Berawal dari Hu, Singgah pada God, Telusur Menuju Tuhan

( Cara kebudayaan, menafsir Sang Pencipta)

Semenjak pertama mengenal Bahasa Inggris, satu kata yang mengusik saya adalah “God”. Selama puluhan tahun, rasa penasaran itu nongkrong dibenak. Perbedaan penyebutan terhadap Sang Mahakuasa, antara kata Tuhan dan God, berbuntut pada pertanyaan-pertanyaan mengambang. Barangkali, karena yang tertanam di kepala saya adalah pemahaman, bahwa kehadiran sebuah kata, pasti mempunyai rangkaian asal muasal, sebagai jalur dinamika cara berpikir para penggunanya. Bangsa-bangsa yang memakai kata “God” untuk menamai Kausa Prima, tentu memiliki alur argumentasi sendiri. Demikian pula dengan kita, yang memanggilNya dengan Tuhan.

Sayangnya tidak mudah untuk mendapatkan keterangan-keterangan itu secara runtut dan memadat. Perlu penelusuran data, mengais remah-remah informasi. Pengetahuan memang bukan sesuatu yang utuh, glundung begitu saja. Memahami sesuatu adalah proses mengangsur dari pengertian-pengertian kecil.  Ini kewajaran. Saya menyebutnya, perilaku umum dari “homo kreditikus”,  manusia adalah mahluk penyicil. Mengumpulkan apapun sedikit demi sedikit, yang lama-lama dijadikan bukit. Dari soal cara makan, menabung uang, hingga cita-cita. Bukankah segalanya dilakukan secara bertahap?

Karena iseng, pada suatu saat, saya membaca sebuah buku karya Hazrat Inayat Khan. Dari judulnya, terkesan menarik, The Music of Life. Inayat Khan adalah seorang sufi asal India yang juga banyak meneliti tentang musik dan mistik suara. Dalam catatannya, Inayat menulis, bahwa Sang Mahakuasa yang dipanggil dengan beragam nama dalam agama maupun aliran spiritual itu, bermuara pada satu sebutan yaitu Hu. Inayat menyimpulkan ini, setelah melakukan penjelajahan pengalaman dan pengamatan serius terhadap konsep suara. Dia memainkan nada sekaligus melakoni perenungan-perenungan. Baginya, kenyataan material maupun spiritual, berawal dari suara. Vibrasi yang merambat melalui ruang dan waktu memadat jadi bentuk-bentuk dan rasa-rasa. Maka suara menjadi dasar atas segala keadaan atau kejadian. Menjelma warna, kata juga benda-benda.

Hu adalah intisuara, lantas mengejawantah ke beragam keadaan, baik yang terdeteksi indera maupun yang bersifat spiritual. Pada kisaran frekuensi tertentu, suara meeujud jadi kayu, besi, batu-batu dan semacamnya. Dalam fase yang lain, suara juga menjelma sebagai denyut perasaan, kegelisahan, amarah, kepedulian dan sebagainya. Hu merupakan awal dan akhir dari sebuah bunyi yang disebabkan pergerakan benda. Entah itu suara gaduh kereta api, mesin-mesin, teriakan manusia, raungan hewan, tiupan peluit maupun gemerisik daun.

Pada pemahaman mistik sufisme yang didalami Inayat, Hu merupakan abstraksi dari apa yang disebut kehidupan. Termasuk desis nurani, ketika seseorang berdoa atau mengeluh. Nama dari semesta sesungguhnya dan bukan buatan manusia.

Dalam kisah-kisah kitab suci agama-agama besar dunia, percontohan tentang eksistensi Hu, dicantumkan dalam simbol naratif. Intisuara inilah yang dijumpai Muhammad SAW ketika menyepi di Gua Hira, dirasakan Musa sewaktu di puncak Sinai juga Isa tatkala diangkat ke Surga. Seruling Krisna turut serta dicantumkan sebagai simbol atas intisari suara itu. Bunyi serupa yang juga didengar Shiwa saat saat bersemadi di Himalaya. Inayat lalu menarik tafsir, bahwa semangat ketuhanan, sebagaimana yang terekam pada narasi kitab suci, didapatkan melalui interpretasi atas suara kosmik.  Intisari suara atau Hu adalah simbol abstrak yang berusaha di mengerti manusia dalam perjalanannya mengenal Sang Kuasa.

Yang dilakukan Inayat, sesungguhnya adalah menjabar pemahaman tentang konsep Tuhan, lewat jalur kebudayaan. Inayat tidak sedang bersimulasi sekadarnya. Dia pemusik, sufi sekaligus peneliti yang telaten dan tidak main-main. Dia menyelami lautan tanda tanya, untuk mengerti, apa yang sebenarnya di maksud dengan Tuhan itu.

Terus terang, saya terkesima membaca The Music of Life. Sebab sebelum bersinggungan dengan Hazrat Inayat Khan, saya telah tahu, bahwa Hu adalah sebuah kata dari bahasa sansekerta yang berarti “memohon, menyeru”. Tentunya, ini mencengangkan. Sebab memohon atau menyeru adalah kerja pada manifestasi suara, meski batin sekalipun. Dikemudian hari, saya menelusur rantai kata atas Hu ini. Pada bahasa mana lagi digunakan, sekaligus dalam kebudayaan mana lagi konsepnya digunakan.

Proto-Indo-Eropa, sebagai rumpun bahasa tua dunia, memiliki sebuah kosata yang menyerap lema Hu dengan ghut artinya “Sesuatu yang dipanggil”. Ketika diserap dalam Bahasa Proto-Germanic, ghut berubah menjadi guthan. Oleh bahasa Norse Tua, yang digunakan bangsa viking dibilangan Skandinavia, ghutan diserap menjadi Gud. Hingga menempel pada bahasa Inggris kuno sebagai God, yang berlaku hingga masa Inggris Modern. Semua mempunyai arti yang sama, yaitu “Sesuatu yang dipanggil, Sumber permohonan”. Kata God sendiri, untuk pertamakalinya digunakan pada manuskrip kuno, Codex Argenteus (silver book) pada abad ke-6 dalam bahasa Gothic, ditulis guþ.

Terdapat pola saling jalin yang sinambung. Kata God yang dipakai hingga kini itu, merupakan jelmaan dari simpul temali bahasa yang sumbernya dari sanskrit. Hu telah mengalami evolusi eja dan tulis, terserap pada beragam bahasa, lalu memuncak pada God yang tenar sebagai pembahasaan atas Sang Khalik.

Ternyata tak berhenti hanya disitu. Kata Hu juga turut mempengaruhi istilah penting lain. Sebutlah Human. Akarnya masih sama, berinduk kepada sansekerta. Merupakan gabungan dua kata yang saling melengkapi, Hu dengan arti seperti dijelaskan diatas dirangkai dengan kata Manu yang artinya “ciptaan, makhluk yang cerdas”. Tentu terdapat hubungan antara keduanya. Jika Hu diurai dengan penerjemahan lugas yang berarti “Pencipta”, lalu Manu adalah “ciptaan berdayapikir”, maka pengartian “Human” seperti pemahaman terkini, sudah cocok adanya. Pada sisi yang lain, bahasa Indonesia juga mengenal kata “manusia” yang didalamnya terkandung Manu pula. Khusus untuk kata manusia, diserap utuh dari khasanah sanskrit, yaitu “Manusya” dengan arti yang sama dengan Human pada Bahasa Inggris. Manusya diterjemahkan sebagai Ciptaan yang berakal budi, Mankind.

Istilah Hu juga termaktub dalam mitologi-mitologi. Misalnya, Hikayat Tehuti di mesir kuno. Menurut cerita itu, Hu adalah penyuaraan “Mantra agung”, untuk memuja Kekuatan Supranatural tertinggi.  Manuskrip Old Kingdom Pyramid texts, yang diperkirakan ditulis pada 400-2300 SM, menyebut kata itu dengan dengan ejaan “HW” dibaca “HU”. Tentu saja peneraannya menggunakan huruf  hieroglyph. Mantra tersebut dimaksudkan untuk memuja sebuah “Ide besar, Penciptaan”. Dalam senirupa mesir kuno, ide besar penciptaan tadi dilambangkan dengan dengan Manusia berkepala burung. Perwujudan visual yang oleh orang Mesir dipanggil dengan nama Toth. Dikemudian waktu, kata ini diadopsi bahasa Inggris menjadi Thought, artinya memahami lewat pikiran.

Nama Tehuti, merupakan paduan dari tiga kata yaitu Te, Hu, dan Ti. Ketiganya berinduk pada bahasa Proto-Indo-Eropa. Te artinya “kamu”, kemudian bahasa inggris menyerapnya sebagai The. Deret selanjutnya, kata Hu, diartikan “Yang tak terjelaskan” dan terakhir, Ti artinya Dia. Sehingga lengkapnya, Te-Hu-Ti diterjemahkan menjadi “Kamu adalah HU”, “kamu adalah Dia”.

Mitologi Iran yang merupakan turunan budaya Persia juga menyinggung lema Hu pada simbol-simbol kebudayaannya. Sebut saja Huma, sebuah simbol tentang makhluk surgawi yang digambar menyerupai burung Phoenix.  Kata huma dalam mitologi itu, berasal dari Humaya, bahasa iran kuno (Indo Iranian) yang merupakan gandengan dari dua kata, Hu  yang berarti “Semangat Ilahiyah” dan Maya yang artinya air. Burung itu memang dimaknai sebagai lambang tentang arus spiritualitas yang bening mengalit seperti air , menuju Ilahi. Selain itu, pada masyarakat Iran kuno, Huma juga diapresiasi sebagai simbol keberuntungan. Orang-orang mengaplikasikan visualnya sebagai jimat-jimat dan ornamen tolak bala. Masa berikutnya, pada tradisi sufistik Iran awal, upaya-upaya pencapaian kebahagiaan dalam laku spiritual, diilustasikan seperti halnya manusia yang berusaha meraih burung Huma. Dia yang berhasil menangkapnya akan bahagia juga beruntung.

Demikian pula, pada kisah-kisah lain yang tersebar didunia. Unsur Hu diambil untuk menandai sesuatu yang istimewa. Misalnya, Terompet Kresna dalam epos besar Mahabharata, di deskripsikan sebagai media untuk mendengungkan suara yang berbunyi Hu. Kosmologi Tibet juga menyertakannya, seperti yang dilukar oleh Giuseppe Tucci, peneliti kebudayaan dan sejarah tibet, yang menulis buku The Religions of Tibet. Dia melansir bahwa orang tibet mempercayai alam semesta tercipta dari “napas” Tuhan yang bernada “Hu Hu” sehingga seluruh karsaNya terbangun dengan indah.

Bahasa Indonesia, memilih kata Tuhan sebagai bahasa representasi atas eksistensi Sang Mahakuasa. Pada sebuah artikel yang pernah termuat di Harian Kompas, ahli bahasa Remy Sylado, menjelaskan dengan menarik mengenai riwayat kemunculan kata ini. “Tuhan” diambil dari kata “Tuan”. Terselipnya huruf  “h” diantaranya adalah kasus biasa yang banyak terjadi dalam bahasa Indonesia. Seperti ‘asut’ menjadi ‘hasut’, ‘utang’ menjadi ‘hutang’, ’empas’ menjadi ‘hempas’, ‘silakan’ menjadi ‘silakan. Menurut remy, ini terjadi seiring dengan kasus nominatif dan singularis dalam tatabahasa Sansekerta ke Kawi dan Jawa. Misalnya tertulis ‘hana’ dibaca ‘ono’, ‘hapa’ dibaca ‘opo’.

Adalah Melchior Leijdecker, seorang pendeta tentara yang berlatar pendidikan kedokteran, atas perintah VOC, yang menginisiasi pemisahan kata Tuhan dan tuan. Pada masa sebelumnya, Kata tuan, ditulis dalam ejaan kala itu , “toewan”, dimaknai ganda. Toewan bisa berarti Tuhan seperti yang dipahami sekarang, sekaligus “tuan” yang setara dengan kata majikan, pada konteks manusia. Lalu lewat pertimbangan Leijdecker, makna kedua kata itu dibedakan dengan jelas. Meskipun sama-sama bermakna sebagai sesuatu yang dijadikan curahan pengabdian, namun kata Tuhan kemudian menempati posisi tertinggi, dikarenakan sifat keilahian yang disematkan, sedang “tuan” dicukupkan pada konteks insani, makhluk ciptaan ilahi. Apakah kebiasaan menambahkan aksara “h” pada kata-kata tertentu itu juga merupakan pengaruh dari unsur Hu? Belum ada yang bisa menyimpulkannya

Lema tuan sendiri, bukan kata yang baru bagi penghuni kepulauan ini. Melayu menggunakannya, demikian pula Jawa. Setelah ditelusur, istilah itupun tidak murni satu lema, tapi merupakan gabungan dua kata yang induknya sama-sama ke sansekerta. Keduanya adalah Tu dan Van. Tu artinya Pemberi kasih sayang, yang oleh bahasa Ingris diterjemahkan dengan “God of Love”. Lalu bersertanya, kata “van” yang kemudian diserap menjadi “wan”, artinya “pujian”. Tuwan (toewan) pada perjalanannya, digunakan sebagai sapaan. Letaknya berada didepan nama seseorang yang dihormati. Semacam sebutan Paduka, Yang mulia, Yang tercinta atau Tulisan penyapa pada surat masa kini : Yang terhormat (Yth).

Konon, Tu adalah kata yang akrab dengan kebudayaan nusantara. Dugaannya, karena pengaruh paham “Kapitayan” yang disinyalir pernah besar dan dianut oleh sebagian besar penguhuni kepulauan ini dimasa lalu. Ajaran spiritual yang meyakini adanya Zat penguasa mutlak disifatkan sebagai “Tan Keno Kinoyo Ngopo”, tak bisa diperkirakan, tak mampu diapa-apakan. Bahkan, bisa jadi, “Tan Keno Kinoyo Ngopo” juga bermakna “Yang tak mampu dinamai” karena agung dan sucinya. Apakah pemaknaan ini juga yang mendasari kenapa  para ahli bahasa sebelum Leijdecker kebingungan mencari padanan kata God ?

Manifestasi atas penyifatan adikodrati yang dianggap sumber segala sumber itu, terpancar pada segala hal yang punya unsur kata Tu dan To. Baik yang negatif atau positif, hakikinya berangkat dari awal yang sama.  Pemeluk Kapitayan meyakini adanya kekuatan supranatural pada wa-tu, tu-gu, tu-lang, tu-nggul, tu-ban, tu-mbak, tu-nggak, tu-lup, tu-rumbuhan, to-san, to-pong, to-parem, to-ya. Saat melakukan ritual pemujaan, para penganut kapitayan juga menyediakan sesaji berupa tu-mpeng, tu-mbal, tu-mbu. Barangkali, sistem kepercayaan dan tatacara peribadatan seperti inilah, oleh para pelancong kemudian disebut sebagai animisme dan dinamisme. Saya belum mendapatkan catatan kesaksian atas riwayat Kapitayan. Tampaknya sejarah konvensional belum banyak menelusur mengenai isu ini. Mencari kemungkinan tanda-tanda tertulis atau bentuk visual lain yang menjadi saksi dan bisa memverifikasi keberadaannya.

Berselancar dalam liuk-liuk kata dan akarnya ibarat meniti jaring laba-laba. Luas dan terkesan berpencar, tapi ternyata punya kaitan satu sama lain.  Dari sebuah kata Hu dikemudian hari orang mengenal God, kemudian Tu menjadi Tuwan hingga Tuhan. Layaknya resonansi ide yang menggelinding lalu diterjemahkan bahasa-Bahasa. Setidaknya, beginilah gambaran, bagaimana kebudayaan dari masing-masing peradaban berusaha melukar misteri keberadaan Sang Pencipta, menafsirnya lewat nama-nama. Mencicil pemahaman tentang Tuhan melalui rangkai riwayat kata. Seperti yang saya lakukan. Tentu saja, belum tentu benar dan sempurna. Bukankah ini hanya mengangsur dan belum final?

“When one is united to the core of another, to speak of that is to breathe the name HU, empty of self, filled with love” Kata Rumi dalam puisi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s