Kreativitas

Menjelang tengah malam, seorang kenalan menelepon. Meminta saya untuk menulis makalah tentang kreativitas. Dia seorang dosen sebuah perguruan tinggi, yang krisis materi perkuliahan bidang komunikasi. Tentu ini bukan hal mudah. Disamping topiknya tidak jelas, juga karena obrolan-obrolan tentang kreatifitas, sudah liar tak tentu arah.

Pamahaman saya sederhana. Kreativitas adalah hasil kerja olah ciptaan, dibesut dengan energi kreatif, dipinjamkan Kreator untuk manusia.  Jelas sekali variabel-variabelnya. Sumber dayanya adalah Kreator, Senjatanya bernama kreatif, pelakunya dipanggil manusia, jenis kerjanya  olah ciptaan, outputnya disebut kreativitas.

Kreator adalah Tuhan. Pihak yang mempunyai wewenang penuh untuk menjadikan ada segala yang tak ada, maupun sebaliknya. Dari sifatNya sebagai Maha Pencipta, manusia dipinjami secuil persen. Turunan sifat itu diistilahkan dengan  kemampuan olah ciptaan. Maka, kalau di telusur lagi, dalam kerja kreatif, tidak ada sesuatu yang anyar. Sebab kreativitas itu hanya beruang lingkup “Olah Ciptaan”, bukan “Mencipta” sepenuhnya.

Mitos modernitas, kerap angkuh bersemboyan. Kreatif adalah menciptakan hal-hal baru. Seakan-akan, kita bisa menjadikan ada, sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Bukankah yang kemudian terjadi, manusia hanya memadu-padankan unsur-unsur alam? Menggabung-serasikan materi-materi, kedalam bentuk dan fungsi yang berkembang,  demi menyokong kehidupan?

Sebenarnya, bila semboyan itu diteruskan, dengan menjaskan “baru dalam konteks apa dulu nih?”, nuansanya akan lebih jujur. Tidak naif dan memaksakan kehendak. Saya setuju dengan istilah baru disana, tetapi  kerangkanya adalah baru secara perspektif. Bahwa aktivitas olah ciptaan yang dilakukan manusia berkisar pada, menempuh peluang-peluang yang selama ini tidak diperhatikan mainstream, supaya sebuah hal atau peristiwa bisa dilihat dari sudut pandang yang lain.

Andaikan ada sebuah pohon, ditatap oleh lima orang dari sebelah barat.  Salah seorang akan disebut sebagai insan kreatif, apabila berhasil membujuk empat orang lainnya untuk memetik kenikmatan memandang pohon tersebut, dari sebelah timur. Sebab si orang kreatif tersebut, telah merasakan keindahan ketika berada di arah tersebut. Artinya, kerja kreatif, adalah ikhtiar berbagi. Mendistribusikan keindahan kepada pihak lain.

Sebuah kursi, akan memancarkan kreativitas apabila bentuknya di reka ulang dengan fungsi yang minimal sama. Syukur-syukur, bisa bertambah. Kegiatan dalam mengolah materi, desain dan  pengembangan fungsi itulah yang disebut kerja kreatif. Usaha-usaha menaikkan kualitas dengan olah rupa dan cara. Menyedikitkan resiko keburukan, meningkatkan kebaikan. Menggunakan fasilitas secara efisien, menghindari pemborosan demi mencapai keindahan. Memodifikasi hardware, menggenjot efektifitas software menuju kompatibilitas keadaan.

Lho, bukannya apa yang disebut dengan kerja kreaif itu  sama dengan misi besar manusia? Mengolah diri dan lingkungan untuk selalu menemukan cara pandang-cara pandang yang cerdas dalam menjalani hidup? Kreatifitas adalah tanduk utama bagi tiap orang untuk survive. Sebab dengan itu kualitas ditimbang. Kreativitas merupakan lambang syukur, dimana kita menggunakan fasilitas yang diberikan Tuhan atas diri dan sekitar, demi memunculkan manfaat, memperkaya fungsi dan tidak berlebih-lebihan. Kreativitas adalah melayani, dengan cinta dan bakti. Mangkus serta sangkil.

Jangan GR ah. Gede Rumongso. Kono manusia itu ada baiknya, biso rumongso, bisa merasa. Bahwa dia tak berkuasa apa-apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s