Bajak

Kepada para pembajak, saya menyerukan “Lanjutkan perjuanganmu!”. Meskipun dongkol dan ingin ngaplok, tapi saya bukan superhero komik yang bisa memberantas tuntas kejahatan dimuka bumi. Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengabarkan, kalau tulisan-tulisan saya tertayang di website orang, dengan pengatasnamaan penulis yang diganti. Saya tidak heran. Ini jaman digital, salin menyalin makin mungkin.

Membajak itu sulit. Perlu keberanian untuk menampilkan diri serupa orang lain. Mesti pandai membangun topeng. Pembajak yang bijak, adalah dia yang tidak mau menerakan namanya pada sesuatu yang disalin tanpa ijin itu.  Anggaplah sedang menempatkan diri sebagai tenaga sukarela. Semacam pengganda nirlaba. Yang repot, justru kalau dia bersikukuh mengganti label nama pengarang, menjadi namanya. Itu tindakan sangat berani. Dia mesti menguasai cara berpikir orang  yang tulisannya dicaplok, pandai memahami tema naskah yang diambil. Lebih mencengangkan, ketika konsekuensinya dia diminta bertanggung jawab terhadap argumentasi yang terpapar didalam tulisan yang dipungut tersebut. Atau mereka, para pembajak itu, tak memperhitungkan kemungkinan-kemungkin resiko seperti ini? Baiklah, saya kabarkan, siapa tahu terjadi.

Sumbang saran saja kepada para pembajak tulisan. Jangan setengah-setengah, jadilah pembajak yang kaffah. Bila hanya turut memperbayak karya tulisan lantas diakui sebagai miliknya, itu sayang. Segera produksi hasil bajakan itu, jadikan buku, bikin diri terkenal. Disorot sebagai seorang penulis. Keruklah laba sebanyak-banyaknya. Tapi jika sudah membajak, mengedarkan dan menjual, masih belum bisa kaya raya, sebaiknya cari profesi lain saja.

Ini bukan perkara hak cipta. Entahlah, perbincangan mengenai copyright akan cenderung angkuh. Seakan-akan ide dan kerangka karya adalah sesuatu yang tulen datang dari diri sendiri. Padahal, karya itu dibangun atas kontribusi banyak pemantik. Saya menulis karena  berbahan pemikiran banyak orang . Membuat adonan atasnya, memasak ulang, jadilah tulisan versi saya. Penulis itu layaknya koki, yang mengolah boga dari bahan-bahan yang disediakan lingkungan serta pengalaman.

Barangkali sebutan yang tepat memang bukan tentang hak cipta. Tapi soal tegur-sapa. Membangun kemesraan dalam berbagi informasi. Tak ada salahnya bilang, “Bagaimana kalau saya terbitkan tulisan sampeyan atau saya muat di blog saya?” Itu akan lebih adem dan mengakrabkan. Mengenai aturan main dalam perniagaannya, itu bisa dibicarakan sembari ngopi.

Jangan-jangan, tindakan mengambil tanpa permisi, dijaman ini telah dianggap seksi. Keberhasilan mencuri sudah menjadi kepuasan tersendiri. Atau kebutuhan bertopeng, telah mendarah daging. Ingin jadi seperti orang itu, ingin tampil layaknya orang ini. Sebab memproses lemparan-lemparan informasi menjadi hidangan karya lanjutan, sedemikian berat. Shortcut lebih menggoda. Tinggal tekan mouse klik copy, lalu terapkan di halaman kosong. Mudah, singkat dan cepat ngetop. Meski palsu, itu tak apa, yang penting mendulang pengakuan liyan.

Kepada para pembajak, saya ajak untuk  berlomba. Semakin tekun sampeyan membajak, kian rajin saya menulis. Sebab yang sampeyan ambil itu hanyalah hidangannya, tapi bukan bumbu dan cara meraciknya. Mari balapan begadang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s