Romantis

Bersinggungan kembali dengan cerita-cerita lama tentang keperwiraan, saya mendapati pola yang nyaris sama. Entah itu kisah yang bersumber dari barat atau timur. Ada paduan yang berulang. Tentang sosok ksatria yang menjalani petualangan, terlibat kisah cinta dengan lawan jenis, hiruk pikuk perseteruan dan kerinduan untuk pulang. Seakan dihubungkan dengan utasan benang merah, bahwa begitulah bentuk umum mengenai hidup sesungguhnya.

Dimasa lalu, orang-orang Roma begitu memuja semangat keprajuritan. Simbol pengabdian kepada raja pun keluarga. Lelaki mesti mengembara untuk mempertajam pengetahuan, sekaligus memperkokoh tubuh serta batinnya dengan ilmu beladiri. Di kemudian hari, dia menyerahkan kesetiaan kepada tanah kelahirannya, menjadi pembela negara. Saat lain, dia bertemu kekasih pujaan, terjerat asmara hingga membangun keluarga. Motif-motif tersebut saling lipat, menjadi energi. Posisi raja dan kekasih berada pada pokok tujuan pengabdian.

Bahasa Inggris menyebut kata kstria sebagai Knight. Berakar pada bahasa frisian, yang digunakan oleh etnis frisian yang pernah dominan di jerman. Artinya pemuda pembantu.Konteksnya merujuk pada seorang laki-laki yang setia kepada rajanya. Kata ksatria sendiri diserap dari bahasa Sansekerta, Ksatriya, artinya pejuang. Dalam beberapa penggunaannya, kata itu juga kerap diterjemahkan sebagai pendekar yang menaiki kuda merah.

Seorang ksatria adalah pihak yang harus menjunjung tinggi titah raja, juga menghormati peran wanita. Seperti yang diceritakan oleh Léon Gautier dalam La Chevalerie, kisah tentang prajurit berkuda roma yang menjaga nilai-nilai dasarnya dalam penaklukkan inggris raya. Bahan bakar semangat mereka dalam bertempur lebih banyak karena dua hal tadi. Apalagi peran kekasih, atau wanita. Sedemikian kuat, wanita mendorong keberanian seorang prajurit dalam melakukan apa saja, termasuk resiko mati sekalipun. Semua dilakukan atas alasan cinta. Ada kesan paradoks disana. Dua hal yang sebenarnya berseberangan disatukan dalam sejurus perbuatan. Cinta yang lembut, kesetiaan yang halus, lalu dinyatakan dengan kegarangan perjuangan dan peperangan.

Latar belakang inilah mendasari munculnya lema “Romantis”. Bentuk penyepadanan nuansa, bagaimana seseorang bisa melancarkan kelembutan-kelembutan dalam ulet dan keras usahanya untuk mendapatkan sesuatu. Peristiwa yang dibangun dari konsep-konsep yang sebenarnya bersebrangan. Untuk merengkuh kelembutan ideal, yang disebut cinta, perlu kegigihan bertubi-tubi. Demikian juga sebaliknya, demi menguasai sesuatu yang keras, dibutuhkan kelembutan siasat juga halusnya alasan-alasan. Halus dan kasar bertemu di satu titik. Keras dan lembut berjumpa di koordinat yang sama, cinta.

Dari pengaruh itu juga mucul istilah roman, yang di kemudian waktu di artikan sebagai novel percintaan. Para sastrawan perancislah yang mengawali penggunaannya. Pada pertengahan abad 18, mereka mencetuskan ide untuk menyebut narasi tentang anak manusia yang menelusuri jalan cintanya. Latar ceritanya, lazim diambil dari kisah nyata. Tentang seseorang yang menggapai cita cintanya, dengan melewati kejadian-kejadian yang tidak gampang dan lika-liku rintangan.

Para perwira dimasa eropa kuno, juga kerap dilambangkan sebagai figur yang menaiki kuda. Gagah berani, menenteng senjata. Hewan itu diinterpretasikan sebagai makhluk yang setia dan kuat. Tak gentar, meski diajak ke kancah laga. Hewan yang jadi kendaraan dalam melaksanakan tugas, mengejawantahkan kesetiaan. Binatang yang membawa para pejuang pulang dengan kemenangan. Bertemu kekasih dan raja tempat para ksatria menaruh kesetiaan.

Riuh cerita-cerita perjuangan ini, kemudian disebut dengan istilah epic. Kata yang berasal dari yunani, untuk menyebut serangkaian cerita tentang kepahlawanan. Dikemas dalam puisi atau prosa. Bedanya dengan roman, aroma fiksi dalam epic lebih kuat. Bangunan cerita yang sengaja disusun untuk membakar semangat berkorban secara kolektif.

Kebudayaan jawa, juga memiliki nilai-nilai romantis. Serupa dengan apa yang direkam oleh peradaban masa lalu eropa. Kehidupan diasumsikan sebagai penempuhan menggapai cinta terkomplit. Motif pengabdian tetap menjadi dorongan utama. Terdapat lima simbol yang diterakan untuk menjabar falsafah romantisme itu, dengan aroma maskulinitas yang lekat, sama seperti pada banyak peradaban dibelahan bumi lain. Kelimanya adalah : Kukila, Wanita, Curiga, Turongga, Wisma.

Pertama, Kukilo artinya ketinggian. Berasal dari bahasa sansekerta yang sepadan dengan kata puncak. Dalam tradisi Jawa, kukila didekatkan pada perlambang burung. Sebuah konsep tentang pengembaraan manusia. Seorang lelaki mesti berkelana, mengumpulkan bekal hidupnya untuk mencari kesejatian. Kedua, Wanita, simbol tentang keindahan dan kehormatan yang harus dimiliki dalam perjuangan melintasi hidup. Wanita memiliki posisi penting, bukan seperti yang sering di ungkap secara sinis oleh beberpa pihak. Hanya berkisar Sumur-Kasur-Dapur. Letaknya sebagai penyempurna, belahan jiwa. Kebudayaan jawa, merepresentasikan kehadiran wanita sebagai padatan tentang keindahan ideal. Maka hidup akan pincang, jika tanpa perannya. Tujuan yang hendak dicapai, berupa cinta sejati, keindahan hakiki, akan sangat susah tercapai. Konsep kukila dan wanita ini juga ditempelkan pada faksafah jawa yang lain, yaitu tentang “ibu bumi bapa angkasa”. Seorang perempuan digambarkan sebagai bumi, sumber segala pertumbuhan dan kesuburan. Juru rawat utama kehidupan. Sedang laki-laki adalah pengembara yang terus bekerja menurunkan hujan serta menaungi bumi.

Ketiga adalah Curiga, artinya kewaspadaan. Berkaitan dengan pengembaraannya di dunia, seorang lelaki mesti dilengkapi dengan perisai. Berupa kebaikan tingkah laku dan kewaspadaan yang senantiasa terjaga. Curiga sering diidentikkan dengan lambang senjata, seperti keris, tombak dan lain sebagainya. Upaya penyimbolan terhadap nilai kewaspadaan dalam bentuk fisik. Keempat adalah Turangga, artinya kuda. Sama seperti kisah-kisah heroik di kebudayaan lain, kuda menjadi hewan yang diambil sebagai perlambang kendaraan untuk menjalankan perjuangan. Kegagahan dan daya tahannya akan membawa seorang lelaki mencapai tujuan pokok hidupnya. Yang kelima, wisma artinya rumah tempat berpulang. Bagaimanapun, semua proses ada ujungnya. Pengembaraan, pertempuran dan ikhtiar mengarungi sulitnya kehidupan, akan berakhir pada rumah. Tempat istirahat dan menemui kekasihnya sebagai representasi keindahan ideal. Wadah ketentraman yang sebenarnya.

Pola-pola yang sama itu tertera di banyak kebudayaan. Heroisme yang berbau maskulin, hanya akan berjalan sempurna ketika dimotori oleh kelembutan yang beraroma femininin. Keseimbangan alamiah. Ksatria bukan hanya seorang yang menebas musuh di peperangan, tapi juga sosok yang takluk kepada keindahan idamannya, wanita. Bisa jadi itulah makna romantis. Segalanya berpasangan, meskipun tampak bertolak belakang. Pada akhirnya, apa yang disebut sebagai keserasian bukanlah tentang semangat untuk menyatukan unsur-unsur yang sama. Tapi memadukan perbedaan-perbedaan untuk saling melengkapi. Meski bukan usaha yang mudah untuk melakukannya. Tapi hidup memang menyediakan kesulitan. Lalu akal manusia, mengolahnya supaya lebih gampang.Konon sih begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s