Tokoh

Makin lama, media massa bekerja layaknya malaikat. Mereka punya catatan baik dan buruk orang. Tentu dengan versi yang disesuaikan kepentingannya. Merekam jumlah mobil seorang menteri, berapa kali dalam sebulan dia bertemu presiden. Memantau jumlah istri gubernur dan seberapa luas lahan rumahnya. Lebih detil lagi, bahkan bisa memberitakan, bupati di kabupaten A, makan pakai sendok atau tangan.

Siasatnya juga berlapis-lapis. Jika tidak layak dijadikan warta serius, maka akan diungsikan dalam mata acara infotainment. Kalau tak cocok digosipkan, masukkan saja dalam program inspirasi. Apabila terlalu banyak rinci informasinya, letakkan di agenda bincang-bincang. Tak kurang cara untuk bisa mengenalkan seseorang menjadi selebritas.  Media tahu banyak dan pemirsanya adalah golongan yang tahu sedikit. Maka disuguhkanlah informasi profil-profil itu dengan beruntun.

Maka, jika sampeyan bingung, apakah seorang tokoh A itu baik atau buruk, tanyalah media. Mereka punya repornya. Mengenai siapa yang cocok jadi presiden, konfirmasikan saja kepada mereka. Hanya saja, jangan kecewa, jika suatu saat, orang-orang yang ditokohkan dengan mulia itu, tiba-tiba digiring KPK. Seorang yang sedemikian dipuja, lantaran aktifitasnya kerap diliput koran dan televisi pun berpotensi masuk bui. Begitu juga sebaliknya. Figur B yang dihujat habis-habisan sebab melakukan kesalahan, besok hari bisa dielu-elukan. Di negeri ini segala kemungkinan bisa terjadi.

Politik di Indonesia itu lingkaran berduri. Siapa yang berada didalamnya berpeluang cedera. Hari ini dia disanjung, bisa jadi lusa kesandung. Tanggal ini bertabur puji-puji, bulan berikutnya bisa dicaci maki. Kali ini dilempar telur karena salah, lain saat dapat berbalik perlakuan. Ingatan memendek, orang gampang lupa.

Media hanya sedang belajar menjadi malaikat. Dan sewaktu belajar, meleset-meselet sedikit, bisa dimaklumi. Kemampuan jangkaunya, tak bisa mendeteksi pergerakan pejabat selama 24 jam. Bahkan capaian ruangnya, terbatas tak sampai memasuki WC dan kamar pribadi. Susah mengetahu rembug-rembug korupsi di kamar mandi, persengkokolan suap lewat bbm, kongkalikong nilep anggaran dikolong meja atau bisik-bisik siapa yang hendak dikorbankan, agar citra partai tetap terjaga.

Jadi, siapkan kalender saja. Ketika seseorang dijunjung sepak terjang dan kerjanya, segera lingkari tanggal tayangnya. Siapa tahu, sampeyan lupa. Jangan sampai terbelalak, ketika tokoh tersebut tiba-tiba digerebek KPK “Lho…Kok bisa?” Dan jangan resah juga, bila di lain kesempatan, saat dia sudah keluar penjara, lantas dijadikan narasumber inti, pada seminar pemberantasan korupsi. Karena diteras kekuasaan negeri ini, hari-hari ini, nyaris susah membedakan, mana pahlawan mana bajingan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s