Pekerjaan

Ini bukannya sok, tapi saya paling jengah jika ditanya “Pekerjaannya apa?”. Kerap geregeten. Suatu kesempatan, ketika seseorang menanyakan itu, saya jawab ketus “Enaknya apa?” Mungkin karena pada dasarnya pekerjaan saya memang tidak pernah jelas. Mana yang bisa diolah, akan dimasak.

Kalau yang dimaksud dengan kata “pekerjaan” itu pergerakan produktif dalam kisar 24 jam, saya punya banyak jawaban atas itu. Petani karet, kadang menulis, mendesain web dan media cetak, lain saat jualan daging ayam dari peternakan kecil dibelakang rumah. Itu belum kalau saya diminta jadi makelar untuk alat-alat elektronik. Yang terakhir ini, belum pernah saya lakukan. Hanya nyaris. Meski tidur juga sebenarnya produktif. Ada proses pemulihan dan aktivasi komponen tubuh yang mandeg justru ketika bangun. Tapi industri tidak mengakuinya.

Kalau pekerjaan yang dimaksud adalah apa yang tertulis di KTP, saya wiraswasta. Ini juga karena Pak RT di kampung saya, tidak begitu tahu apa yang saya lakukan jika di rumah dan di luar sana. Daripada kosong, saya manut saja ditulis demikian. Bukankah melegakan orang bukan perbuatan salah?

Si penanya kaget, lalu melanjutkan “wah, sampeyan hebat sekali. Menguasai banyak hal. Pasti sudah kaya dong?” Tentu saja saya mrenges. Lho, justru karena saya kere maka mesti punya banyak senjata untuk bertahan hidup. Belajar banyak hal, lalu mengaplikasikannya untuk melawan rombongan penderitaan. Karena persoalan hidup saya berlimpah, maka pusakanya juga mesti berlapis-lapis. Dengan langkah seperti itupun, tak secara otomatis membuat saya jadi kaya raya. Tetap begini, kere keser-keser. Bukannya pinter atau jenius. Itu menuduh namanya.

Pekerjaan tak melulu diartikan tentang ikhtiar mencari uang. Anggaplah uang itu bonus. Karena terlibat dalam arus hukum sebab-akibat, maka tiap pergerakan punya dampak. Sayangnya, apa yang disebut “berhasil” selalu diseret kepada hal yang disukai saja. Kalau sebuah kegiatan berujung pada sesuatu yang tidak mengenakkan, lantas itu dibilang kesia-siaan.

Manusia itu suka mengelompokkan apapun dalam kotak-kotak bernama. Konon, untuk mempermudah identifikasi atas sesuatu. Kalau ada perkara yang tidak cocok dengan harapan, disebut musibah. Lantas bila mendapatkan bab yang sesuai dengan kehendak, dijuluki rejeki. Padahal keduanya adalah kategori yang sangat cair. Rejeki bisa menjadi musibah, bila cara melihatnya dari sudut berbeda. Juga sebaliknya. Musibah, jangan-jangan rejeki yang terselubung. Kalau hari ini tidak mendapatkan uang, jangan kecut. Lihat anak dan istri di rumah. Bila mereka masih sehat dan ceria, bukankah itu rejeki juga?

Tapi sabar dan teliti itu susah. Hidup memang lebih terkesan mengancam. Layaknya lari, bikin terburu-buru lalu terengah. Itulah kenapa saya menyimpan banyak bekal. Agar ketika haus datang, setidaknya memiliki cara buat mengatasinya. Itupun bukan jaminan lepas dari penderitaan. Saya masih menggeh-menggeh. Hanya upaya untuk bertarung, supaya lukanya tidak terlalu banyak. Persoalan apakah senjata-senjata yang disiapkan tersebut menghasilkan uang atau tidak, biarlah hukum sebab akibat yang membawanya. Jika lelah, tinggal mengeluh kepada Tuhan. Toh, Dia tetap akan bertanggungjawab, karena sudah kadung menciptakan.

Ah, saya seperti motivator saja. Berderet-deret memberi nasehat. Bukan bermaksud menggurui, tapi kata banyak orang, masa ini adalah jaman edan. Yang tidak ikut gila, tak bisa menikmati bagian. Menjaga kewarasan juga tidak gampang. Tapi, jangan-jangan, selalu melihat sebuah perkara dari arah yang bermacam-macam, merupakan bagian dari upaya menjaga kewarasan itu. Kadang linear, lain saat sirkular, spiral, zigzag atau kadang juga perlu diam. Namanya juga usaha menghadapi hidup yang keras. Kalau gagal, ya belajar lagi. Jika capek, tinggal menangis sama Gusti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s