Pesona

Benar, Tuhan ndak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum tersebut tidak mengubahnya. Maksudnya, Perubahan itu yang bikin Tuhan, Bukan Sampeyan. Untuk urusan akhlak dan cinta, sampeyan mbok ya macul-macul, diiringi yakin, gitu lho…

Jika berkesempatan untuk berkunjung ke toko pustaka, saya menikmati berdiri didepan rak saji buku-buku motivasi. Membaca judul-judulnya yang ajaib dan menggiurkan. Desain sampul yang hiperbolik, kadang narsisyik. Foto pengarangnya nampang dimuka, seakan-akan menitip pesan “Ayo, tiru saya. Ikuti, seraplah inspirasi”. Pernah suatu kali, saya sengaja membeli salah satunya. Hanya penasaran, kenapa belakangan waktu, produksi buku-buku jenis begitu, kian membanjir.  Mencari tahu pola selera, menelusur kecenderungan musim.

Setelah bosan membolak-balik halaman, saya menyusun daftar terkaan. Setidaknya, ada dua kecendrungan yang sedang menjangkit luas. Dugaan pertama , tentang kerinduan sementera orang dengan keajaiban. Sedang yang kedua, keletihan dan kerumitan, membuat banyak manusia, tak telaten lagi untuk berkelahi dengan kesulitan.

Saya percaya, tiap manusia punya sebuah hasrat menuju kesempurnaan.  Sebutlah itu,  visi “Keterpesonaan Ideal”. Unsur yang tersimpan sebagai parameter puncak untuk segala yang dituju oleh keinginan.  Nilai-nilai utama yang menjadi sasaran perjalanan semua harapan dalam kehidupan.  Baik tentang kekayaan, keberhasilan, kecantikan, ketampanan, kebaikan dan semacamnya. Apapun yang dianggap serba komplit, bermuara di sana.

Proses tempuhnya, seseorang akan membangun kriteria-kriteria tertentu, untuk mencapai  visi itu. Seorang jejaka, akan membuat tolok ukur yang berderet tentang perempuan idamannya, yang kelak direncanakan untuk dipersunting. Begitu juga sebaliknya dengan perempuan. Seorang pekerja, mendaftar  target-target profesionalitasnya, sehingga bisa merengkuh kesuksesan. Hingga anak kecil, mencicil harapan-harapannya, dalam kemasan cita-cita. Ragam kriteria itulah yang akan dijadikan pegangan orang untuk bergumul dengan dinamika dunia. Bayangan tentang kesempurnaan tersebut kemudian diangsur, diusahakan agar terwujud. Masing-masing bergerak, seakan-akan saling kejar. Fenomena itulah yang kemudian disebut sebagai kompetisi.

Dalam melancarkan hasrat menuju sempurna tadi, orang akan gampang takjub jika ada sebuah hal atau peristiwa yang stratanya melampaui asumsinya tentang keidealan. Dia akan heran. Menampakkan ekspresi itu, sebagai respon atas satu atau sejumlah fenomena yang berada diluar perkiraan. Bahasa inggris mengistilahkannya sebagai “Beyond Expectations”. Sesuatu yang lepas dari jangkauan rasio dalam sistem kognisi manusia.  Dampak dari kekagetan ini, menjadi jalan masuk munculnya ketaklukkan-ketaklukkan. Seperti terkena tonjokan yang telak. Orang bertekuk lutut di bawah kekuasaan “pesona”.

Dari celah ini banyak produk kebudayaan masuk menduduki  tempat lalu berkembang biak. Hal-hal seperti praktek perdukunan, sihir, teknik sulap, rekayasa teknologi hingga karya seni adalah beberapa contoh. Segala Sesuatu yang akrab direaksikan sebagai keajaiban. Aspek keterpesonaan juga yang mendasari manusia memilih pasangan untuk dipacari sampai yang dinikahi. Seorang laki-laki yang diterjang kuat oleh pesona wanita, akan takluk. Maka dia disebut jatuh cinta. Dia luluh hingga rela melakukan apa saja asal mendapatkan idamannya.Seorang pembeli takluk dengan pesona warna dan bentuk baju, sehingga dia menyatakan ketaklukannya itu dengan kerelaan mengeluarkan uang.  Seorang pekerja, takluk kepada regulasi kantornya yang berimbas pada besaran gaji, maka dia rela untuk diatur jam masuk dan pulangnya. Manusia takluk kepada kekuatan yang serba Maha, sehingga akhirnya menyerahkan hidupnya untuk mematuhi aturan-aturan, dengan menjalankan petunjuk atas dasar cinta.

Pendeknya, pesona adalah titik batas dari harapan-harapan manusia adalah. Keterpesonaan merupakan efek dari mentoknya sebuah harapan. Tapi tak berhenti disana, sebab setelah satu keterpesonaan teraih, orang akan membangun harapan kembali. Menyusun rencana-rencana pencapaian pesona baru.

Industri motivasi, dikemudian hari, turut berebut memanfaatkan sisi ketaklukkan manusia dengan menghadirkan fenomena pemantik pesona. Jamanpun mengijinkan. Modernitas menawarkan standar-standar seragam tentang  konsep ideal. Media berperan besar, memborbardir orang-orang dengan ukuran-ukuran ideal yang sebaiknya di kejar. Lewat jejaring informasi yang dialirkan bertubi-tubi. Televisi, radio, internet, media luar ruang mencecar seluruh indera. Batas-batas ideal yang sebenarnya berbeda antar manusia, disamakan.

Pada dasarnya, pengalaman pribadi seseoranglah yang berperan membuat kriteria atas sesuatu yang sempurna itu seperti apa. Tapi lambat laun, gerakan penyamaan berargumentasi mode, tren dan semacamnya, memangkas peran pengalaman personal itu. Seakan-akan modernitas berkata, Cantik itu harusnya putih, tinggi, rambut lurus. Jika tak memenuhi kriteria itu, maka tidak cantik. Sukses itu punya mobil sejumlah anggota keluarga, memiliki aset uang di bank sekian banyak, tinggal didaerah yang terbilang elit., dan sebagainya.

Seorang yang telah mencapai fase ideal, absah mengisahkan jatuh-bangun usahanya kepada yang lain. Memaparkan deretan tips dan seabreg nasehat. Padahal, impian kesempurnaan masing-masing orang itu berbeda. Tapi akibat dari penyeragaman yang dilakukan oleh kapitalisme, maka banyak orang yang lupa. Bahwa “idealmu bukan idealku, mimpimu bukan mimpiku. Sebab kita lahir dari ibu yang berbeda, detik yang tak sama, dan tumbuh membangun pengalaman, dalam kapasitas serta dinamika lingkungan yang lain pula”

Apa daya, sistem besar telah berjalan.  Nyaris, tak ada yang bisa lolos dari bujuk rayu jaman ini. Modernitas telah menawarkan pesonanya di etalase-etalase pasar. Standarisasi kehidupan telah digariskan lewat iklan-iklan. Kategori-kategori baru dibangun, untuk melahirkan sistem nilai anyar. Orang yang baik itu cirinya begini, yang jahat itu begitu.  Keberuntungan itu begini, kemalangan itu begitu. Maka seorang yang masuk kategori sukses, sah-sah saja melakukan kampanye, bagaimana hidup bahagia di alam terkini. Memberondong  dengan informasi-informasi yang menuai decak kagum dan ketakjuban-ketakjuban.

Lewat buku-buku, mereka memberikan tutorial, bagaimana sih jadi manusia yang hebat itu? Buku itu dijual, laba diraup sang motivator. Sementara para pembacanya tergerak membangun mimpi baru. Mengudap informasi berdalih inspirasi. Lalu tertatih-tatih meniru gaya dan daya upaya orang lain, melewatkan refleksi kedalam dirinya sendiri. Lupa, bahwa pengetahuan atas kapasitas diri, menghasilkan tujuan-tujuan yang mandiri. “kemampuan saya seberapa? Apa target-target rasional saya?”

Bisa juga karena capek. Rutinitas yang dijalani menerbitkan rasa lelah yang membalut. Tak cukup telaten lagi untuk mengadakan upacara penakaran diri. Daripada repot, mari cari buku panduan. Toh sama saja tujuannya. Siapa tahu berhasil. Letih mengurai siasat-siasat bagaimana bertahan dalam dunia yang kompetitif, lebih baik membaca buku, 10 langkah menjadi kaya. Penat terhadap kelambatan-kelambatan karir, alangkah nyamannya kalau mengikuti petunjuk, 3 bulan beternak uang.

Tidak sepenuhnya salah, apabila mendengar, membaca sampai menerapkan cara-cara yang digelar para motivator itu.  Persoalannya, dalam kondisi mengharap yang teramat, orang gampang mabuk. Dan itu menumbuhkan ketergantungan-ketergantungan yang konyol. Orang tidak bekerja jika tak dinasehati, urung membantu tetangga sebab belum mendapat kata mutiara. Apalagi bila sampai kecanduan. Mosok sih aja untuk mengerjakan kebaikan, harus menunggu bisikan dari motivator?

Pada akhirnya, musim akan menggiring orang untuk meminimalisir kepercayaan akan adanya Tuhan. Persoalan Sang Khalik hanya ada pada urusan peribadatan formal dan hal-hal yang beraroma ritus.  Tuhan yang Maha Kuasa, mulai dipretheli kekuasaannya. Tak lagi diakui turut campur dalam penentukan apakah seseorang itu besok makan atau tidak, akhir bulan gajian atau tunda, tahun depan anak akan sekolah atau jadi gelandangan. Tuhan hanya di gugat ketika ada kesulitan atau dijadikan pihak tertuntut ketika mengejar ambisi. “Tuhan, mbok saya dikasih mobil seperti tetangga sebelah tho?” begitu doanya. Tukas seorang teman, ketika saya mencontohkan jenis permintaan demikian, “Emangnye Tuhan Dealer Mobil?”

Bentangan rasio penghitung hukum sebab-akibat kita, belakangan kian menyempit. Sangat percaya, bahwa perolehan uang bulanan kita, hanya disebabkan kinerja, energi perusahaan, keberpihakan pasar. Sementara tak meletusnya gunung berapi, urungnya tsunami atau tidak matinya kita di hari itu, dilupakan. Tuhan berada di lingkar luar kehidupan. Seakan-akan manusia bisa mengatur hidupnya sendiri. Dari menjadwal kencing hingga memanajeman berapa liter keringatnya dalam sehari. Jangkau pemahaman kita, tentang mekanisme alam semesta dan hiruk pikuk kerjanya, makin ciut.

Maka, jika luang waktu, dapat mengunjungi gerai-gerai buku, saya layaknya orang gendheng yang senyam-senyum sendiri didepan lemari pajang buku-buku motivasi. Alangkah hebatnya manusia, bisa menentukan, bahwa dalam sekian langkah seseorang bisa kaya. Pada sejumlah fase, seseorang bisa mendapatkan idamannya. Sisi ketakjuban-keterpesonaan ideal manusia telah distandarkan. Cara-cara terjamin untuk melewati hidup yang sulit, dijabar pada lapak-lapak perdagangan. Akibatnya orang berkumpul, saling rebut, menggapai kemudahan-kemudahan yang ditawarkan, untuk memperoleh keajaiban. Mereka punya kesamaan harapan, kepersisan metode pencapaian dan keseragaman niatan. Ujungnya, kompetisi didefinisikan, bagaimana cara menaklukkan liyan.

Dalam batin, saya menggerutu “Kenapa sih tidak sekalian bikin tips  : cara memproduksi anak yang pasti kaya dan jenius?” Sekalian saja, manusia menggantikan posisi Tuhan yang tidak masuk lagi dalam bentang rasionalitas kita. Jadi ingat, pesan kakek-kakek dahulu. “Ojo gumunan, jangan gampang heran”. Jika memang harus takjub, jangan setengah-setengah. Takluklah kepada Dia yang mampu menjadikan segala sesuatu, sedang kita sudah pasti tidak bisa menyanginginya. Nyatanya, toh kita tidak bisa menentukan kapan detak jantung akan berhenti. Atau menemukan kembali, dimana dihari kemarin kita, yang konon telah terlewati. “Mbok ya kalau bertuhan itu yang serius, jangan ndat-ndet” Seloroh tetanggga saya, suatu kali.

Saya hanya sekadar beropini. Saya bukan ilmuwan, ulama, psikolog atau orang pintar. Tidak memiliki kapabiltas untuk menilai apa yang diyakini orang. Ini hanya iseng, pengisi masa begadang. Anggaplah saya hanya seorang yang kali ini kepleset heran, kenapa orang sekarang mudah sekali heran. Rindu keajaiban, kangen pesona-pesona artifisial. Mbulet ya?  Tak apalah. Konon, begitulah kehidupan. Jubelan teka-teki yang mesti dilalui. Bukan untuk menuntut benar-salahnya jawaban, tapi soal kerelaan, kesetiaan,  penerimaan menjalani ketentuan. Sebab kita, bukan jurinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s