Curhat

Konon, menjadi pendengar setia itu sulit. Itu kenapa telinga diciptakan berjumlah dua, dengan letak yang berseberangan, supaya memudahkan tangkapan suara. Bisa jadi!

Menjadi sopir taksi di Jakarta, modalnya tak cuma nyali dan energi, namun juga keluangan telinga. Kesediaan untuk selalu mendengar apapun yang di suarakan penumpang. Bisa mengendalikan diri saat penumpang terlalu cerewet, juga kesabaran berlimpah jika orang yang dibawanya diam saja hingga perjalanan sampai tujuan. Pengemudi taksi di kota metropolitan ini seperti penyaksi atas segala hal. Mereka berinteraksi dengan beraeka ragam jenis manusia. Mengikuti obrolan-obrolan singkat maupun panjang. Dari soal hutang piutang, hingga mungkin perihal politik.

Saya senang menyampaikan kesimpulan bodohan ini pada mereka. Berulang-ulang untuk rata-rata sopir taksi yang kendaraannya saya tumpangi.  Sekadar bekal mengawali obrolan saat melakukan perjalanan dalam kota. Tentu responnya bermacam-macam, tergantung mood sopir taksinya. Kalau sedang bugar, mereka akan makin dalam menelisik topik tadi. Sebaliknya, bila tengah mumet, cenderung menanggapi seperlunya. Tapi kebanyakan, pancingan saya berhasil. Sebagian besar pengemudi angkutan umum sedan itu antusias membicarakan isu yang saya ajukan.

Seperti tadi malam, saya malah dicurhati oleh sopir taksi. Dia baru saja mengalami peristiwa yang membuat heran. Hari itu, Dia mengantar seseorang ke rumahnya di kisaran Jakarta barat. Berangkatnya dari Jakarta selatan, seputaran Pasar Minggu. Sesampai tujuan, sang penumpang menawarinya mampir. Tentu saja, sopir itu menolak. Dia mesti berkeliling untuk melanjutkan perjuangannya mengais nafkah.  Tapi penumpang itu memohon. Pengemudi taksi tadi akhirnya rikuh, lantas menuruti keinginan lelaki setengah baya yang diantarnya tersebut.

Kurang lebih dua setengah jam, keduanya minum kopi di teras. Mengudap makanan kecil, sembari ngobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal. Pak sopir mendengar keluh kesah lelaki yang menumpang taksinya itu dengan sungkan. Ini baru pertama kali bagi dia, bersedia mampir untuk berbincang intens dengan penumpang yang baru dikenal. Seorang lelaki yang hidup sendirian di rumah besar dan terkesan kesepian. Lelaki itu bercerita mengenai mantan istrinya, anak-anak yang sekarang sudah tinggal terpisah, keadaan kantornya yang menjemukan, hingga situasi politik yang kian brengsek. Ada dua mobil berderet di garasi, tapi tak satupun manusia lain yang nongol dirumah itu selain bapak setengah baya tadi. Dia sendiri yang membuat kopi, membawa dengan nampan, lalu menyilahkan ngemil keripik tempe yang disuguhkan dalam kotak kaleng.

Dengan lancar disertai selipan tawa kecil, sopir taksi  itu mengisahkan peristiwa yang baginya aneh itu kepada saya. Di jagat jakarta yang padat dan gaduh begini, dia menemukan fenomena janggal. Orang-orang yang kesepian ditengah keramaian. Paradoks. Kejadian dipaksanya sang sopir untuk ngobrol di rumah penumpang, memang baru sekali itu. Tapi, sebelumnya, dia kerap bersinggungan dengan obrolan-obrolan serupa dalam kendaraannya. Orang-orang yang kelelahan dengan sibuknya jakarta merentetkan sekian suka-dukanya. Pernah juga, sopir taksi itu membawa seorang penumpang yang sengaja menaiki mobilnya untuk berkeliling saja, tanpa tujuan. Bayar seseuai argo, menyerahkan perjalanan kepada pengemudi. Terserah mau kemana, dia hanya ingin menelusur jalanan kota sambil duduk diam di belakang. Seakan hendak melepas segala kebosanan dalam dirinya.

Begitulah. Jangan-jangan, kota-kota metropolitan selalu melahirkan hal yang sama. Ceceran orang-orang yang merasa senyap diantara kegaduhan sekitarnya. Mereka yang rindu terhadap perbincangan hangat dan meringankan. Kafe-kafe laris dengan jejalan orang yang beli minum dan menyewa tempat duduk. Media persapaan online – seperti twitter – dibanjiri dengan lontaran-lontaran ekspresi penuntas kesunyian.

Orang terdorong untuk memunculkan sisi lain dari dirinya, sebab capek dengan peran yang rutin di jalani. Seorang pekerja kantoran, rindu dengan potensi dirinya yang lain, saat kesepian datang. Maka dia akan membuka ponsel, memasuki ranah twitter, lalu berlaku sebagai pengamat politik, filsuf, penyair atau pelawak. Riuh rendah rutinitas kota besar, mengakibatkan kejenuhan. Penghuninya ingin lari dari satu suasana ke suasana berbeda untuk menjaga stabilitas kewarasan. Maka orang kota besar juga mendamba piknik, yang mengakibatkan biro-biro travel laris, tiket angkutan antar kota ludes tiap masa libur tiba.

Apapun dipergunakan untuk mengalihkan resiko-resiko sebagai warga metropolitan. Hingga menyewa telinga sopir taksi untuk mewadahi kegelisahannya. Termasuk pada taksi yang saya tumpangi dimalam itu. Sopirnya, telah melampaui sejumlah peristiwa, dimana dia tak cuma berperan sebagai pengemudi, namun juga bank keluh kesah. Saya kagum kepada sang sopir. Kenapa? Karena kesetiaannya mendengarkan adalah kemuliaan. Saat semua orang ingin bicara dan didengarkan tentang hiruk-pikuk perasaan, gagasan dan opininya, dia menyediakan diri untuk jadi penampung suara. Meski motifnya adalah mencari nafkah, tuntutan ekonomi, tapi melayani celoteh setiap orang yang menumpang, dengan kesabaran mendengarkan, bukanlah usaha gampang.

Apalagi, jika dia harus rela mendengarkan hal-hal yang tak disukainya. Padahal, bisa jadi, kebanyakan obrolan dalam taksi itu, diluar kepentingan-kepentingan sang sopir. Ibaratnya, pengemudi itu bisa bilang “emang gue pikirin!”

Agaknya, metropolitan tak hanya melahirkan paradoks ramai-sepi. Tapi juga memunculkan semangat-semangat untuk enggan mendengar, tak betah menyediakan telinga menampung keluh kesah. Jika ini benar, maka saya usul : “Bagaimana kalau DPR dan lembaga kepresidenan dipindah ke desa saja?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s