Ngelmu

Masa kecil saya, dituntaskan di kampung. Hingga usia 12 tahun, baru mengenyam bagaimana rasanya menjadi orang kota. Meski hanya sebatas kota kecamatan. Sebagai anak desa, tentu mempunyai fantasi-fantasi, begitu enaknya tinggal di keramaian. Kampung saya memang bukan daerah yang sepi, tapi tetap saja kalah riuh dibanding lingkungan perkotaan. Berjarak 3 km dari pantai utara Jawa Tengah, tempat lalu lalang perdagangan hasil laut.

Dalam anggapan saya, menjadi orang kota adalah syarat pokok untuk menjadi pintar. Waktu itu, saya terobsesi untuk terus meningkatkan kemampuan berpikir. Saya tidak suka membaca. Hanya senang mengamati. Bertemu dengan beragam orang, lantas mendengar obrolan mereka. Nguping perbincangan, adalah salah satu kesenangan saya saat itu. Setiap ada tamu bapak  yang menggelar pembicaraan hingga larut malam, saya ndlosor di lantai, atau mengendap dibelakang tirai pembatas ruang tamu dan ruang keluarga, untuk mencuri dengar. Bisa dikatakan, ketika itu, saya pendamba keramaian. Menikmati ketika berinteraksi dengan banyak orang, apalagi bisa mendengar pengalaman-pengalaman mereka.

Dikemudian hari, saya tumbuh dalam lingkungan yang selalu gaduh. Bertahun-tahun di Jogja dan menjalin persahabatan dengan banyak teman. Kebiasaan mengamati dan nguping tetap berlanjut. Mampir ke acara-acara diskusi, ambil barisan paling belakang, lantas diam mendengarkan. Sampai-sampai, seorang teman menyebut saya hantu golongan belakang, karena tiap menghadiri forum-forum diskusi, selalu pilih dideret terakhir. Masih tidak betah berlama-lama membaca buku. Setiap kali itu dilakukan, selalu berujung pada hal yang sama, tertidur.

Karena kepadatan bersapa dan bertukar informasi apapun itu, saya merasa telah penuh dengan pengetahuan. Apalagi ketika itu, saya aktif menulis. Belum terjerumus dalam ranah visual sebagai graphic designer. Sehingga terjangkit rasa percaya diri yang berlebihan. Seakan-akan, segala pertanyaan apapun, mampu saya jawab. Istilahnya, nyaris sombong. Saya sebut “nyaris”, karena ungkapan tadi, tak pernah saya lisankan. Hanya mengendap saja di batin.

Hingga di suatu masa, keadaan memaksa saya untuk tinggal di pedalaman. Daerah transmigrasi yang masih merintis. Bekas belantara di bilangan sumatera selatan. Desa baru, yang dibuka era 70-an. Ini hantaman besar. Sebab segala yang saya sukai dan dianggap sebagai bahan bakar hidup, tak dijumpai disana. Tidak ada teman diskusi, susah mengakses informasi, apalagi buku. Saya berusaha mencari jawab, apa maksud dari semua ini? Sekian lama bermukim di Jogja yang ramai dan penuh dengan aktifitas pencarian pengetahuan, lantas anjlok ke suasana yang berkebalikan. Ketangguhan saya sebagai perantau, luluh lantak. Linglung, seperti kambing yang tak lagi diasup rambanan oleh gembalanya. Transisi yang kasar, dari keramaian berpindah ke sunyi yang akut.

Dalam kondisi yang disorientasi itu, sebuah fenomena menarik terlintas disekitar pengamatan saya. Orang-orang desa – tetangga-tetangga saya – tampak asyik hidupnya. Kesederhanaan mereka dalam membangun asumsi tentang kehidupan, menjadikan cara mereka merspon lingkungan juga tidak rumit. Selepas subuh, mereka berangkat ke kebun. Menyadap karet yang beratus-ratus batang jumlahnya. Lalu pulang sebelum matahari tegak lurus dengan kepala. Aktifitas selanjutnya adalah istirahat. Begitu sore menjelang, mereka duduk-duduk diteras rumah, atau main ke tetangga sebelah. Ada juga yang berolah raga, atau berkutat dengan pekerjaan rumah. Kira-kira rutinitasnya begitu. Jika ada yang berbeda, itu soal dinamika yang tidak terlalu meleset dari deskripsi yang saya tulis diatas.

Permasalahan mereka juga tidak banyak. Kalau dikelompokkan, tak jauh dari kisaran hutang, berselisih dengan tetangga, harta dicuri, sakit fisik hingga kena santet. Tidak tergantung kepada televisi atau koran. Sehingga mereka tidak gelisah, apabila tidak menyimak acara-acara layar kaca atau tidak membaca berita. Lagipula, kala itu, listrik belum masuk. Yang memiliki pesawat televisi hanya beberapa gelintir orang. Itupun hanya diputar malam hari dengan aliran listrik bersumber genset. Saya malah pernah beranggapan, jangan-jangan dosa bagi orang-orang kampung saya itu, cuma dua. Ngrasani liyan dan berbohong. Dengan ilustrasi yang dramatik, seakan-akan kehidupan yang dijalani itu sedemikian tenteram. Meskipun tidak memenuhi kriteria ideal, sebagaimana yang dikonvensikan sebagai konsep kesuksesan pada umumnya.

Setelah direnungkan, ternyata penerimaan siapapun terhadap pola hidupnya, sebanding dengan pengetahuan yang dimilikinya tentang kompleksitas kehidupan. Apa yang disebut sebagai tuntutan hidup, pada dasarnya bergerak searah dengan pengetahuan yang dimiliki. Makin banyak pengetahuan, makin besarlah tuntutan. Ikhtiar yang dilakukan juga kian gencar. Resiko dari usaha-usaha pencapaian itupun berkembang jadi lebih banyak. Bila seseorang mendapatkan pengetahuan baru, tak ubahnya dia tengah merintis persoalan baru. Bersiap-siap memasuki gerbang penderitaan yang baru pula.

Orang-orang di kampung saya, telah mencukupkan dirinya pada takaran pemahaman yang dibutuhkan saja. Mereka telah melakukan langkah pengaturan pengetahuan. Menyerap apa yang sesuai dengan kebutuhan, lalu menerapkannya. Maka, persoalan-persoalan yang dihadapipun jenisnya tidak terlampau banyak. Saya pikir, para tetangga saya itu sudah mampu mengidentifikasi, jenis pengetahuan apa yang komptibel dengan kehidupannya. Sehingga tak perlu serakah untuk mengudap banyak pemahaman yang justru akan menempatkan mereka pada pertanyaan-pertanyaan baru. Kalaupun mereka harus menerima hal anyar, itu sekadar adaptasi terhadap perubahan yang berlangsung. Bukan sebab tidak mau menghadapi persoalan baru, tapi kesadaran akan kapasitas diri, membuat mereka memilih untuk mengalir seirama dengan dinamika hidup. Menjauh dari ambisi menumpuk pengetahuan.

Bisa jadi, mereka tengah menerapkan prinsip, sebelum menerima apapun, orang perlu mengetahui dulu, seberapa besar cakupan dan wadah yang ia miliki. Seperti yang disebut pada filosofi Jawa, mereka sedang melakoni semboyan “Nerimo Ing Pandum”. Dalam tafsir saya, kalimat itu berarti, mengetahui kapasitas diri, paham perannya sebagai apa dan ruang lingkup pergerakannya. Layaknya pemain teater. Karakter yang dimainkan telah betul-betul dipahami, sehingga dipastikan, ketika dipanggung nanti, dia tidak akan berlaku keluar dari skenario. “Nerimo Ing Pandum”, bukanlah semangat membangun kemalasan. Tapi upaya menakar diri sendiri, sehingga apa yang disebut sebagai kebutuhan, keinginan dan harapan, tidak berlebihan. Lalu, sewaktu menjalaninya, tidak menerjang liyan.

Barangkali, itulah yang disebut sebagai ilmu. Kumpulan pengetahuan yang telah disesuaikan dengan tingkat kebutuhan, lalu diaplikasikan sebagai penjawab persoalan. Ilmu bukanlah tentang seberapa banyak varian pengetahuan yang dipunya, tapi lebih kepada seberapa besar bobot kepenguasaan dan pengendalian yang dimiliki pengampunya. Sehingga ilmu tersebut bisa jadi senjata untuk bertahan dalam dinamika dunia. Ilmu itu tentang kualitas, bukan kuantitas.

Jangan-jangan, itu kenapa Mangkunegoro IV menulis dalam Wedhatama, “Ngelmu iku kalakone kanthi laku”. Pengetahuan itu baru disebut sebagai ilmu, setelah dijalani lewat tindakan, terverifikasi melalui pengalaman.  Ada semacam anjuran implisit, bahwa dalam menuntaskan hasrat keingintahuanpun manusia tidak boleh loba. Berangsur-angsur saja, menyesuaikan dengan ranah persoalan yang sedang disandang.

Sejak saat itu saya malu. Hobi menumpuk pengetahuan, justru membuat saya limbung. Tidak kokoh dengan terjangan perubahan irama hidup. Seberapapun banyaknya pengetahuan yang tersimpan dipikiran, tetap saja akan tumpul, bila tak mampu mengemasnya dalam kantong-kantong fungsional sebagai penuntas masalah. Bukan karena “banyak” itu jelek, hanya kurang efisien. Bikin terhuyung, persis orang yang menggendong beras berkarung-karung. Pemaksaan kemampuan yang mengindikasikan ketidakpandaian manakar daya angkat dirinya. Bahkan terhadap pengetahuanpun orang mesti menahan diri untuk tidak nggragas. Mungkin begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s