasi tinggi dan pengharapan penuh, selalu ditumpangkan dalam kendaraan bunyi serta irama. Atau perlambangan-perlambangan suasana rasa yang sering diwakilkan oleh bentuk-bentuk bunyi. Orang mengeluh dia akan menyuarakan helaan napas, orang disengat pedas akan mendesis, atau kegeraman atau kemarahan yang kerap direpresentasikan dengan teriakan dan ledakan kata. Semua tentang suara, ketukan juga irama. Hingga ujungnya, kedamaian dilambangkan dengan kesunyian, lalu keruwetan disimbolkan dengan kegaduhan.

Begitulah, suara telah memukau saya. Hingga pagi ini, saya menulis, ketak-ketuk bunyi papan huruf yang ditekan jari, saya dengar seperti melodi yang melahirkan nuansa tertentu. Barangkali itu kenapa, penulis-penulis lama, masih suka menggunakan mesin ketik yang jelas menghasilkan suara lebih keras dibanding ketukan papan huruf pada komputer jinjing. Ada suasana yang meletupkan semangat-semangat khusus ketika bersinggungan dengan irama mesin ketik. Sehingga inspirasi yang mengalir bisa ditorehkan pada kertas.

Sementara ini saya menyimpulkan, bahwa suara adalah anak sulung dari alam ide. Visualisasi pada deret imajinasi ketika seseorang berpikir, diletup oleh suara. Dia sebagai pemantik atas apa yang hendak diproses benak menjadi produk ekspresi tubuh atau bahasa lisan. Suara adalah muasal terbangunnya ruangan bayangan, sekaligus penjahit dari bingkai-bingkai fotografik dalam ingatan. Maka respon apapun akan lebih cepat dikeluarkan ketika sebuah kejadian dipantik lewat suara. Mendengar sesuatu yang menggelegar orang akan terkejut, penyaluran kemarahan, kesedihan atau kebahagiaan, bisa lebih ringkas dengan lemparan-lemparan tata suara.

Layaknya pertunjukkan wayang tadi. Saya pikir dominasi penarikan konsentrasi penikmat pagelaran itu di pegang oleh unsur suara. Sebab wujud wayang secara fisikpun tidak begitu saja mudah di kenali, apalagi dalam jarak yang jauh. Sementara tata letak panggung dalam pertujukkan, menciptakan jeda yang tak pendek antara posisi wayang terpampang dengan tempat penonton duduk. Identifikasi berjalan, lebih besar dari permainan aksen ujaran sang tokoh yang dituturkan dalang. Konon, dimasa lalu, bahkan pertunjukkan wayang disaksikan dari belakang layar. Sehingga orang hanya melihat bayangan-bayangan hitam yang berkelebar pada layar putih yang disorot lampu blecong. Entah benar atau tidak. Jika itu terjadi, maka mendekati kebenaran bahwa pertunjukkan wayang adalah soal bagaimana suara memantik kemampuan imajinasi seseorang, membebaskan deskripsi atas adegan yang berlangsung dalam benak masing-masing.

Sewaktu duduk disekolah menengah, saya punya seorang teman yang tergila-gila dengan penyiar radio. Dia memujanya layaknya kekasih yang terus diintai untuk selalu dekat. Anehnya, teman saya tak pernah mau bertemu langsung dengan sang penyiar. Dengan diplomatif dia beralasan tentang keenggannannya bertatap muka “Aku tidak ingin kecewa. Siapa tahu dia tidak cantik, nanti patah hati. Biarkan saja aku jatuh cinta pada suaranya”. Hingga suatu hari, pada saat-saat yang tidak dinyana, waktu mempertemukan mereka tanpa rencana. Tak bisa mengelak, entah bagaimana penilaian dia terhadap paras penyiar, apakah jelita atau tidak, ternyata itu tak sedikitpun mengubah takaran asmaranya. Kekuatan suara telah melampaui parameter penilaian akan fisik. Dan sekarang saya ingat kejadian itu, sambil mengenang, menghadirkan kembali sayup-sayup obrolan saya dan teman tadi, sembari tersenyum “Suara, siapa sebenarnya kau?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s