Suyud

(Tak ada penderitaan yang sempurna meletupkan ratapan. Bahkan kematian sekalipun. Dia bisa jadi sahabat yang tidak seram) 

Namanya Suyud, lelaki tua yang masih sanggup mengaduk lumpur dengan tangannya. Mata renta, rambut putih nyaris merata. Kulit keriput  menghitam membalut tulang yang kurus. Saya memanggilnya “mbah”. Kebiasaan orang jawa untuk memanggil mereka yang telah berusia senja.

Dia pembuat bata yang ulet. Rumahnya yang mungil dikelilingi kubangan, sumber tanahuntuk bahan baku karyanya. Hampir 30 tahun kakek itu akrab dengan lempung. Tak goyah, dari waktu ke waktu, setia dengan caranya mencari nafkah.

Tak begitu Istimewa, mbah suyud  adalah orang tua seperti pada umumnya. Bergelut dengan hidup yang liat, pindah dari Gunung Kidul, Yogyakarta, lantas bermukim di Sumatera, karena tak punya banyak pilihan. Bersama Istrinya yang tambun, meninggalkan rumah welit hasil warisan sang bapak. Berduyun bedol desa, bersama para tetangga, menjajal peruntungan lewat program transmigrasi. Menguji nasib dengan babat alas di tanah andalas.

Tiap kali bertemu, yang dia tanyakan kepada saya selalu sama, tentang kabar tanah Jawa yang selalu dirindukannya. Maklum, sejak kepindahan pada tahun 1972 hingga kini, dia tak pernah menjenguk lagi kampung halamannya di Jogja. Saya tidak tahu alasannya, kenapa lelaki itu tak pernah pulang. Selain juga, tidak sekalipun saya bertanya langsung mengenai hal itu. Seperti ada persoalan-persoalan yang membuatnya jengah menengok tempat kelahiran.

Lalu seperti biasa, saya menjawab dengan guyon, “Jawa sudah penuh sesak, mbah. Beruntunglah panjenengan yang sudah hijrah. Setidaknya tidak kesulitan mencari tanah gembur buat bikin bata”. Kami tergelak, lalu obrolan kian memanjang. Dengan bahasa jawa krama inggil, saya menyambut pertanyaan-pertanyaan lugunya.

Suatu malam yang gerimis, saat hendak menutup pintu rumah, saya dikejutkan oleh kelebat bayangan mbah Suyud mendekat. Tergopoh memegangi ujung ikatan sarungnya yang telah dilipat pendek melingkar pinggang.  Titik-titik air membasahi kulit wajah tuanya.

“Ada apa, mbah?” tanya saya, sesaat setelah kami berhadapan. Sembari melebarkan daun pintu, saya persilahkan dia untuk masuk.

“Ah, disini saja mas. Saya ndak pakai sandal” Jawabnya datar. Kedua kakinya yang telanjang tanpa terompah, dilekati lumpur. Hujan kian deras di luar sana.

Segera saya meraih bahunya. Mengajak untuk tidak sungkan masuk dalam rumah, tapi dia tetap menolak. Dengan senyum kecil, bergeser beberapa langkah merapat ke lantai teras, agar air hujan tidak semakin membasahi.

“Sampeyan bisa datang kerumah saya, sekarang?” Saya terhenyak mendengarnya. Ini tidak biasanya. Jarum jam dinding tengah menunjuk pukul setengah dua belas malam.

“Kenapa mbah? Ada yang bisa saya bantu, tanpa harus ke rumah njenengan?” Saya memang sedang kondisi tidak bugar. Kelelahan karena banyak menempuh perjalanan. Baru kemarin malam datang dari Jakarta, dan saat ini saya hanya ingin merebah, melepas kepenatan yang mencengkeram badan.

“Tapi, saya butuhnya sampeyan datang ke rumah. Benar, ini mendesak. Saya minta bantuan sampeyan mengurus jenazah istri saya”

Hening. Saya terkejut dan tak tahu harus berkomentar apa. Sekian detik, kami tak bersuara. Kalimat terakhir  dari orang tua itu sungguh diluar semua dugaan. Dalam sengatan kekagetan itu, saya bergegas tanpa harus banyak omong.  Mengunci pintu rumah dengan cepat, lantas menggandeng pria tua itu menuju rumahnya.

Layaknya air langit yang jatuh lebat malam  itu, begitulah kilasan pikiran yang berpusar dalam kepala saya.  Seorang perempuan meninggal, dan suaminya dengan sikap yang adem, keliling menghubungi tetangga untuk meminta bantuan. Sungguh luar biasa. Dari ketenangan yang dibawa mbah Suyud, ketika menghampiri saya dirumah tadi, sudah menggambarkan betapa tegarnya dia menghadapi drama kematian Istrinya.

Sudah bertahun-tahun istri mbah Suyud terserang kelumpuhan tubuh. Hanya mampu bersuara, itupun dengan intonasi yang tak begitu jelas. Hidupnya bertumpu pada pelayanan keseharian oleh suaminya. Mulai dari buang air, hingga berganti pakaian. Nyaris pasrah. Sudah berbagai jenis pengobatan dijalani, tapi tak menghasilkan kesembuhan menyeluruh. Isteri mbah suyud mesti rela terbaring di ranjang kayu, beralas kasur kapuk.

Tapi siapa nyana, malam itu adalah waktu terakhirnya di dunia. Dan saya adalah orang kedua yang memegang jenazah perempuan itu, setelah suaminya. Anak-anak mbah suyud bermukim di kampung-kampung yang jauh. Ada satu wanita dan dua lelaki. Ketiganya mempunyai semangat merantau persis orang tuanya. Sejak menikah, mereka menyebar. Rata-rata tinggal berjarak tiga hingga empat jam, dari kampung kami.

Selembar kain coklat bermotif burung menutupi tubuh perempuan berperawakan tambun itu.  Empat batang lilin menyala mengelilingi. Mbah Suyud yang menyiapkannya sebelum mendatangi rumah saya tadi. Saya tak kuasa membayangkan secara rinci, tentang adegan itu. Begitu kokohnya pertahanan akan kesedihan, pada seorang suami yang merawat isterinya hingga menjemput ajal. Ketegaran yang langka serta tulen, dari seorang kakek renta yang hidupnya biasa-biasa saja.

Tetangga lain mulai berdatangan. Dalam perjalanan menuju rumah duka, saya menyempatkan diri mampir mengetuk pintu beberapa rumah. Mengabarkan adanya warga yang meninggal dan mengajak untuk turut berjaga disana. Beruntung, respon yang didapat cepat. Hingga tak lama setelah saya dan mbah Suyud tiba, mereka menyusul satu per satu.

Kematian adalah peristiwa misterius. Barangkali benar, kata seorang teman, kita lebih banyak tahu dan membicarakan kelahiran ketimbang membahas kematian. Seperti terjangkit kengerian yang beranak pinak, hingga obrolan mengenai itu  disedikitkan.

Orang jawa, menyebutnya layu. Tubuh kaku yang terlentang, tulang berbalut daging. Dayanya lepas, hingga segala perangkat lunak yang bermukim didalamnya tidak aktif lagi. Seperti perangkat elektronik yang tak teraliri listrik. Diam, tanpa hasrat.

Kemana perginya pemicu kehidupan itu? Orang menyebutnya nyawa, jiwa juga ruh.  Apapun itu, saya membungkusnya dalam kotak pengertian yang sama. Entitas sumber hidup. Tak ada yang pernah tahu. Pemahaman agama memberikan keterangan yang berujung pada kepercayaan final. Kembali kepada Tuhan, bermukim ditempat-tempat yang hanya bisa dikenal lewat perspektif iman. Dalam ranah mitologi, pola penceritaan tentang teka-teki kematian, punya bentuk yang mirip. Ruh berpisah dari badan, untuk menunggu keputusan rute perjalanan selanjutnya. Apakah dia akan menepi ke alam atas, sebutlah itu swargaloka, atau dunia bawah, namakan saja naraka.

Tapi itu hanyalah pengistilahan untuk memudahkan menerka teka-teki. Pada kenyataannya tak ada yang mampu memastikan, dimana sebenarnya ruh itu berada. Kategorisasi alam atas dan bawah adalah cara manusia membangun deskripsi tentang  sisi-sisi kehidupan yang tak bisa tertangkap secara visual kasar.

Yang pasti, kematian itu terjadi, dan sang daya hidup yang tercerabut dari tubuh melanglang pada lapis kehidupan yang lain. Dia ada dan tidak punah.

Pada bangku kayu reot, saya tertegun. Masih menggantung rasa penasaran yang berat, tentang reaksi mbah Suyud yang  tenang, ketika mendapati istrinya meninggal. Ilustrasi yang bergerak dalam benak saya, seakan kaku dan tidak mampu menganggap adegan itu wajar. Bagaimana tidak? Seorang pendamping hidup yang menemani suka juga duka, dijemput maut didepan mata. Lalu dengan perasaan yang teraduk-aduk, sang suami membersihkan mayat isterinya, menutupi dengan kain, barangkali juga sempat menciumnya, sebelum akhirnya berjalan menuju rumah tetangga untuk memohon bantuan.

Sungguh bukan peristiwa yang gampang dilakoni. Mungkin saja, mbah Suyud memang setegar karang. Kuat melewati adegan yang pilu. Kesengsaraan dan penderitaan hidup telah menempanya untuk siap kehilangan apapun yang dimiliki. Perjalanan panjang selama merantau, melatih giat, pemaknaan tentang apa itu kepergian juga konsep mengenai pulang. Sebagai orang jawa yang masih menjalankan ritual-ritual kejawen, warisan leluhurnya, saya yakin mbah Suyud mempunyai berlapis-lapis kesadaran yang kentara tentang arti kematian. Bahwa yang remuk dan lapuk hanyalah tubuh. Tapi isinya, aktivatornya, tetap hidup, dan bergegas nyawiji dengan penciptanya. Gusti Allah.

Tak heran jika akhirnya kakek renta itu tidak hanyut dalam duka-duka yang menyayat. Dia tidak kehilangan sang istri. Sebab baginya ketulusan cintanya telah menempel, menyatu pada ruh yang  tercabut itu. Kasih sayangnya menyublim pada bentuk-bentuk yang lebih merdeka, tidak terikat badan material. Mbah Suyud agaknya sudah bersiap dengan kemungkinan kematian yang merenggut istrinya. Sejak kelumpuhan itu mendera, dia membekali diri dengan tameng-tameng ketangguhan. Mengakrabi wacana kematian, dan tidak membencinya.

Pikiran saya terus merayu untuk menduga-duga disebalik ketenangan mbah Suyud. Menebak setebal apa ketabahan yang ia miliki. Menerka sehebat apa pelajaran yang  direguknya dari setiap jengkal langkah kehidupan. Sayangnya, mata terlalu berat. Bahkan terhadap kantukpun saya bertekuk lutut, apalagi dengan serangan kesedihan akan kematian?

Mungkin yang saya senantiasa ingat-ingat adalah kenikmatan-kenikamatan. Hingga enggan berpisah dengannya. Padahal, mati adalah pedang tajam yang merajam segala kenikmatan itu. Tidak seperti mbah Suyud. Sangat hafal dan memahami penderitaan, juga segala hal yang dianggap tidak enak. Saking akrabnya, dia tidak mudah sedih lagi jika kesengsaraan datang. Sudah menjadi sahabat, pun dengan kematian. Barangkali begitu. Kalaupun terkaan saya meleset, tentang mbah Suyud, paling tidak saya sudah menyaksikan ketegarannya, dengan alasan apapun yang belum terjelaskan. Satu yang patut dicatat, dia adalah manusia kokoh nan langka. Seperti namanya, Suyud, pelafalan lidah jawa terhadap kata “Sujud”. Lelaki itu telah pasrah seutuhnya, setegaknya, sekuat-kuatnya. Luruh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s