Presisi

Katanya, supaya nyaman dalam memandang sesuatu, yang diperlukan adalah ketepatan posisi, kewajaran jarak, keindahan perasaan.

Sekian lama terkurung dipedalaman Sumatera, dengan akses informasi yang tidak gampang, membuat saya kuper. Kabar dari luar, hanya bisa diserap saat mendapatkan koran. Tanpa televisi, tak terjangkau jaringan radio, telepon, apalagi internet. Komputer jinjing dan ponsel yang saya bawa dari Jakarta, nyaris tak berguna. Bahkan listrik belum masuk.

Untuk mendapat koran juga perlu keuletan. Saya harus menempuh perjalanan darat sekitar 60 km, melewati medan berat. Jalur belum beraspal seluruhnya, disertai ancaman begal yang bisa saja menghadang kapanpun sepanjang perjalanan. Surat kabar yang dibelipun sudah lewat tanggal. Saya sengaja memesan kepada pemilik lapak, supaya menyimpan koran harian, untuk diambil tiap 15 hari. Jadwal rutin saya ke kota memang setengah bulan sekali. Berbelanja kebutuhan hidup selama di pedalaman, sekaligus menyegarkan pikiran melihat keramaian. Itu berlangsung dari tahun 2003 hingga 2005

Ketika mendapat kabar, ada sebuah penyedia layanan seluler yang hendak mendirikan menara pemancar tak jauh dari kampung tempat saya tinggal, tentu seperti merasakan hujan di musim kemarau panjang. Girang, lantas menyimpan banyak rencana. Membayangkan bisa bersapa kembali dengan kawan-kawan di Jawa. Berdiskusi via telepon, seperti masa-masa ketika saya masih di jogja dan Jakarta. Kerinduan yang begitu mendesak dengan suasana itulah yang menyemangati saya, hingga gembira meluap saat mendengar berita tadi.

Singkatnya, tak lama kemudian menara didirikan. Tapi diluar ekspektasi. Jaraknya sekitar 8 km dari tempat tinggal saya. Ini terlalu jauh.Padahal, sebelumnya saya membayangkan kurang dari itu. Sinyal dari pemancar tadi tidak terdeteksi di tempat saya. Harus ada upaya-upaya bantuan untuk menanggulangi masalah yang timbulkan oleh jauhnya jarak tersebut.

Olah otak, segala cara mesti ditempuh. Dengan menggunakan antena rakitan, tertumpang pada pipa besi setinggi 18 m, akhirnya sinyal minimal bisa ditangkap ponsel jadul saya. Setelah memutar-mutar arah antena, mencari titik terbaik dan mapan. Ini pencapaian yang melegakan. Meskipun belum memuaskan. Tapi cukuplah demi menuntas hasrat berkomunikasi. Walau setelah itu, juga harus berhadapan dengan masalah baru : Kesulitan mengisi ulang pulsa – karena penjual terdekat berjarak sama dengan menara tadi – dan rela repot menghidupkan genset apabila batere ponsel habis di siang hari.

Hari-hari ini, saya teringat dengan kejadian sulit semasa itu. Saat kerinduan kepada sahabat dan keluarga di Jawa, terselamatkan berkat antena yang menjulang. Usaha-usaha mencari letak dan arah penghadapan yang ideal, demi  mendapatkan sinyal GSM membuahkan hasil yang pada fase berikutnya, sanggup mengubah banyak hal. Saya jadi aktif berkirim-terima kabar, mendapatkan informasi-informasi terbaru, yang bisa meng-upgrade pengetahuan dan jangkau pemikiran saya yang sedang terkucil.

Belajar dari peristiwa tersebut, jangan-jangan begitulah dinamika hidup itu. Setiap saat, yang dilakukan manusia adalah mencari ketepatan-ketepatan arah serta posisi terhadap semua yang dilakukakannya. Nilai-nilai kebaikan, keidealan, kesejatian dijadikan titik pusat orientasi. Seperti halnya menara pemancar jaringan seluler tadi. Menara itu menghantarkan sinyal dari sumbernya, kemudian mendistribusikan kepada pengguna ponsel. Lalu kita, manusia adalah pemasang-pemasang antena yang selalu memutar-ubah arah dan posisi untuk mendapatkan sinyal terkuat. Tujuan pokok kita, bukan kepada menara tadi, tapi terhadap sumber sinyal sebenarnya. Menara pemancar hanyalah penghantar yang membantu tercapainya keberhasilan komunikasi.

Setiap saat yang kita lakukan adalah mengolah indera dan pengetahuan, supaya presisi dengan titik sentral kebaikan. Melalui penempuhan cara demi mendekatkan jarak. Agar mendapatkan kebeningan, kelancaran dan kestabilan pancaran dari sumbernya. Itu semua direngkuh lewat perangkat-perangkat tata nilai, penokohan sebagai bahan inspirasi dan semacamnya.

Mari bermain perumpamaan. Anggaplah menara pemancar tadi adalah representator dari pemilik kesejatian tertinggi. Sebutlah benda itu sebagai simbol tata nilai kebaikan ideal. Pengejawantahan keberadaan Tuhan.  Lalu manusia yang dilengkapi dengan software berupa nurani dan hardware berbentuk indera, menggunakannya sebagai antena untuk menangkap luncuran-luncuran sinyal dari pemancar. Maka pergerakan dalam kehidupan adalah usaha-usaha mencari ketepatan-ketepatan, antara tindakan dan sumber kebaikan ideal.  Geser sana, geser sini mengatur presisi, supaya apa yang dilakukan senantiasa berujung ketentraman dan kenyamanan. Seperti pengguna ponsel, yang mengharapkan kelancaran komunikasi, ketika mendapatkan posisi yang cocok, suara bening dan jelas, sebab sinyal bagus secara kuantitas dan kualitas.

Tapi, karena konsep-konsep keidealan cenderung abstrak. Manusia perlu percontohan hingga penyosokan.  Maka muncullah ikhtiar perwujudan, disemua ajaran-ajaran kebaikan.  Orang-orang suci dan penebar nilai ideal dijadikan tonggak suri tauladan. Sama seperti halnya pemancar. Sesungguhnya,  istilah “pemancar sinyal” hanyalah sebuah konsep yang maya. Maka dibuatlah BTS, Base Transceiver Station, sebagai perwujudan fisiknya supaya terkenali. Benda yang terbuat dari sesambungan besi itu sendiri bukan sumber sinyal sejati. Itu hanya berfungsi sebagai penghantar dari sumber sebenarnya. Layaknya konsep nabi, wali, orang suci dan sejenisnya yang menjadi perantara nilai, teladan aplikatif serta penyampai informasi tentang adanya kekuasaan yang serba Maha.

Pekerjaan apapun yang dilakukan manusia, tak ubahnya seperti itu. Upaya-upaya menepatkan diri dengan keidealan nilai. Dialektika hari nurani. Orang berlomba-lomba untuk lebih luhur tiap detiknya. Mengupayakan agar makin pas secara arah dan posisi, dengan menara pemancar keidealan. Bahkan perbuatan yang dianggap buruk sekalipun, selalu dibuntuti oleh argumentasi yang mengembalikannya kepada titik nilai ideal. Misal, seorang yang habis maling pasti terbersit penyesalan, bahwa mencuri itu merugikan liyan. Yang paling paradoks, bahkan adanya peperanganpun diekori oleh alasan-alasan perjuangan kebaikan. Padahal membunuh atau menghancurkan.

Manusia adalah penelusur titik presisi. Dia belajar tentang hukum-hukum pencarian ketepatan. Seperti seorang pencari sinyal memburu pengetahuan bagaimana karakter dan hukum frekuensi yang diterima ponsel. Dalam perjalanannya, siapapun yang pernah tepat, disebutlah ia berakhlak. Jika meleset, muncul perasaan bersalah, berdosa dan semacamnya. Dinamika yang terus mengalir. Kadang pas, lalu dia bersyukur. Lain waktu juga berpotensi luput, lantas memohon ampunan.

Segala perbuatan menuntut argumentasi. Alasan atau niat menjadi landasan bagaimana sebuah maksud dipolakan. Hukum-hukum kehidupan, serupa alat untuk membantu manusia meraih tujuan ideal.  Semacam tutorial yang berisi regulasi benar dan salah. Sedang akhlak lebih kepada pencapaian maksimal, penentu kepuasan. Maka ukurannya adalah patut dan tidak patut. Sebutlah keindahan. Sebuah usaha, tak hanya dikerjakan untuk terengkuhnya hasil semata. Dia dikonsep lewat niat-niat, juga dimuati oleh semangat-semangat untuk menuju titik kepuasan dan kepantasan. Oleh karena itu, kualitas segala perbuatan tergantung niatnya, ketepatan orientasi perbuatan itu bergantung hukumnya dan keindahan proses pencapaian dipengaruhi akhlaknya. Barangkali begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s