Pidato

Entah apa yang sedang berkecamuk di benak seorang teman, hingga dia mengirim pesan singkat lewat ponsel pagi tadi “Apa yang membuat orang Amerika pinter pidato?” Tak langsung saya jawab. Sembari berkendara, saya menebak-nebak apa gerangan yang memantik dia bertanya demikian. “Apakah ini perkara bahasa?” lanjutnya.

Berbicara didepan orang banyak, memang tidak mudah. Bukan semata kepandaian membidik topik. Tapi juga kepekaan menguasai suasana. Menebarkan pengaruh kepada hadirin melalui ekspresi, tata bahasa dan kedekatan emosional. Ibarat koboi yang berburu kawanan kijang. Mengayunkan lasso, sembari menghela kendali kuda, supaya tetap jejeg meskipun ngebut. Menjaga ketenangan dalam waktu yang sempit serta gaduh, bukan sesuatu yang remeh. Apalagi menyiasati supaya tali pembebat yang diputar-putar diatas kepala itu, supaya terlempar tepat sasaran.

Menonton pengguna bahasa Inggris bicara pada sebuah perhelatan, memang beda. Biasanya, pada acara pemberian penghargaan film, musik atau keilmuan. Demikian juga, dengan pidato para kenegaraan. Pada upacara penobatan Obama sebagai Presiden Amerika, sambutan yang disampaikannya, memanen decak kagum. Konon katanya, menyentuh perasaan dan menyalurkan getar-getar keharuan. Terasa lain, bila dibanding dengan pengguna bahasa Indonesia secara umum. Dengan tidak menghilangkan kenyataan, bahwa di negeri inipun terdapat sejumlah orang yang ulung dalam berpidato.

Bahasa Inggris punya susunan yang lebih sederhana. Aturan teknis penuturan yang ramping dengan etika pakai yang tak berlapis-lapis. Sebagai bahasa perdagangan dan penyebaran misi kapitalisme, bahasa Inggris dibangun untuk bisa melintasi batas-batas budaya. Menaklukkan kawasan kebudayaan lain, agar bisa menuntaskan tujuannya memasok nilai-nilai ideologis. Karakternya difungsikan sebagai ujung tombak perniagaan mendunia serta tranformasi kultur kapitalistis.

Gempuran-gempuran bahasa Inggris, meluncur bersamaan dengan pembukaan gerbang isu globalisasi. Apesnya, dia datang justru ketika bahasa Indonesia masih belum mapan berdiri. Sedang belajar untuk terus menyerasikan dengan keberagaman bahasa lokal di negeri ini. Kemapanan bahasa diukur dari seberapa besar kehadirannya, mampu mempengaruhi cara berpikir penggunanya.

Bahasa Indonesia yang gendut dan muda, memuat tangga etika berlapis-lapis. Hasil dari menyerap “bahasa ibu” yang jumlahnya tak sedikit. Hanya untuk menggungkapkan perwakilan diri saja, seseorang mesti memilih “saya, aku, hamba, gue, beta atau ane?” Akibatnya, melahirkan aturan-aturan tak tertulis, untuk teliti dalam menerapkan. Supaya tidak bertabrakan dengan tata nilai kesantunan dan kekeliruan konteks. Hingga terbit pertanyaan menggelitik, “berbahasa Indonesia yang baik dan benar itu seperti apa?” Bila jawabnya adalah berbicara sesuai susunan kebakuan, seperti yang disarankan oleh diktat tatabahasa itu, mungkin akan segera menuai sangka “Sampeyan sedang berteater ya?”. Padahal, pengujarnya mungkin saja bermaksud untuk rapi dan patuh terhadap kaidah yang ditetapkan.

Kita memang tidak benar-benar akrab dengan bahasa Indonesia. Bahkan sejak memasuki sekolah dasar. Yang diajarkan disana, lebih banyak mengenai peralatan berbahasa. Pernik-pernik yang digunakan dalam bertutur dan menulis. Pola itu terus direpetisi hingga sekolah menengah atas. Bukan dilanjutkan dengan pengajaran siasat berkomunikasi atau mengolah jurus-jurus menenun sastra. Melupakan sisi pentingnya berbahasa, yaitu bagaimana menyampaikan gagasan agar sesuai dengan latar ruang dan lingkup waktunya.

Berbahasa adalah kegiatan melenturkan pertemuan antara dua atau lebih argumentasi. Agar bisa saling jalin serta tukar. Mengatur strategi, bagaimana informasi bisa disajikan, lantas disantap bersama. Bukan semata memuja kebakuan-kebakuan yang hanya akan memunculkan suasana yang alot. Dalam pembawaan yang kaku, pesona sukar tertular, perasaan susah tersentuh.

Dikemudian hari, bahasa Indonesia terkesan diletakkan pada kotak tertutup. Bahwa yang diajarkan di sekolah-sekolah, hanya untuk urusan serba formal. Diluar itu adalah bahasa daerah ditambah bahasa gaul. Ada anggapan, untuk bicara yang luwes dan supaya masih berbau bahasa Indonesia, pakailah cara betawi. Bahasa Indonesia yang baik dan benar itu, lebih indah dan komunikatif, jika dituliskan saja.

Belum lagi dengan adanya tembok pembatas, antara apa yang disebut bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Kata “daerah” disana, sudah menjadi tanda bagaimana pemisah itu begitu kentara. Jika bahasa Indonesia adalah penaung dari seluruh bahasa asli penduduk Indonesia, maka semestinya, kata “daerah” sudah tidak patut dipakai lagi. Karena justru akan membangun pembeda yang angkuh. Alangkah Indahnya, jika penyebutannya diganti bahasa Indonesia jawa, bahasa Indonesa bugis, bahasa Indonesa batak dan lain sebagainya. Sehingga semangat bahasa Indonesiapun bisa beriring jalan dengan kekayaan ragam bahasa asli rakyat Indonesia. Cair dan lentur.

Umpamanya saya. Sebagai orang jawa, yang dibesarkan dalam alam berpikir jawa, ketika berbahasa Indonesia, konstruksi berpikir jawalah yang terbawa. Itulah yang mendasari cara berekspresi, bereaksi, kemampuan apresiasi dan mengidentifikasi sesuatu. Dengan demikian, bahasa Indonesia yang saya gunakan, adalah Bahasa Indonesia Jawa. Bentuk logika dasar yang dibangun pada diri manusia, adalah ukiran-ukiran yang dipahat oleh “bahasa Ibu”, yang kemudian jadi bekal sejalan arus kehidupannya.

Aturan kebakuan, memang diperlukan untuk memancang pagar-pagar teoritis. Agar tak liar dan punya garis besar panduan. Tapi tidak dengan itu malah menjauhkan bahasa Indonesia dengan bahasa-bahasa pembangunnya. Jika memang disebut sebagai bahasa persatuan, maka biarlah dia merasuk sesuai dengan lekuk lidah masing-masing rakyat Indonesia.

Konon, kalau serampangan mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa-bahasa asli penduduk negeri, disebut menyalahi tatanan. Menuai kontroversi, apalagi jika dibawa pada forum resmi yang dihadiri bermacam kalangan. Kerap disindir “tidak nasionalis”. Lho, bukankah istilah “nasional” dibangun dari unsur-unsur kedaerahan? Yang dimaksud dengan nasional itu adalah padatan-padatan yang manunggal dari semangat kesukuan yang menopangnya. Artinya, ketika berbicara bahasa Indonesia dengan gaya “bahasa ibu”, akan secara otomatis membawa semangat kebangsaan Indonesia. Karena Indonesia itu eka yang ditunggalkan bhinneka.Itupun jika definisi “semangat kebangsaan Indonesia” telah benar-benar ada. Jika belum ada? ya embuh

Bahkan lebih tragis lagi, pengguna bahasa-bahasa asli, kerap digambarkan lebih terbelakang. Lihatlah di televisi, sinetron-sinetron itu menempatkan seseorang yang berbahasa jawa, misalnya, pada status yang terpuruk. Menjadi babu, kental nuansa ketertinggalan jaman atau kesan miskin. Sedang anehnya, mereka yang mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, diasumsikan mempunyai status sosial yang lebih tinggi. Lebih diperbolehkan dan seakan-akan sah-sah saja melakukannya. Bahkan, tak sekali dua, presiden negeri inipun berpidato kenegaraan dengan cara seperti itu. Apakah begini berbahasa Indonesia itu? Menyingkirkan ujaran lokal kedaerahan, tapi disisi lain, malah terang-terangan mengaduknya dengan Bahasa Inggris? Apakah patut?

Jika memang penggunaan bahasa Inggris yang dicampur dengan bahasa Indonesia itu diijinkan, bahkan untuk acara kenegaraan sekalipun, sekalian saja dibuka pintu keleluasaan, untuk berbahasa Indonesia secara etnik juga. Karena keduanya punya resiko komunikasi yang sama. Kalau ada kosakata yang tidak dimengerti, tinggal terjemahkan saja. Sediakan kamus, atau langsung diterangkan oleh pembicara. Bukankah kita harus terbiasa dengan perbedaan, sehingga tak kaget bila ada benturan? Alergi terhadap perbincangan perbedaan etnis, ras dan suku bangsa, hanya akan memelihara sensitifitas yang salah kaprah. Aturan pokoknya sudah jelas, jika saling menghormati, tak akan terjadi masalah. Perbedaan tak perlu ditutupi dengan semboyan-semboyan hiburan.

Bahasa adalah representasi cara berpikir bangsa. Masing-masing bahasa berbeda langgam mengungkapkan perasaan, pelontaran ide, membentuk gesture berikut etika yang menyertainya. kata peribahasa “Deso mowo toto, negoro moro coro“. Jangan-jangan bahasa Indonesia memang masih mentah. Sehingga cara berpikir a la indonesia belum rampung terdefinisi. Masih kikuk, belum lentur untuk masuk dalam liang-liang keberagaman Indonesia. Berindonesia itu yang seperti apa? gaya Indonesia itu yang bagaimana?

Sementara, orang membutuhkan kesederhanaan dan keluwesan komunikasi pada abad yang menuntut efisiensi ini. Bersamaan dengan itu sistem pendidikan modern sudah terlanjur terselenggara berhiaskan hembusan angin globalisasi. Akhirnya, generasi seperti saya, dan kebanyakan sampeyan, diajar dengan pondasi cara berpikir bahasa Inggris, sebagai perangkat kerja misi globalisasi. berjejal dengan alam pikiran dasar, yang dihembuskan lingkungan ketika kita kecil lewat “bahasa ibu”. Hingga logika-logika yang berpusar di otak, konstruksinya berpondasi pada nalar bahasa Inggris. Mulai dari Buku, tontonan, musik dan gaya hidup, tak bisa lepas dari pengaruh senjata kapitalisme itu.

Kita adalah obyek dari selimut globalisasi, yang merayu lewat desakan bahasa Inggris, hingga cara berpikir kitapun sedikit demi sedikit bergeser mengikuti pola mereka. Maka kita menemukan peristilahan baru berikut konfirmasi budayanya, yang keluar bersamaan dengan geliat perniaagan yang ditawarkan kapitalisme global itu. Contohnya Metrosexual, smartphone, Online, Busway dan lain-lain. Produksi tidak hanya terbatas barang dan jasa, tapi juga Istilah. Sebab dengan istilah tersebut, cara berpikir konsumen, mengenai penilaian barang dan fungsi, akan terenggut. Iklan-iklan pegang peran, mencecar pikiran.

Wajar jika belakangan, orang banyak bertanya “Kenapa pidato orang bule-bule itu, dari anak kecil hingga presiden, bagus? Sedang pidato orang-orang disini, bikin ngantuk?” Jawabanya karena kita mengalami kecocokan perasaan berbahasa, kemiripan logika komunikasi dengan para orator berbahasa inggris itu. Dan kepada pembicara berbahasa Indonesia, justru tergelar jeda pemisah. Ada jarak yang belum mampu dirapatkan. Disamping juga, karena ketidakpiawaian penceramah berbahasa Indonesia untuk menyiasati bagaimana berkomunikasi yang akrab itu.

Padahal, kalau mau jeli, kita punya banyak orator-orator ulung yang menggetarkan di negeri ini. Mereka adalah penutur bahasa Indonesia yang luwes serta menggugah, silahkan ditelusur saja. Mengawinkan keragaman bahasa asli di nusantara dalam sela ujarannya, agar akrab dengan hati masing-masing orang yang datang. Tidak kaku dalam bersapa. Sehingga pendengarnya hanyut menikmati. Tertawa dan menyerap gagasan-gagasan orang yang berpidato, karena kedekatan kultur dan kerangka logika.

Bisa jadi, ganjalan ini juga yang membuat sebagian orang, tidak begitu menikmati kelucuan-kelucuan yang ditawarkan acara televisi stand up comedy versi Indonesia. Tapi sebaliknya, malah bisa terpingkal-pingkal apabila menonton jenis program yang sama, pada televisi berbahasa Inggris. Program tersebut dibuat dengan kerangka logika komedi a la bahasa Inggris. Kelucuan yang dipaparkan disana adalah plesetan dari kebudayaan tutur dan ekspresi yang dibangun lewat cara berpikir Bahasa Inggris. Maka bagi siapapun yang pola pikirnya dibentuk dengan skema bahasa Inggris, akan lebih menikmati sajian berdasar bahasa aslinya ketimbang acara salinannya.

Sama seperti orang surabaya menikmati ludruk, orang Jogja terkekeh-kekeh dengan dagelan mataraman, orang Sunda yang tergelak dengan celoteh Cepot pada wayang golek atau orang Betawi dengan keceriaan lenongnya. Saat masing-masingnya ditukar,  misalnya, Orang Sunda yang tak mengerti bahasa Jawa, diminta menonton dagelan mataraman, apresiasi akan mecet. Perlu proses sinkronisasi lebih lanjut, yang diantaranya adalah belajar memahami bahasa dan latar belakang budaya. Maka jika hendak menyalin acara dari luar negeri, sebaiknya dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga berpadu dengan dasar logika bangsa yang beragam ini. Karena lelucon juga memerlukan ketepatan konteks ruang-waktu, terjalinnya hubungan emosional-kultural antara komunikator dan komunikan. Jadi, kehambaran bisa diminimalisir.

Ketidakakraban kita dengan bahasa Indonesia, tercontohkan pada cara pidato pemimpin di negeri ini. Datar, tanpa greget dan dingin. Menguasai bahasa tak hanya hafal kosakata, tapi juga bisa bersiasat dengannya. Melekuk, memoles, menundukkan, membagi empati, agar maksud digenggaman bisa tersampaikan. Barangkali itu yang banyak dilupakan para pemimpin itu. Kegamangan juga menjangkit pada sekelompok anak muda yang membuat kaos bertuliskan “I Love Indonesia”. Bahkan untuk menyatakan cinta kepada negerinya saja, mesti menggunakan bahasa Inggris. Saya tidak tahu, apakah jika ditulis “Aku Cinta Indonesia” akan ada yang menimpali “Ah, ente terlalu puitis. Biasa aje deh”? Yang puitis itu yang bagaimana, yang biasa itu yang seperti apa? Bisa menjelaskan?

Jangan-jangan bahasa Indonesia itu tak hanya berjarak dengan penggunanya. Lebih parah lagi, Bahasa Indonesia tak memahami Indonesia itu sendiri. Sebagai alat representasi karakter kebangsaan,bahasa Indonesia bingung, siapa yang diwakilinya. Layaknya bayi yang belum mengenal ibunya. Karena hingga kini masih gaduh pertanyaan “Karakter yang meng-Indonesia itu yang seperti apa, sih?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s