Nyawiji

(Layaknya serpihan yang ditebar acak, akan datang masanya satu sama lain saling mencari sisi yang hilang. Karena kebutuhan akan pasangan. Menjajal kecocokan antar pecahan. Melakukan percobaan untuk memadu, melancarkan hasrat ingin menyatu)

Sudah lama saya ingin membuat sebuah video tentang hiruk pikuknya suasana di satu titik kota besar. Sebutlah itu di Jakarta, sebagai daerah pengambilan gambarnya. Dalam rencana, kamera saya letakkan diatas sebuah persimpangan besar yang ramai, lalu merekamnya seharian penuh. Dari arah atas Bundaran Hotel Indonesia, misalny. Dengan menaruh kamera yang on the record, di ujung atas monumen selamat datang. Saya ingin menyaksikan bagaimana pergerakan manusia di jantung jakarta tersebut, pada satu hari kerja.

Adegan dibuka dengan suasana pagi, saat kegaduhan dimulai. Orang-orang keluar untuk berkegiatan. Meninggalkan rumahnya, berpisah dengan penghuni yang lain, lantas meluncur kearah tujuan-tujuan tertentu.  Lalu sorenya, peristiwa serupa akan berulang. Hanya saja, haluannya berkebalikan. Keluar dari tempat aktifitas masing-masing, memecah dari kelompok, menebar ke arah rumahnya sendiri-sendiri.

Jika sudah berhasil terekam, kemudian ditonton dengan putaran yang ditambag 3 hingga 4 kali dari kecepatan normal. Gerak gambar, akan terpampang ngebut. Kendaraan-kendaran yang berseliweran melaju lebih kencang, orang yang berjalan ditrotoar tampak seperti berlari. Dari matahari terbit hingga suasana gelap, saat lampu-lampu kota dinyalakan. Sepertinya akan menjadi tayangan yang unik. Putaran gerak manusia jakarta dalam satu hari, dimana mereka melakukan sebuah pola yang saya sebut sebagai “Perpisahan dan persatuan.”

Manusia bergerak untuk menyatu dengan yang lain, saat yang sama, mereka juga memisahkan diri dari kesatuan sebelumnya. Terus berulang. Pola tersebut seakan bicara, bahwa dinamika kehidupan adalah mengenai proses memadu dan menyebar. Ibarat sekawanan semut. Ketika pagi mereka berduyun duyun, berkerumun pada satu lokasi, lalu petangnya anggota kumpulan itu berpencar menyusuri jurusan yang berbeda-beda.

***

Seperti yang sering banyak didengar atau dibaca, sejatinya manusia tidak bisa hidup sendiri. Sosok individu membutuhkan kehadiran yang lain untuk berkelompok dalam hidup bersama. “Aku” membutuhkan “kamu” untuk menjadi “kita”. “Kita” mendambakan kalian demi menjelma sebagai “kami”. Dalam bahasa saya, inilah pelaksanaan dari salah satu kehendak dasar manusia yang dinamakan “Hasrat ingin menyatu”.

Masing-masing kita adalah pecahan-pecahan yang membutuhkan pasangan. Layaknya kain perca yang mencari serpih lain untuk memadukan diri. Merapatkan sisi-sisinya, agar bisa berhimpit lantas manunggal. Itulah kenapa orang saling mengenal, mengakrabkan diri hingga muncul peristiwa dan sistem yang disebut pernikahan, persahabatan, keluarga, persaudaraan, organisasi, kelompok kepentingan dan lain semacamnya.

Unsur yang dibutuhkan untuk menempel satu sama lain dalam proses penyatuan, adalah tersedianya perekat. “Hasrat ingin menyatu” dalam diri manusia tentu tidak kosong. Dia diisi oleh anasir yang fungsinya diasumsikan seperti lem. Membantu merekatkan satu dengan lainnya, melancarkan kerja sang hasrat. Bahan penampal itu diistilahkan dengan “cinta”.

Terasa menjenuhkan ketika membahas kata “cinta” . Tapi begitulah, ternyata sesuatu yang disebut cinta tersebut yang merekatkan juga memisahkan. Dia menyatukan satu hal dengan hal lainnya. Pada saat berbeda, disebabkan oleh cinta juga, sesuatu yang tadinya tunggal, merontok, lalu komponen-komponennya berpencar untuk merapat pada pasangan yang lain lagi.

Secara etimologi, kata cinta berasal dari bahasa sansekerta. Salah satu sistem bahasa tertua yang masuk dalam rumpun bahasa Indo-Eropa.  Artinya adalah peduli, kecemasan, kegelisahan, pertimbangan. Bila dirangkai pemaknaannya, cinta adalah sesuatu yang dipakai sebagai landasan pokok, kenapa orang melakukan sesuatu.

Dua orang yang sedang dimabuk asmara disatukan oleh kegelisahan akan kebutuhan hidup bersama. Keinginan untuk saling melengkapi dan memiliki. Maka mereka berpacaran.  Sebut saja itu, melakukan eksperimen penyatuan. Satu sama lain sedang saling menjajal untuk memadu, manunggal. Melalui kepedulian, saling menimbang dan menyembuhkan keresahan dalam hati masing-masing. Mereka tengah mencoba menyerasikan diri. Apakah bisa selaras atau tidak. Jika timbul ketidakcocokan, maka muncullah pilihan untuk berpisah. Meski setelah keduanya  terputus sekalipun, tak akan berhenti disana saja. Hasrat ingin menyatu tetap aktif, yang membuat mereka untuk bereksperimentasi lagi. Mencoba berhubungan dengan orang yang lainnya, belajar mencocok-cocokkan diri, hingga ujungnya bertemulah masing-masingnya dengan sosok yang dinyana tepat untuk manunggal.  Usaha yang berkesinambungan dan menuansakan uji coba, tarik ulur, bongkar pasang.

Hal yang demikian itu juga berlaku untuk konsep penyatuan yang lain. Seperti persahabatan, persaudaraan, kehendak berorganisasi, berkumpul dan semacamnya. Menuruti cinta untuk mencari keseimbangan. Agar tak resah, menuntaskan gelisah, dan melancarkan arus kepedulian.

Namun, cintapun tak berdiri sendiri. Dia butuh didorong supaya khasiatnya aktif. Layaknya kita yang sedang menyatukan dua benda dengan lem. Satu yang pasti tidak bisa ditinggalkan adalah melakukan penekanan-penekanan. Sebab fungsi lem tidak akan sempurna tanpa adanya tekanan. Pada konteks cinta, maka penekannya adalah harapan.

Dalam bahasa jawa dikenal kata “tresno”. Kerap ditemukan pada pepatah yang umum dikenal orang “Witing tresno jalaran soko kulino”. Meskipun saya tidak sependapat dengan arti yang tersiar di khalayak.  Arti yang dikenal meluas adalah “berseminya (pohon) cinta disebabkan (oleh) kebiasaan (berjumpa)”. Namun dalam versi saya, peribahasa itu berarti “Tumbuhnya (pohon) keinginan (harapan), dijalarkan (pada) niatan”.

Tentu, saya mempunyai argumentasi yang mendasarinya. “Witing” berasal dari kata “wit”. Dalam bahasa jawa, kata itu berarti “tumbuhan”. Kata “wit” ini, pada pekembangannya beranak-pinak jadi “wiwit” yang artinya awal. Kemudian “tresno”, akarnya dari bahasa sanskrit yaitu “trsna” yang artinya keinginan besar atau harapan, dan kulino, berjalur dari bahasa jawa kuno, induk utamanya adalah sansekerta, yaitu kata “kulina” artinya adalah niat awal untuk tumbuh.  Adagium tersebut saya anggap bukan hanya sebagai permainan rima belaka. Peribahasa yang sekadar menghubungkan antara perasaan jatuh cinta dengan faktor kebiasaan orang bertemu. Lebih dari itu. Rangkai kata yang tenar itu merupakan nasehat. Bahwa, tumbuhnya harapan pada diri manusia, tergantung kepada niat awalnya. Bagaimana sifat harapan itu, apakah baik atau buruk, ditentukan oleh bagaimana niat awal dibersitkan.

Saya kerap menganggap, bahan bakar kehidupan adalah harapan. Hal itu yang membuat orang punya alasan untuk tangguh atau patah arang. Bekerja keras atau malas. Harapan merupakan motivator yang sesungguhnya. Mendorong cinta untuk memburu penyeimbangnya. Merayu orang agar bergaul, mengenal lawan jenis atau mengais nafkah. Sesuatu yang membangkitkan kepedulian manusia sekaligus ketidakpeduliannya. Software itu pula yang menerbitkan rasa pesimistis dan optimistis sekaligus. Juga, harapanlah yang mendorong cinta, menuntut manusia untuk menyatu. Dari cerai berai menjadi tunggal, supaya segala kecemasan bisa terobati.

Harapan yang bagus membuat orang berikhtiar menyatukan cintanya, namun sebaliknya, harapan yang ringkih lantas putus, memunculkan perilaku-perilaku untuk memisahkan diri. Memecah lantas melakukan usaha-usaha penyatuan kembali dengan subyek yang lainnya. Melanjutkan percobaannya.

***

Setidaknya itulah yang saya ingin dapat dari keinginan membuat video itu. Menyaksikan panorama tentang pergerakan manusia menjalankan “hasrat ingin menyatunya”. Sayangnya, hingga kini, belum bisa terlaksana. Kesempatan yang lega, ternyata belum didapat.

Lain saat, terbersit dalam pikiran, mungkinkah kepasrahan seseorang kepada Tuhan merupakan bentukan lain dari “hasrat ingin menyatu”? Berdoa dan ibadah menjadi media untuk mendekat, mengabdi terhadap apa yang diminta Tuhan, agar harapan tentang kedamaian dan keselematan bisa tercapai. Bisa jadi itulah yang disebut tauhid. Dari wahid yang artinya satu. Dengan cinta – keresahan, kecemasan, kepedulian (Akhlak dan hukum) – itu, orang memohon, tunduk luluh kepada Sang Maha Kuasa,  sembari berharap Dia menyukai permintaannya. Merayu untuk menyatukan kehendak, agar senantiasa terjaga, tidak lelap dalam keterlenaan. Nyawiji, begitu bahasa jawa menerjemahkannya. Menjalankan hasrat untuk menyatu, Bisa jadi begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s