Masakan Ibu

(Ukuran kecukupan adalah pemahaman akan kebutuhan. Bukan pelampiasan demi mencapai kenikmatan)

Sewaktu masih bocah, saya sangat suka memperhatikan ibu yang sedang memasak. Mengiris sayur-mayur dengan pisau tumpul disebabkan logam yang sudah lawas. Memilih bakal untuk dipadu dalam panci, menyiapkan menu santapan. Ibu saya bukan pembaca resep-resep dalam majalah, yang mengharuskan patuh dengan takaran-takaran zakelijk. Air mesti sekian mililiter, garam harus ditabur dalam sejumlah ukuran mengikat. Bukan, ibu tidak melakukan itu. Dia menggabung bahan masakannya dalam jumputan-jumputan misterius. Seakan semuanya sudah melekat pada kesadaran utuhnya. Tinggal Ambil, taruh  lalu mengolah. Ibu hanya mengerti taraf-taraf kelayakan dan kepatutan. Bahwa jika sesuatu itu berlebihan ataupun kurang, maka hidangan menjadi tidak sedap atau berlebihan enaknya. Ibu memilih untuk meraciknya dalam selera yang tengah-tengah. Itupun melalui spontanitas perasaan. Urusan citarasa, pada penerapannya, kerapkali tak membutuhkan rumus-rumus pasti. Yang jadi bingkai-bingkainya adalah  “layak dan patut” Urusan kualitatif, yang melampaui hal-hal kuantitatif.

Bahan masakan yang tersimpan dalam keranjang-keranjang terpisah itu, diambilnya satu per satu. Bawang yang berjubel, dipungut beberapa butir lantas dipotong tipis. Daun seledripun diperlakukan sama. Dari seikat besar hanya diambil beberapa utas sebelum akhirnya dirajang. Begitu juga dengan unsur sayur dan lauk lain. Jumlah anggota keluarga, yang hendak menyantap hidangan, dijadikan acuan ibu, untuk mengetahui seberapa banyak bahan yang dipakai.  Semuanya dikerjakan otomatis, tanpa adanya buku tutorial. Pun ketika rumah kami ditandangi oleh tamu yang menginap. Seberapapun jumlahnya, ibu selalu paham, berapa banyak materi memasak yang akan di olah menjadi makanan penyuguh.

Sebagai penguasa dapur, wanita sederhana itu sangat mengerti skala-skala output yang hendak didistribusikan. Tujuannya tak hanya demi tuntasnya tuntutan kebutuhan perut yang lapar, tapi juga terbaginya kenikmatan makanan kepada siapapun yang menyantap.

Ibu seakan hendak memberikan pelajaran diam-diam. Tentu, kepada saya bersaudara, yang sering memperhatikan aktifitasnya didapur. Bahwa kenikmatan itu bukan mengenai pelampiasan penggunaan bahan-bahan pembangunan rasa itu, tapi pemahaman yang menyeluruh tentang kebutuhan yang hendak disalurkan.

Ibu adalah arsitek citarasa yang tak pernah berkoar-koar tentang kepiawaiannya. Dia juga tidak bermaksud menyembunyikan resep-resep, dengan tidak bercerita kepada anggota keluarga, bagaimana caranya sayur asem dan pecak sembilang itu begitu nikmatnya. Ibu tidak pelit berbagi ilmu. Hanya saja, persoalan dapur, barangkali, bukan tentang bagaimana menerangkannya seperti orang mendongeng. Seakan-akan ibu akan menjawab. Kenikmatan itu, efek dari hasil laku demi bahagianya orang lain. Penyebarannya melalui manfaat-manfaat yang dikeluarkan, pengajaranya melalui teladan. Sebab ibu selalu tersenyum puas, jika kami, anak-anaknya, terlihat makan lahap dan menampakkan ekspresi yang menyenangkan atas hasil jerih payahnya. Lantas mendidik kami lewat nilai-nilai yang meletup dari kerja kerasnya itu.

Ajaibnya, tiap kali dia ditanya, apa rahasia yang terkandung dalam masakan hingga rasanya lezat? Ibu senyum, lantas menjawab “Karena ramuan bumbunya  cukup”. Timpalan itu tentu menjadi teka-teki. Sebab pada dasarnya, saya belum memahami dengan sempurna, apa yang dimaksud dengan “cukup” itu. Sebuah ukuran yang bagi saya masih remang-remang.  Tingkat kenisbiannya tinggi. Cukup bagimu, belum tentu bagiku. Masing-masing orang, punya standar kecukupan yang berbeda-beda.

Disisi lain, saya dihadapkan pada kenyataan. Ternyata, hanya ibulah yang mengerti batas-batas kecukupan kami dalam mengonsumsi hidangan makan setiap harinya. Tapi saya belum tentu memahami tingkat kecukupan ibu dalam perkara yang sama. Jika saya yang memasak di dapur itu, belum tentu akan enak. Bahkan kemungkinan bisa membatalkan acara makan bersama, saking tidak mbejajinya masakan saya. Kenapa bisa begitu? Bertambahlah tanda tanya itu.

Dikemudian hari, saya menelusur pertanyaan-pertanyaan mengenai kebijaksanaan ibu dan dapurnya itu. Dalam pikiran, berkelebat penafsiran, bahwa kemampuan ibu untuk mendistribusikan kenikmatan pada hidangannya dilatarbelakangi oleh pemahaman ibu akan kebutuhan kami. Kata kuncinya ada pada kata kebutuhan. Beliau yang melahirkan, membesarkan dan membentuk dasar berpikir anak-anaknya. Maka logis sekali apabila ibu mengerti apa yang kami butuhkan, saat nalar anak-anak belum mengembang lebar, karena imbuhan dari dunia luar rumah.

Kebutuhan dipahami dengan kepenguasaan dan kemampuan untuk mengerti. Ibu tak hanya menguasai kami, sebab dialah yang mengandung serta membesarkan. Lebih dari itu, juga mengerti apa yang diharapkan dari perut yang keroncongan. Bukan sekadar tersampainya asupan dalam perut, tapi juga tuntutan kesedapan. Ibu tahu, aktifitas makan bukan saja mengenai pemenuhan lambung, tapi juga interaksi lidah, gesekan usus, hingga dia mesti meramunya dengan seksama.

Diluar itu, karena kami bukan keluarga kaya. Kebutuhan dapur disesuaikan dengan daya finansial kami yang minim. Namun, keterhimpitan tidak lantas membuat ibu putus asa, hingga meliburkan acara makan, atau memasak sekenanya. Dia tetap berikhtiar, melakukan perannya semaksimal mungkin.

Karena dominasi pengetahuan ibu yang kuat terhadap kami untuk urusan citarasa dalam hidangannya, saya sangat tahu, mana masakan ibu, mana yang bukan. Lalu, akan sangat kehilangan jika ibu tak pergi dan tak memasak dihari itu. Seperti terbangun hubungan timbal balik yang saling menyambut. Ibu mengerti kebutuhan kami, dengan demikian, secara otomatis kami membutuhkan ibu. Padahal, ibu tak pernah merasa dibutuhkan. Dia hanya bekerja, melakukan dan melakukan. Ada premis yang terkuak dari ilustrasi itu, bahwa ketika kita melayani kebutuhan orang lain, pada saat yang sama orang lain akan melayani balik. Dengan bentuk-bentuk balasan yang bisa jadi diluar deteksi kita. Seorang teman mengistilahkannya dengan “serve other”, melayani pihak lain. Bukan demi mengharapkan pamrih itu, tapi karena melayani hanyalah melayani. Persoalan setelah itu ada imbal balik,  itu urusan lain.

Ibu saya dan ibu-ibu yang lain adalah manusia hebat. Meskipun tak pernah menyimpulkan sendiri dengan kalimat sistematis mengenai kehebatannya itu. Hebat dalam menguasai rumah, berikut para penghuni, dari kotak dapurnya.  Ibu adalah sosok yang sangat memahami, tanpa harus dengan teori, apa yang dimaksud dengan kebutuhan manusia dalam rumahnya. Dia menguasai lalu memberi dengan ukuran kecukupan yang tak tertulis. Akurasi kenikmatan dalam masakan yang diprosesnya, tidak dikelola dalam Standard operating procedures yang ruwet.

Bahagia yang ingin didapatkan dari wajah anak-anaknya dicapai dengan laku dan laku, tanpa ba-bi-bu, dan keluhan atas keterhimpitan ekonomi. Dalam kesempitan, terkandung keluasan-keluasan, jika ditilik dengan sudut pandang pengabdian. Barangkali itu yang disebut “syukur”. Seperti ibu yang mengabdi untuk kebahagiaan keluarganya.

Pada kenangan saya, masakan yang terenak adalah masakan ibu. Hingga detik ini, siang ini, ketika saya begitu merindukannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s