Ukuran

Tetangga-tetangga saya di kampung, barangkali bisa disebut golongan manusia yang nerimo. Bukan pada persoalan jangkauan ekonomi atau kuat-ringan daya tawar politiknya, tapi pada masalah penentuan ukuran jarak dan waktu tempuh. Mereka tidak memakai besaran-besaran hitungan jarak yang umum digunakan. Seperti kilometer atau jam. Untuk menghitung jauh dekatnya sebuah tempat yang hendak dituju pada sejurus perjalanan, mereka punya parameter sendiri.

Jika jauh, misal dari kampung saya di sumatera sana hendak ke Jakarta, mereka memakai ukuran hari atau malam. Pertanyaan yang umum muncul jika ada orang hendak ke ibukota, “Jadi, perjalanan pakai mobil ini berapa lama?” dijawab “dua hari, satu malam”. Tak peduli, dua hari satu malam yang dimaksud itu 36 , 40, 50 atau 60 jam. Sedang untuk menghitung jarak dekat, orang-orang di kampung saya, lazim menggunakan skala harga angkutan desa. Entah itu angkutan motor  – ojek – atau mobil. “Ke desa sebelah berapa jauh?” Begitu contoh pertanyaannya, lantas dijawab “Ah paling ongkosan sepuluh ribu”. Dengan mengesampingkan pertimbangan, perjalanan itu mengendarai motor atau mobil jenis apa, merek apa, rakitan tahun berapa.

Jika ada pendatang baru yang bertandang lalu bertemu dengan keterangan-keterangan itu, tentu akan dibuat bingung. Ukuran-ukuran yang dipakai oleh sebagian besar warga, hanya berlaku bagi mereka saja. Pendatang mesti beradaptasi dengan memahami, syukur mau ikut belajar. Warga di kampung saya tidak mau repot menghitung atau mengkonversi skala yang dipahami itu dalam bentuk lain. Saya pernah iseng bertanya kepada salah satu tetangga “Pak, kalau dua hari satu malam itu, tepatnya berapa jam ya?” dengan gesit dia menjawab, “Wah, susah mas menentukan jamnya. Jalanan dari sumatera menuju jawa itu rusak, berliku dan sempit. Kalau pakai jam akan susah dipastikan. Itu belum ditambah, jika mobilnya rusak”

Saya pikir, betul juga. Ketidakpastian-ketidakpastian pada penempuhan rentang antar dua tempat, sudah mereka sadari lingkupnya. Sehingga lambat laun melahirkan konvensi tentang jenis ukuran. Mengumpulkan sekian asumsi, dengan dilandasi pengetahuan akan resiko moda yang disebabkan oleh derajat kesulitan medan lintasan. Seakan-akan, mereka tidak mau berjudi dengan ketepatan-ketepatan rinci, yang pada akhirnya mengecewakan. Jika sudah terlanjur yakin bahwa waktu tempuh dari kampung ke jakarta itu 24 jam, tapi ternyata dinamika jalan raya membuat perjalanan lebih lama, tentu ini akan patah hati.  Hitungan yang dipercaya, tak sesuai harapan.

Terhadap jarak tempat juga begitu. Logika yang dipakai, semakin jauh jarak dan besar dampak kerusakan kendaraan akibat kondisi jalan, maka kian mahallah ongkos angkutan umumnya. Kemudian dibuat persamaan, bahwa bila ongkos naik kendaraan umum adalah Rp.10.000, maka sama dengan 10 km. Itupun masih mengambang. Karena bisa saja, Rp. 10.000 tadi, berubah menjadi 5 km ditambah ban bocor, mobil mogok terjebak kubangan lumpur dan lain semacamnya. Faktor-faktor tidak terduga telah disertakan sebagai variabel untuk menentukan besaran  jarak dan waktu.

Seiring waktu, kesepakatan-kesepakatan tersebut, memadat jadi konvensi tetap.  Digunakan turun menurun antar generasi. Revisi hanya berlaku ketika kondisi jalan diperbaiki atau harga bbm naik. Tetapi dasar berpikir penentuan ukurannya tetap. Memakai besaran-besaran yang dinamis dan tidak zakelijk.

Tidak menutup kemungkinan, pola-pola seperti ini juga berlaku di banyak tempat lain. Bahkan di Jakarta. Ketika terjadi banjir besar tempo hari, televisi gencar memberitakan mengenai intensitas air bah. Seorang penyiar mewartakan, “Ketinggian air di daerah kampung melayu sudah mencapai sepinggang orang dewasa”. Tak cuma itu, kabar-kabar di layar kaca, juga kerap memakai istilah “Semata kaki, selutut orang dewasa” dan sejenisnya untuk mengukur seberapa tinggi air yang menggenang pada sebuah kawasan.

Barangkali kalau ditanyakan, kenapa memakai ukuran-ukuran yang tidak jelas itu, mereka akan menjawab “Lho, banjir kan tidak tentu pak. Menit ini bisa 1,15 m. Beberapa saat sesudahnya berkemungkinan berubah menjadi 1.38 cm. Alangkah repotnya kalau kami harus membawa mistar untuk mengukur tiap waktu”

Makin lama, logika kampung saya dan kota jakarta tentang ukuran, kian mirip. Tetapi, jika sebuah konsep ukuran datangnya dari desa dibilang irasional, bodoh, tidak ilmiah dan sebagainya. Sebaliknya, bila terbitnya ukuran itu dari kota dianggap lebih layak. Lntas membangun alasan, bahwa ketidakpastian ukuran terjadi karena ketidaksempatan untuk telaten pada hal-hal yang detil. Begitulah, pergerakan jaman ,selalu membutuhkan kambing hitam.

Tapi tak masalah. Orang kampung tetap nerimo, orang kota tetap sibuk. Kehidupan tetap berjalan. Toh tidak ada yang terganggu, semua pihak terkesan sudah saling memahami. Konon, hidup bersama perlu konvensi, agar teratur dan tidak chaos. Meskipun absurd. Konon.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s