Tangguh

(Apalagi yang menjadi ransum untuk melancong dalam kehidupan yang persis rimba, selain  ketangguhan?)

Nekad itu kata yang ampuh. Dia bisa menjadi senjata pemberantas keraguan sekaligus racun yang membunuh, sebab diterapkan sebagai teman dari keputusasaan. Rata-rata orang yang saya tanyai di kampung transmigrasi pelosok sumatera ini, memakai kata itu sebagai jawaban “Kenapa sampeyan bisa bertahan di hutan belantara, lantas telaten membangun desa yang makmur ini?”

Terus-terang, saya takjub. Sebutlah Banpres, sebuah kampung para perantau dari jawa yang dibuka pada tahun 1975. Konon, namanya diambil dari kepanjangan “Bantuan Presiden”, pengambilan juluk atas desa, berkait dengan kebijakan pemerintah waktu itu, untuk memindahkan penduduk dari desa-desa di Jawa menuju sumatera selatan ini dengan dalih pemerataan. Awalnya adalah hutan belantara, lalu oleh para transmigran itu, dirintis menjadi kampung seadanya, sekadar bertahan hidup.

Orang-orang yang dipindahkan tersebut kecewa, saat itu. Ketika pertama berniat untuk transmigrasi, yang mereka pegang adalah janji-janji pemerintah tentang pemberian fasilitas di tanah hunian baru. Rumah, tanah siap olah dan ketersediaan infrastruktur untuk melancarkan fungsi perdagangan hasil bumi, menuju pasar-pasar besar dikota. Tapi kenyataan berbicara lain, begitu turun dari kendaraan yang mengangkut mereka setelah perjalanan panjang dengan kereta api menyusur bumi swarnadwipa, yang didepan mata adalah rimba gung liwang liwung. Kisah-kisah janji yang tak terpati dari penguasa kepada rakyatnya, bukan isapan jempol. Itu adalah repetisi yang hadir pada tiap jaman. Politik bukan sesuatu yang suci. Siasat kuasa juga mengandung tipu daya. Berimbas pada siapapun, dengan tindakan yang paling menyakitkan sekalipun

Bagaimana perasaan mereka saat itu? Tentu susah tergambarkan. Orang-orang itu kebanyakan berasal dari desa-desa miskin di Jawa Timur serta Jogja. Warga yang tadinya bermukim di bilangan Tulungagung, Kulonprogo juga Gunung Kidul. Dengan modal harapan, mereka menyanggupi usulan pemerintah untuk memperbaiki taraf hidup. Hijrah dari daerahnya yang sulit, menuju tanah-tanah baru diseberang. Itu bukan tindakan remeh. Merantau, tidak hanya perkara memindahkan tubuh, juga bekal harta benda ke tempat anyar. Lebih dari itu, didalamnya juga termuat tekad-tekad serta keberanian yang berlapis-lapis, menerjang hidup dengan sedikit pilihan. Pulang, adalah ketidakmungkinan, juga bisa berarti kalah. Sebab keberangkatan mereka, adalah satu-satunya jalan yang diketahui untuk meraih cita-cita tentang hidup yang layak. Meninggalkan atau bahkan menjual rumah tinggal sebelumnya, kerabat juga sejarah masa kecil.

Dengan tas-tas lusuh, rombongan itu menyeberang laut jawa. Menepi di pelabuhan Panjang Lampung, untuk kemudian dibawa dengan kereta api menuju Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Gerbong yang gerah, harapan-harapan berputar dikepala bertaut jadi satu dengan kekhawatiran-kekhawatiran akan kegagalan. Bayangan akan janji pemerintah untuk menyediakan rumah-rumah kayu beratap seng, halaman luas yang kelak  dirintis menjadi kebun palawija, sedemikian menggoda. Motivasi luar biasa yang membuat mereka senyum lantas bercanda “Kita akan jadi juragan cabe, bawang dengan kandang sapi riuh, berisi hewan-hewan gemuk yang melenguh”

Obrolan yang berderak, mengisi semangat satu sama lain. Beradu dengan suara kereta api yang gemuruh. Didepan sana, di kota lubuklinggau berderet truk menunggu, akan segera mengusung rombongan begitu kereta berhenti di stasiun. Menembus 60 kilometer dari keramaian, melewati jalan tanah yang terjal juga liat, menuju lahan perjanjian.

Hingga akhirnya kenyataan itu hadir sedemikian berbalik dengan sangkaan.  Yang terhampar didepan sana adalah jajaran pohon liar yang saling membelit dengan perdu serta semak perawan. Hutan belantara yang menakutkan, membuat ciut nyali. Satu persatu yang turun dari truk, mulai kecut. “Kali ini bukan hanya tekad dan semangat yang kita butuh, tapi kapak yang tangguh, arit-arti tajam, juga cangkul yang gigih” Seakan-akan, rata-rata mereka membatin begitu. Hari-hari berikutnya, mereka harus menanggalkan bayangan tentang teduhnya rumah kayu, halaman kosong yang merayu untuk diolah, juga harum benih-benih yang siap tanam. Kali ini tentang pergulatan sebenarnya. Begitu matahari terbit, orang-orang itu harus bangun dari rumah penampungan sementara yang pengap, lalu bergegas mengambil pusaka masing-masing. Parang, kapak dan jerigen air minum. Menebang kayu berukuran raksasa, merintis desa.

Memang akan jadi terkesan lucu, apabila kampung yang kemudian dibuka itu bernama Bantuan Presiden, disingkat Banpres. Kesempatan bertempat tinggal adalah tugas negara untuk mengelola papan-pangan rakyatnya. Presiden bukan seorang yang mahakuasa, lantas melalui kebaikan hatinya, dia membantu rakyat meretas kesempatan hidup layak. Bukan seperti itu, loginya terbalik. Kata “bantuan” yang digunakan dalam distribusi hak dan kewajiban pada negara semestinya tidak berarah top-down, tapi bottom-up. Apa yang dilakukan pemerintah dalam mengelola kebijakan demi kesejahteraan rakyatnya, namanya kewajiban, bukan bantuan. Justru sebaliknya, apabila rakyat mendirikan pos ronda demi keamanan, mandiri dalam membangun jalan-jalan kampung, itu yang sepatutnya disebut bantuan. Rakyat membantu pemerintah dalam melakukan tugas mereka sebagai pihak yang ditunjuk untuk menyelenggarakan kehidupan bersama dalam sebuah sistem negara.

Dikemudian hari, pengistilahan seperti ini terus digunakan. Sebagai contoh, munculnya program berjudul “Bantuan Langsung Tunai”. Lho, itu bukan bantuan.  Tapi memang kewajiban yang mesti dilakukan negara untuk memberi kesempatan berusaha dan perbekalan hidup buat rakyatnya. Timbal balik dari perolehan pajak dan pendapatan lain. Sebab pemerintah hanyalah sekumpulan panitia yang diangkat rakyat, sebagai pemilik kedaulatan, ketika pemilu. Maka segala yang dijalankannya bermuatan kewajiban kerja, bukan bantuan.

Tapi, logika yang terbalik-balik seperti itu telah melumut. Menjalar pada tembok-tembok kehidupan bersama dan dianggap sah-sah saja. Kemakluman yang lentur, barangkali sudah mendarah daging di tubuh bangsa ini. Atau karena kebuntuan pikir para penguasanya yang tidak memahami apa peran mereka sebenarnya?

Rakyat itu tangguh serta legowo dengan segala sukadukanya. Seperti orang-orang yang membuka desa banpres itu. Meskipun ditipu oleh janji-janji, bahwa transmigrasi adalah jalur tempuh yang disediakan pemerintah untuk rakyat memperoleh taraf hidup patut, nyatanya, tak sedikit yang melenceng curam. Orang-orang yang berpindah, malah harus lebih berjuang menaklukkan alam yang buas. Berdamai dengan diri sendiri, yang dikecawakan habis-habisan. Mereka tak menyerah, terus menebang dan merapikan belantara itu. Saat sore hinggap, dengan lelah memandangi hamparan gelondongan kayu yang tergelempang dari pangkalnya. Sembari berdesis, “belum berakhir, besok kita masih berpayah-payah lagi”

Tapi kelalaian juga punya batas. Dikemudian hari, saat para transmigran mulai putus asa mengolah tanah rawa bekas hutan, kebijakan penanaman Karet diluncurkan pemerintah. Itu yang kemudian membuat banpres kaya raya sekarang. Bukan karena mereka menuntut dengan keras agar diperhatikan, tapi memang karena keterlambatan perhatian. Pemerintah gagap membuat pemetaan untuk kemakmuran rakyatnya. Mereka melepas transmigran untuk babat alas, lalu membiarkan bergelut dengan tanah yang keras. Belakangan baru teringat “oh ternyata disana belum tersedia bekal makanan”.

Barangkali memang begitu pola yang berjalan di negeri ini, jika rakyat diam saja, pemerintah seenaknya. Bila menuntut, dikatakan banyak maunya. Ketika membiarkan dan tak peduli pada negara dibilang tidak cinta. Lambat laun negara nampak layaknya anak yang manja. Susah dimengerti kemauannya dan inginnya hanya dilayani. Sementara tugas dasarnya untuk melayani, tenggelam dalam alasan-alasan dan kemakluman.

Karena keluasan hati dan ketabahan yang tak habis-habis itu, rakyat tetap mengerti. Hingga orang-orang yang membuka hutan lalu memulai hidup dengan kesulitan tersebut, masih menggunakan nama yang diinginkan pemerintah, Banpres. Tak apa, toh melegakan pihak lain bukan merupakan tindakan kesalahan. Pun untuk mereka yang telah menipu.

Saya takjub kepada daya hidup orang-orang Banpres. Mereka bertahan dengan kekuatan gotong royong. Sama-sama sebagai perantau yang tak punya banyak pilihan, sama-sama dikecewakan oleh janji-janji pemerintah, sama-sama dihadapkan pada keterjebakan keadaan. Namun tetap gigih melabrak penderitaan. Tidak cengeng. Barangkali, semangat ini juga yang tertanam di jiwa-jiwa rakyat kecil yang bertahan hidup di pelosok-pelosok bumi pertiwi. Tak terlalu berharap kepada campur tangan negara, mereka mandiri, bergelut dengan liarnya kesulitan.

Setelah rimba sebenarnya berhasil ditaklukkan, tak sulit lagi untuk menebas rimba-rimba artifisial yang lain. Seperti negara yang ingkar, misalnya. Dia hanyalah belantara liar dalam bentuk lain. Yang diatur lewat regulasi ideal, dengan pelaksanaan timpang. Demi kepentingan segilintir orang, yang haus kuasa.

Barangkali rakyat bangsa ini memang  diciptakan Tuhan sebagai manusia berkemampuan khusus yang kuat terhadap kesengsaraan. Bahwa negara yang dibuat demi melayani kehidupan mereka, nyatanya tak kunjung melancarkan perhatian serius, mereka tetap berjuang untuk kelangsungan hidup. Modalnya adalah nekad, juga ketangguhan. Untuk tetap hidup. Sebab mati bukan pilihan, tapi kepastian, sekarang atau nanti, tetap tak terhindari. Siap bertarung, dengan atau tanpa negara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s