Ageman

(Kata itu hidup. Layaknya pohon, berubahnya besar dan tinggi batang, rimbun rontoknya daun, tetap dia adalah tumbuhan yang punya akar. Jangan lupakan)

Bukan tanpa alasan, saya nyemplung dalam kolam etimologi. Berkutat pada kubangan kata berikut evolusinya dari jaman ke jaman. Tertarik dengan asal-usul istilah untuk mencari tahu, dasar berpikir, kenapa sejengkal masa menggunakan kata tertentu untuk menyebut sebuah hal. Orang mengapresiasi sesuatu berdasar sifat, bentuk dan fungsi benda atau suasana, lantas memberinya sebutan. Itu merupakan latar belakang yang mendasari munculnya pengistilahan.

Pada sebuah diskusi yang alot, beberapa orang sahabat tarik ulur pendapat mengenai tema “agama”.  Kata yang tetap memancing gairah, dan masih dipahami dengan berbeda-beda. Definisinya masing-masing, yang muara dari semua konklusi adalah pengabdian kepada Tuhan. Kamus Besar Bahasa Indonesia membungkus kata “agama” itu dengan pengertian “ajaran, sistem yg mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya”. Terbaca indah dan menyeluruh. Hanya saja, penerapannya tak gampang.

Dalam keberagaman manusia, aturan tata keimanan, bukan hal mudah untuk diselaraskan. Sifatnya sangat personal, merupakan pencapaian pribadi dalam memahami pengalaman-pengalaman kehidupannya. Sebab keyakinan itu seperti tiang kokoh utama pada sebuah rumah. Untuk memperlakukannya mesti dengan sentuhan-sentuhan yang halus. Jikapun perlu mengukir, mewarnai atau menambah ornamentasi yang menempel pada tiang tersebut, jangan sampai menggeser dari lokasi berdirinya. Sebab itu akan berakibat runtuhnya atap-atap, lalu pecahannya menimpa benda-benda seisi rumah. Keyakinan itu penyangga kuat tapi juga sensitif. Apalagi dalam persoalan peribadatan kepada Tuhan. Kepekaannya berlipat.

Kalau diruntut, kata “agama” yang kerap dibicarakan itu, berakar ke sansekerta. Salah satu dari sekian banyak kata yang muaranya ke sistem bahasa tua tersebut. Saya sendiri sempat bertanya-tanya, kenapa bahasa yang konon sudah ambles itu, residunya banyak terdapat dinegeri ini. Bukan di kawasan yang di klaim sebagai sumbernya, India. Sementara, pada sensus bahasa yang diselenggarakan oleh negara itu tahun 2001, prosentase pengguna sansekerta, dibawah 0,01%. Berbeda jauh dengan apa yang berlaku di Indonesia. Meskipun, itu berupa serapan yang telah mengalami proses-proses peleburan pengucapan dan pengejaan, tak sedikit juga yang masih utuh, dipakai hingga kini.

Dari telusur atas sumber istilah sanskrit, agama berarti “teori, pendekatan, pembacaan dan pengetahuan”. Konteksnya sangat luas. Tidak spesifik pada ruang tertentu. Kata “agama” mencakup semua kotak kategori pemahaman kehidupan. Bukan sekadar julukan atas sebutir ilmu. Saya menerka, barangkali pengguna pertama kata itu berpendapat, hidup memang tentang membaca muasal, kerangka, isi dan maksud dinamika. melalui pendekatan-pendekatan akal dan tindakan, demi menemukan inti, apa yang berada di sebalik narasi besar penciptaan.

Namun peradaban-peradaban hadir dengan corak masing-masing. Dari waktu ke waktu, manusia berkutat dengan diri dan lingkungannya melalui sistem kategori. Ikhtiar mengenali sesuatu dilakukan dengan cara memberi identitas atasnya. Hingga masa modern ini. Usaha pengelompokkan itu makin giat berlangsung. Bahkan kian rinci. Lalu disekolah-sekolah, juga pada perbincangan warung kopi serta gardu ronda, hal-hal yang berkait dengan unsur fenomena serta substansi keilahian, itu disebut agama. Jika tak ada anasir tersebut, maka itu disebut ilmu lain. Biologi tidak bersinggungan dengan Tuhan, sosiologi, fisika, ekonomi maupun politik adalah kardus keilmuan tersendiri yang tidak usah di singgung-singgungkan dengan eksistensi Sang Prima Causa. Sebab sudah ada wadahnya sendiri, yaitu pelajaran agama.

Terkesan naif memang. Tapi begitulah aturan tak tertulis di abad ini. Sepakat atau tidak, demikianlah yang sedang berlangsung. Pilihannya “Take it or leave it“. Pengetahuan-pengetahuan, akhirnya memang dipisah-pisah menjadi bangunan tersendiri. Saya mengira, alasan awal kenapa dibentukkan seperti itu, supaya orang mudah mengidentifikasi. Membedakan untuk menata konsentrasi. Meski ujungnya, pemilahan itu melupakan rantai penghubung. Seakan ada beberapa hal yang terdapat dimuka bumi ini, tak terkait satu sama lain. Eksis sendirian, tanpa pernah masuk dalam kaidah sebab akibat dari sebuah kesatuan. Mahasiswa fakultas kedokteran, tak harus mengerti ilmu permesinan, seorang penjual cendol tidak mesti memahami tentang seluk beluk komputer. Bidang-bidang dipancang, dengan garis pemisah yang kentara. Lalu disudut lahan, terdapat rambu bertuliskan “Jangan melanggar, itu bukan bagianmu!”

Manusia berikut kemampuan serap dan pikirnya memang terbatas. Untuk itu dibutuhkan pemisahan pengetahuan menjadi lajur-lajur terbagi sebagai asupan dirinya untuk bertahan hidup. Pilah-pilah ilmu yang sekarang bertebaran adalah cara untuk mencukupi kebutuhan itu. Layaknya sebuah keutuhan yang diiris-iris untuk mempermudah melahapnya. Barangkali, yang dilupakan adalah istilah apa yang dipakai untuk menyebut “keutuhan” itu? Bukankah pernik-pernik ilmu dan pemahaman yang diajarkan dan dibincangkan itu mestinya lahir dari satu kesatuan? Diantara beragam keilmuan yang berdiri sendiri-sendiri itu, apa yang menaunginya, mengatapinya, membungkusnya, sehingga bisa dikenali kejangkapannya? Jika menghadapi serundeng dan nata de coco, kenapa melupakan buah kelapanya?

Pada diskusi yang saya hadiri itu, saya ditanya seorang teman dengan iseng, “Tuhan itu agamanya apa?”. Saya menanggapinya ringan. Sebab kata agama dalam pertanyaannya itu berkonteks : sebuah bangunan kategori, yang namanya tertera pada Kartu Tanda Penduduk. Dalam benak saya, susunan kata di pertanyaan itu, justru akan berakibat pada terbitnya tafsir yang kontradiktif. Sebab saya mengerti, teman saya ini meyakini bahwa Tuhan adalah dzat yang satu tapi meliputi semua perkara. Ketika itu diletakkan pada struktur kalimat yang demikian, bukankah akan mengecilkan substansi Tuhan? MengikatNya pada kurungan.

Dengan santai, saya jawab “Sampeyan terlalu sepele dengan pertanyaan itu. Maksud sampeyan itu kan, cuma hendak mengutarakan, bahwa semua agama yang terkategorisasi di masa kini itu benar, bahwa semua keyakinan yang terlembaga tersebut betul, kan? Lantas rakyat di negeri yang sedang karut marut ini, diminta untuk tidak terlalu risau dengan perbedaan itu?”. Dia tekekeh seakan mengiyakan. “Jika sampeyan lebih berani lagi, jangan tanyakan tentang apa agama Tuhan, tapi tanyakanlah kenapa Tuhan menyelenggarakan penciptaan. Apa tujuannya?” Kemudian kami sama-sama tertawa dan rangkai tanya yang saya lempar itu tak kunjung dijawabnya.

Falsafah jawa, memaktubkan kata agama menjadi “Ageman”. Arti lain dari istilah itu adalah pakaian. Dalam cara berpikir jawa tradisional, keyakinan akan eksistensi “Gusti” sebutan lain terhadap Tuhan, seperti seperangkat pelapis badan serta jiwa. Dia tak hanya menutup tubuh dari panasnya hari dan dinginnya malam, namun juga melindungi martabatnya, dari ketelanjangan-ketelanjangan yang akan membuat malu dan terhina. Bukan dalam konteks pakaian baik atau buruk, tapi ditinjau dari segi kelayakan berdasar ruang dan waktu. Bukan bertujuan semata memperbagus penampilan diri sendiri, tapi agar orang lain yang di hadapi juga merasa terjaga kehormatannya, tidak tersinggung juga tersakiti karena busana yang serampangan. Tentu semua didasarkan pada batas-batas kemampuan akan kepemilikan pakaian tersebut.

Secara kentara, bahasa jawa membedakan antara kata “ageman” dan “busono”. Orientasi makna dari ageman lebih kepada software dan hardware sekaligus. Fungsi dan semangat pada apapun yang melekat pada diri manusia itu. Kebijaksanaan adalah ageman, begitu juga dengan ilmu pengetahuan, ujaran, tindak-tanduk. Segala sesuatu yang dikenakan lahir maupun batin. Sedang “Busono” ditempatkan pada konteks material. Dia adalah “hardware” semata. Padanan yang kurang lebih cocok adalah Baju. Kata pepatah “Ajining diri dumunung aneng lathi, ajining raga ana ing busono”. Peribahasa itu tak menggunakan kata “ageman” tapi “busono”.

Masing-masing orang, punya ageman yang berbeda-beda. Disesuaikan dengan kepatutan diri, dan pencapaian pemahaman serta budi dayanya pada geliat kehidupan. Keberagaman adalah keniscayaan, sebab manusia adalah makhluk yang unik. Masing-masingnya memiliki sisi-sisi yang kontras satu sama lain. Ageman adalah dapur yang punya dimensi-dimensi tidak seragam pada tiap rumah. Tapi prioritas pentingnya dapur, ternyata bukan lokasi, panjang-lebar dan benda-benda didalamnya. Melainkan senikmat apa sajian yang di produksi dari kesibukannya, demi tersuguh dalam hidangan bersama.

Maka perbedaan dalam ageman tidak untuk disama-samakan, namun mesti di hadapi dengan berani.  Sebab menyama-nyamakan ageman menjadi tidak relevan, ketika dihadapkan pada kenyataan, bahwa pencapaian keyakinan setiap orang terhadap pengalaman-pengalamannya sungguh berbeda. Apalagi membandingkan antar ageman, itu, usaha yang memaksakan. Perjalanan keimanan seseorang itu lain-lain. Karena didasari daya intelektualitas, serta kepekaan rasa dan perjalanan hidup yang juga berbeda. Lantas untuk apa disama-samakan?

Hidup bersama, tak memerlukan penyamaan. Sebab, kenapa disebut “bersama” ? karena yang beraneka itu dinaung dalam satu wadah. Untuk rukun, yang dibutuhkan adalah pengaturan output dari tindakan. Seperti konsep ageman tadi, apabila yang ditonjol-tonjolkan hingga menjadi kesombongan itu adalah bentuknya, institusinya, bangunannya, maka yang terjadi adalah konflik fisik. Satu sama lain ingin saling menaklukkan dan menghancurkan. Namun jika yang dikedepankan adalah nilai muatannya, akhlaknya, maka keserasian bisa dirintis. Meskipun realitasnya, konflik akan selalu ada untuk manusia belajar memahami apa artinya damai. Tapi setidaknya, cita-cita ideal tentang harmoni, bisa dicicil.

Kebingungan yang menjangkit, ketika menatap perbedaan yang rawan konflik itu. Jangan lantas membuat kesimpulan bahwa semua agama itu baik, semua agama itu benar. Bagaimana mana mungkin bisa begitu? Karena hidup adalah pergerakan dalam menjalani pilihan-pilihan. Maka kebenaran dan kebaikanpun dipilih secara subyektif. Agama itu benar dan baik bagi penganutnya masing-masing. Tidak bisa dipukul rata. Tiap manusia punya hasrat meyakini, mempertahankan apa yang dipilihnya. Generalisasi hanya akan membuat gagap. Membuat kita tidak pandai berlatih untuk mempawangi perbedaan, justru tenggelam dalam keputusasaan mengatasi dampak konfliknya.

Untuk itu, yang beda biarlah berbeda. Kualitas hidup ditentukan oleh sebijak apa orang menyuguhkan pesona akhlaknya dalam keberagaman. Bukan dengan memaksakan untuk menyamaratakan hal-hal yang memang tak sama. Bukankah itu akan lebih nampak sebagai kelelahan terhadap resiko perbedaan? Keindahan itu persoalan apresiasi yang bersumber dari akhlak-akhlak luhur, yang terlontar dari sumber yang berbeda-beda, lalu saling berinteraksi.

Ageman, agama, pada hakekatnya kata yang sama. Hanya saja, modernitas menghendaki kategorisasi yang kaku. Hingga jalur etimologisnya terputus. Orang tergerak memandang kepada makna terkini, yang lebih bersifat kelembagaan belaka. Agama adalah Sistem petunjuk untuk melakoni hidup di dunia yang garang ini. Dalam periode kerja yang singkat, dari kelahiran hingga kematian. Sekumpulan tutorial untuk mencari tahu, apa kehendak Sang Khalik, dalam menyelenggarakan penciptaan. Mengerakkan mesin spiritualitas yang aktif dalam diri manusia yang berbeda serta tak mungkin sama, lewat kinerja tubuhnya dan pikiran. Semua hal yang berlangsung di dunia ini adalah agama, dalam pengertian meninjau akar. Maka ketika seorang teman menyoal “Apa sebenarnya agama itu?” saya akan balik bertanya “Apa yang bukan agama itu?”. Tapi jika ada orang lain yang mengajukan pertanyaan dalam bentuk berbeda “Apa agama sampeyan?” Saya akan menjawabnya dari perspektif sistem petunjuk yang saya yakini dan jalani “Saya Islam, yang sedang menelusur Islamnya Muhammad Shalallahu alaihi wassalam

Bukankah tak apa-apa jika kita berbeda? Bukankah tak masalah bila kita beragam namun hidup bersama? Yang jadi perkara justru ketika yang berbeda itu dipaksakan untuk sama. “Ora opo-opo urip bedo, sing penting podo legowo” Kata tetanggaku, dulu ketika masih hidup di Jogja. Ngono tho?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s