Mijil

(Orang merindukan kelahiran. kembali dan berulang. Sebab hidup terlalu riuh dengan keletihan yang menggerogoti. Seakan ingin membalik keadaan. Menjadi Bayi)

Pada kelahiran yang umum didapati, selalu berlangsung paradoks yang kentara. Bayi lahir dari kandungan ibunya dengan menangis, lalu sekelilingnya, tertawa bahagia. Harapan-harapan buncah, doa-doa melangit dalam iringan lengking anak yang masih suci. Kelahiran adalah peristiwa mengharukan ditengah suasana yang bertentangan. Satu sama lain mengekspresikan nuansa yang berbeda.

Barangkali memang mesti begitu. Kebahagiaan bukanlah satu hal yang lurus, atau disebabkan semata kelurusan. Dia berliku, diisi tangis, juga diwarnai kesyahduan. Demikian juga yang berkelebat pada kejadian tatkala bayi dilahirkan. Paradoks nuansa-nuasa, campur baur rasa yang tak mampu dikotakkan pada satu-dua istilah. Beberapa kali saya menghadirinya dan merasakan getaran-getaran serupa.

Bayi adalah makhluk yang pasrah. Dia tak berdaya jika dibuang sekalipun. Tidak paham siapa penimang pertama atau disebelah mana ibunya berbaring. Kehadiran perdana manusia setelah bermukim dalam rahim ibunya, diawali dengan kepasrahan. Utuh tanpa tawar. Apakah yang berdiri mengelilinginya hendak berbuat jahat atau bahkan mengalirkan kasih sayang, dia tak bisa menolaknya. Bayi seperti sebuah bak baru, yang rela diguyur apapun, jenis air apa saja. Dia hanya menyerap. Visual, suara dan rasa-rasa. Memfungsikan memorinya yang masih tulen, untuk mengenali apa yang berlangsung.

Seperti juga terjadi pada tiap orang yang bangun dari tidurnya. Tergeragap, tak mengerti banyak hal pada detik-detik permulaan. Lantas berusaha mengingat, hingga menata kesadaran. Ada proses pengumpulan informasi yang terjadi dalam waktu cepat, untuk seseorang menguasai keadaan sekitarnya. Barangkali seperti itulah gambaran pola dasar dari kehidupan ini. Ada, lahir, terbit, muncul adalah konsep-konsep untuk menggali pengertian siapa saya, apa dan mengapa yang menyebabkan itu diadakan.

Maka jengkal peradaban mencatat tradisi-tradisi perayaan hari lahir. Orang jawa, bahkan lebih detil. Tiap 35 hari sekali diupacarakan melalui agenda selapanan. Meski sayangnya, hari-hari ini tidak banyak lagi yang mengusungnya sebagai program rutin. Kebudayaan modern mengenal acara ulang tahun. Ritual mengingat hari lahir yang diselenggarakan tiap putaran warsa. Lalu banyak lagi, gelaran serupa yang pada inti maksudnya adalah mengenang masa, ketika anak manusia dilahirkan ke bumi.

Tak berhenti disana. Tradisi memproduksi prasasti-prasasati sebagai media klangenan terhadap waktu kelahiran. Ada zodiak, shio, pasaran dan semacamnya. Orang berikhtiar kembali dalam nuansa-nuansa reflektif melalui media tersebut. Mengenang masa lalu untuk mencicil identifikasi tentang dirinya.

Betapa berharganya peristiwa kelahiran itu. Semacam transformasi menyeluruh dari satu suasana ke kahanan lain, sehingga perlu diperingati, butuh diingat. Meski sesungguhnya bukan seremoninya yang penting, tapi semangat di sebaliknya yang utama. Bahwa kehidupan diilustrasikan sebagai rotasi yang sinambung, dia memiliki titik-titik penting, tempat manusia memasang asumsi dari sanalah pemberangkatan itu, untuk menuju koordinat tertentu yang diistilahkan dengan tujuan. Pada perputaran itu dibutuhkan review, penilikan ulang, agar presisi jalur yang sedang ditapaki tetap terpantau.

Di tengah dinamika yang capek, orang rindu beristirahat. Diperlukan tonggak untuk melakukan perenungan. Sudah sejauh mana perjalanan? Sudah sepaham apa dengan narasi kehidupan? Waktu lahir adalah tempat yang cocok untuk menampung itu. Mengingat ketika masih kecil, dimana akhlak dan sifat belum bercabang-cabang, keinginan belum beranak pinak dan harapan-harapan masih mungil belum meraksasa. Masa dimana kesucian niat juga sikap masih dikerubungi oleh kemurnian-kemurnian motivasi. Seorang anak hanya melakukan apa yang dia perlukan, menurut nalar dan perasaannya. Dia menolak segala yang menurutnya tidak cocok dengan hasratnya. Belum tercemari keserakahan apalagi pengharapan yang berlebihan.

Orang merindukan itu sebagai penuntas lelah. Hari lahir adalah tempat berteduh, untuk memilah lagi apa yang bukan dirinya dan mana yang merupakan bagian darinya. Segala pencapaian-pencapaian akan dikoreksi dengan parameter-parameter ke-bayi-an, kemurnian. Apakah tindakan-tindakan yang selama ini dijalankan benar-benar ikhtiar atas dasar niat baik atau justru sebaliknya. Semacam revisi pada penggalan umur.

Lacurnya, upacara yang hingar bingar menutup kemungkinan untuk perenungan sedalam itu. Selebrasi memang sangat dekat dengan lupa. Keramaian membuat siapapun yang berada didalamnya digiring untuk meninggalkan apapun yang “sunyi”. Termasuk, menyingkirkan segala yang menuju pada sikap-sikap perenungan.

Hari lahir tampil layaknya batu nisan. Lempengan ingatan untuk mengkoreksi adegan-adegan yang janggal dalam kehidupan. Menilai ulang, apakah yang kita capai sesuai dengan keluhuran niat, seperti halnya kesucian bayi? Atau hanya ajang pelampiasan hasrat dengan cara menaklukkan, manggasak, dan menyikut demi memenuhi nafsu keserakahan?

Hari ini Maulid Nabi Muhammad SAW. Dan sekali lagi kita merayakan tentang kelahiran. Seorang yang berakhlak mulia itu hadir di dunia dengan membawa sejumlah bingkisan. Tentang hidup yang damai dan tujuan-tujuan jelas. Untuk orang mengenal dirinya sampai kemudian memahami Tuhannya. Kita memperingatinya, menggelar upacara untuk mengingat. Lewat ikrar-ikrar kesetiaan untuk senantiasa meneladaninya. Mengadakan rangkaian koreksi atas akhlak, meluapkan cinta kepada baginda rasul dengan tebaran kasih kepada alam semesta demi pengabdian kepada Tuhan.

Ini bukan pemujaan yang buta, bukan pula penyembahan kepada selain Allah. Bahwa melalui manusia bernama Muhammad SAW, kita belajar memahami, bagaimana bertuhan itu. Dari beliau pula kita mulai mencicil pengertian atas pertanyaan : apa makna hidup ini, dan hendak kemana perjalanan yang sedang di jejaki. Belajar dari seseorang yang memimpin tapi tidak sombong dengan kepemimpinannya. Seorang yang dikelilingi ancaman-ancaman, tapi mengedepankan keluhuran budi. Seorang yang memilih hidup sangat sederhana, demi merasakan penderitaan umatnya, meski beliau kaya raya. Seorang yang di hari-hari ini tak akan mungkin ditemukan kembali. Seorang Utusan Allah tempat kita mencontoh. Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam maulid, kita memperingati kelahiran akhlak-akhlak luhur. Bukan sekadar kepatuhan-kepatuhan hukum, lebih dari itu, kesetiaan untuk melakoni nilai-nilai kemanusiaan tertinggi. Seperti yang dibawa Rasulullah SAW. Sebab hukum adalah pagar yang terendah, dia hanya mengatur salah dan benar. Manusia mesti bisa melampauinya, menjangkau taraf kelayakan dan kepatutan, yang tentu lebih tinggi ketimbang aturan salah-benar.

Adakah kita mengingat hikmah maulid itu seutuhnya? Lalu pasrah mencintai Rasul dengan mengaplikasikan akhlak-akhlak beliau dalam keseharian? Beranikah kita luruh menjunjung nilai-nilai luhur itu, tanpa tendensi ketenaran, gemuruh puja-puji dan pamrih-pamrih? Lillahi Ta’ala?

Semestinya peringatan kelahiran diselenggerakan tiap saat. Acara transformasi itu tak boleh berhenti pada rentang-rentang waktu tertentu saja. Tidak sekadar jadwal pesta-pesta. Sebab hidup seperti permainan lupa dan ingat. Keduanya saling berkelindan, mencari kesempatan mana yang akan menguasai lebih dulu. Dan koreksi hanya bekerja ketika manusia ingat.

Seperti bait tembang mijil, yang selalu memberi aba-aba, untuk berjaga dari setiap kemungkinan kealpaan. Untuk senantiasa lahir, keluar dari tiap kegelapan. Layaknya bayi yang menyeruak dari pekatnya rahim bunda. Lalu belajar, belajar dan belajar. Mengenal dirinya, demi memahami Sang Pencipta.

Dedalane guna lawan sekti
kudu andap asor
wani ngalah luhur wekasane
tumungkula yen dipun dukani
bapang den simpangi
ana catur mungkur

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s