Senyum

Memasuki sebuah toko waralaba, suara kompak dari pramuniaga menyambut. Seperti biasa, saya membalas salam mereka dengan senyum saja. Deret kalimat ucapan selamat datang dan pengiring saat hendak berbelanja. Pendek, terkesan hafalan. Sepertinya, mereka melakukannya sebagai bentuk kepatuhan terhadap aturan. Seakan-akan, pengharusan dari pemilik toko kepada tiap karyawannya, agar mengucapkan kata-kata demikian, ketika pembeli datang.

Beda lagi bila berkunjung ke stasiun pengisian bahan bakar umum, SPBU. Disana, terpampang jelas, bahwa senyum adalah kewajiban. Petugas pengisi, diikat dengan regulasi ketat, “Sampeyan harus senyum, jika tidak, maka seorang pelanggan yang merasa tersinggung, berhak melaporkan lewat sms atau telepon di nomor sekian-sekian” Saya tidak sanggup membayangkan simulasinya, bagaimana seorang pekerja berpotensi dipecat, hanya karena lupa senyum.

Kalau hendak ditinjau dari cara pandang yang bernuansa sinis, bisa dibilang, jaman kini keramahan tidak lagi bisa muncul tanpa dicambuk. Hanya untuk uluk tabik saja, orang mesti dibelit dengan pasal-pasal pengancam. Seperti ada degradasi unggah-ungguh yang tengah berlangsung. Mosok sih, sekadar senyum saja harus didorong-dorong melalui aturan-aturan intimidatif?

Dari sudut lainpun peristiwa-peristiwa yang sudah lazim diatas bisa dikupas. Jangan-jangan, itu karakter dasar manusia. Orang membutuhkan alasan untuk melakukan segala sesuatunya. Menuntut motif, kenapa harus bertindak ini atau itu. Dalam perjalanannya, dia akan belajar menyerap nilai, hasil interaksi antara motif, proses dan keluaran. Pemahaman bobot nilaipun bertahap. Awalnya, orang tersenyum karena tuntutan profesi. Setelah direpetisi sekian lama, itu menjadi aksi refleks saat menjalani pekerjaan. Lambat laun naik pada derajat tertinggi, berubah kepada fase kewajaran penghormatan antar manusia.

Mungkin saja, ini resiko perubahan masa. Bertambah hari, jumlah manusia di bumi kian banyak, sedang waktu untuk beramah-tamah tambah susah. Masing-masing sibuk berkutat dengan urusannya, interaksi langsung antar manusiapun hanya dilakukan seperlunya saja. Bahasa kerennya, seefesien mungkin. Suasana saling curiga merebak, karena persaingan ekonomi-politik dalam ruang sosial makin riuh dan ruwet. Pada akhirnya, dibutuhkan upaya-upaya paksa, untuk mengembalikan tindak-tanduk orang pada kodratnya sebagai makhluk berakhlak. Dibuatkan sejumlah prosedur standar, dimana senyum juga sopan-santun adalah keharusan.

Persoalannya, sudah sedemikian susahkah manusia hidup di kancah modernitas, hingga memerlukan tutorial untuk ramah dan senyum? Harus dipagari hukum-hukum yang mengancam dahulu, sebelum mengerti bahwa melempar senyum itu tidak bikin pegel linu? Ah, sudahlah. Ini tak penting. Berbincang soal senyum dan keramahan, bukan topik yang asyik dan menceriakan. Ndak bisa dimakan dan yang pasti, ndak bikin kaya! Kecuali, senyum koruptor.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s