Tidung

(Keterkucilan itu bertemu dengan sisi-sisi asing, yang lepas diperhatikan ketika berada di ruang-ruang gaduh.)

Kapal laut bermotor yang membawa saya merapat ke Tidung. Pulau kecil di lepas pantai Jakarta. Ini perjalanan pertama kali ke salah satu tempat di jajaran pulau seribu itu. Lokasi yang sunyi, luasan tanah berpasir putih, dikelilingi laut, dengan penghuni yang sedang terus memahami, betapa di daratan Jakartasana, banyak orang terjangkit pendambaan akan kesunyian. Hiruk-pikuk kota besar itu melelahkan, lalu Tidung menjadi kunjungan, untuk melepaskan sejumlah capek yang bertengger dikepala. Orang kerap menyebutnya pariwisata.

Memperhatikan sekilas kehidupan penduduk pulau ini, saya menangkap pesona yang lain. Ketertundukan kepada alam, begitu berpengaruh terhadap cara berpikir mereka dalam mememahami nilai-nilai ideal. Kedekatan dengan kemungkinan gejolak, yang disebabkan oleh perubahan sikap laut, angin juga daratan yang dipijaknya, membuat penduduk Tidung, lebih kokoh memancang makna-makna keluhuran, dalam kesehariannya.

Kejujuran bukan kemewahan seperti halnya yang terjadi di kota besar. Serupa darah, mengalir wajar dan sederhana. Bukan sekadar berani tidak berbohong dalam ujaran, tapi juga menjaga diri dari kehendak-kehendak yang serba palsu dan mengganggu hidup bersama. Pencurian yang beberapa kali terjadi dipulau ini, sebatas pencurian sandal yang lupa dimasukkan ke dalam rumah. Tak pernah terjadi pembunuhan juga perampokan, pembunuhan yang dilakukan oleh penduduk setempat. Itu adalah bersit ukuran, bagaimana orang Tidung terus berusaha untuk mengendalikan hasrat untuk jahat terhadap liyan.

Ini bukan gambaran yang menceritakan bahwa warga pulau ini punya kadar kemanusiaan berlebih dibanding kumpulan manusia lain diluar sana. Hanya menekankan, bahwa pengetahuan tentang batas-batas diri pada wadah alam yang luas, membuat pemahaman penghuni Tidung tentang nilai-nilai ideal cenderung mapan. Sempit-luasnya ruang gerak berpengaruh kepada kekokohan orang untuk memegang keyakinan. Makin kuat seseorang menyadari keterhimpitannya, makin eratlah dia memeluk nilai-nilai mulianya.

Orang Tidung sama seperti manusia umumnya. Punya kehendak untuk mencuri, membunuh, merampok, merusak dan semacamnya, tapi pagar-pagar konsekuensi akan perbuatan itu dihadirkan dekat. Melalui perangkaian logika, bahwa alam terbuka di sekitarnya bisa saja mendadak marah, sebagai respon atas tindakan-tindakan itu. Sempitnya ruang gerak, memaksa penghuni Tidung untuk berhati-hati mengelola keinginan negatif. Hendak lari kemana, apabila kepergok mencuri barang tetangga? Pulau ini sepetak, dikelilingi pantai, tak menyuguhkan pilihan-pilihan layak untuk kabur bersembunyi dalam waktu yang cepat. Resiko dihakimi oleh khalayak secara tiba-tiba, berwujud tindakan spontan, seperti pengeroyokan atau sejenisnya, terbayang jelas sebagai resiko atas tindakan tersebut.

Barangkali, begitulah cara hidup yang umum di jalani oleh mereka yang berdiam di kepulauan. Daratan ciut membawa mereka akrab dengan pergaulan laut yang misterius. Luas terhampar berkerudung langit, dengan kemungkinan-kemungkinan gejolak yang terbuka lebar. Kedekatan dengan alam juga melahirkan mental-mental yang tangguh. Tak hanya perihal kekuatan fisik, tapi juga menegakkan kegigihan diatas rata-rata penduduk daratan.

Ada semacam pandangan yang mengakar, bahwa apapun perbuatan manusia, punya hubungan sebab-akibat dengan mekanisme alam. Pergaulan manusia dengan batu, tanah, pohon, dan lainnya punya konsekuensi. Sudah banyak terbukti, bahwa tiap-tiap interaksi mempunyai pola sebab akibat yang berantai. Pada kasus banjir, misalnya. Kita tidak bisa dengan gampang menyalahkan air. Sebab sifatnya dasarnya memang bergerak dari tempat tinggi ke ruang yang lebih rendah. Ketika itu terhambat, jelas terjadi penumpukkan. Air memerankan tugasnya dengan jujur. Mampatnya saluran pergerakan, membuatnya mau tak mau mesti menggenang beberapa jenak, mencari jalur lewat dan area serapan. Kondisi ini kemudian disebut sebagai banjir.

Kekeliruan manajemen interaksi antara manusia dan alam inilah yang disebut bencana. Kata lain yang kerap dipakai adalah adzab. Rangkai logikanya memang sangat berliku dan pelik.  Tapi yang perlu diperhatikan, bahwa setiap pergaulan, apapun itu senantiasa menyisakan residu-residu. Kesalahan-kesalahan pengaturan tata hidup, akan mengakibatkan kerusakan, yang bila itu menumpuk, bakal menghantam balik.

Bukan sikap yang keliru, untuk memegang kepercayaan itu. Rasional dan irasional itu persoalan kedalaman berpikir, keluasan analisa dan intensitas pengalaman terhadap masalah. Ini upaya berjaga atas segala kemungkinan yang bisa terjadi. Manusia tidak sendirian. Ada lingkungan kompleks yang tumbuh bersamanya. Persentuhan dan persapaan dengan sekitarnya tentu berdampak, baik atau buruk.

Orang Tidung berhati-hati membawa diri dalam memahami alamnya. Teliti dalam bertindak, berpikir lebih komprehensif sebelum melakukan sesuatu. Benar, tak mudah menyimpulkan secara langsung, bahwa ada hubungan yang dekat antara merampok dan tsunami. Atau antara korupsi dan gempa, dan lain semacamnya. Tapi coba telusur lebih detil dengan analisa yang tidak difinalkan pada satu garis tinjauan saja. Bukankah tak ada satupun di muka bumi ini yang tidak terkait? Hanya saja kemampuan manusia untuk meruntut rangkaian yang panjang serta rinci itu terbatas. Toh, tak ada salahnya buat berjaga, terhadap segala kemungkinan yang tak sempat dihitung akibat keterbatasan itu.

Beberapa hari mampir di Tidung membuat saya merasa sangat kecil. Hanya perjalanan berputar kurang lebih satu jam, penjuru terluar dari pulau ini dapat dikunjungi. Dikelilingi laut yang agung, membuat merinding.

Terbersit anggapan, jangan-jangan, perasaan seperti inilah yang memantik ide orang, untuk membangun penjara-penjara di pulau terpencil bagi sekawanan bromocorah. Nusakambangan dilepas pantai selatan pulau jawa atau Alcatraz di tengah Teluk San Francisco di California. Dalam keterkucilan, orang menemukan kesunyian yang membuatnya bercermin. Energi untuk introspeksi membesar ketika berada pada keadaan itu. Ketaklukan yang akut menyelimuti, untuk mengecilkan segala dalam diri yang dikira besar. Keangkuhan, kemunafikan, kemuliaan asesoris keduniaan dan lain sebagainya, bisa kempes karena dikoreksi keadaan. Maka sangat cocok, apabila koruptor-koruptor di negeri ini dibuatkan satu tempat dilepas laut, tanpa dibekali banyak hal dari daratan, kecuali alat-alat pengolahan tanah. Disuruh berkebun dan bergaul dengan alam, lalu dibatasi aksesnya. Barangkali itu akan merintis efek jera yang serius.

Begitulah Tidung, diluar semua cerita diatas, saya ternyata tidak terlalu kerasan disana. Barangkali karena terbiasa dengan fasilitas perkotaan yang gampang dijangkau, mempengaruhi sikap itu. Penyakit yang lekat menjangkit, oleh manusia-manusia yang manja dengan kemudahan-kemudahan. Seperti saya misalnya. Kota-kota tak menawarkan kesempitan dan kesulitan yang terlalu, seperti halnya di pulau terpencil. Peraturan yang berlaku disana, adalah keleluasaan yang tergelar lebar. Mau kemana gampang, hendak mendapatkan apapun mudah. Dengan syarat, punya kekuatan ekonomi atau politik, untuk menikmatinya. Maka filosofi perkotaaan adalah bagaimana menggeber ritme dorongan pelampiasan. Hidup digambarkan dengan ruang gerak yang sangat luas dan mudah, sehingga mempengaruhi cara berpikir orang tentang pembatasan diri sendiri. Hasrat tidak usah dibendung atau dikendalikan. Penuhi saja, sebab perkotaan menawarkan caranya. Tidak bisa membeli, ya kredit. Tidak mampu mencicil, ya berhutang. Punya kesulitan berhutang? Silahkan hubungi rentenir terdekat. Kira-kira begitulah ilustrasinya. Memberlakukan manajemen hasrat diperkotaan, akan membuat orang tampak bodoh, miskin dan tersingkir dari hiruk pikuk peradaban. Kondisi yang jungkir balik dengan apa yang terjadi di pulau terpencil.

Namun, demikianlah hidup. Bertemu dengan paradoks-paradoks yang tajam, berbenturan. Lantas membaca darinya tentang apa esensi dari dinamika kehidupan.

Pada Tidung, saya belajar banyak. Tentang hubungan antara ruang gerak dan kepandaian menjaga perilaku. Perihal pentingnya memahami batas-batas diri di tengah alam yang misterius batasnya. Mengenai keterbatasan pada wadah tak terbatas. Kewaspadaan terhadap kemungkinan-kemungkinan yang diluar hitungan nalar dan analisa. Karena kehidupan yang sibuk, berimbas pada mudahnya lalai, terhadap yang tak terduga itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s