Misuh

Sebuah marka di tepi jalan bertuliskan “Buanglah sampah pada tempatnya”. Selama ini, saya abai dengan peringatan semacam itu. Tidak melihat sisi istimewanya. Kalimat begitu, lazim ditemukan sebagai halauan agar orang tidak sembarangan mengotori lingkungan.

Tapi, belakangan saya terusik. Jangan-jangan prinsip seperti tulisan peringatan itulah yang dipergunakan orang jawa pada perilaku “misuh”. Saya kira, bahasa indonesia menyerapnya dengan tidak sempurna. Karena pada perkembangannya, istilah tersebut, diterjemahkan sebagai “mencaci, memaki, mengumpat”, dengan aroma konotasi negatif yang  kuat. Telusur punya telusur, kata “misuh” seinduk dengan “wisuh”, artinya mencuci. Keduanya sama-sama kata kerja.

Barangkali, yang dimaksudkan lebih jauh terhadap aktifitas “misuh” adalah, menempatkan kekesalan pada wadah yang sesuai. Marah, kecewa, gundah dan sesal, perlu diekspresikan agar tak mengganjal. Meskipun dalam pengeluaran rasa-rasa tersebut juga tidak layak berlebihan. Diungkapkan dengan kalimat-kalimat singkat namun efektif menghabiskan. Sekali semprot kontan tuntas, kemudian kembali kepada suasana berkebalikan. Misuhpun tidak patut sembarangan, harus pas dengan ruang dan waktunya, supaya tidak menimbulkan imbas-imbas ketersinggungan pihak lain.

Bila diamati, kata-kata yang lazim dipergunakan dalam misuh itu itu filosofis sekali. Misal anjing atau babi. Kedua binatang itu memiliki sifat yang istimewa. Anjing adalah binatang yang sangat setia kepada pemiliknya, sedang babi adalah hewan yang konsisten berjalan lurus dan sesuai jalur. Seorang yang misuh dengan kata anjing, bisa jadi awalnya bertujuan baik. Kekesalan dan kemarahan yang disangganya, dicuci dengan kata tersebut, untuk mengembalikan kesadarannya  akan kesetiaan terhadap nilai, Entah itu nilai kesabaran atau ketenangan. Sedang bila seorang misuh dengan kata babi, mungkin saja, awalnya dia ingin melontar segala kekecewaan, gundah dan sesalnya kepada kelurusan-kelurusan prasangka. Sehingga pikiran akan terkondisikan untuk positive thinking.

Kerap juga ditemukan misuh dengan menyebut alat kelamin. Sedang, alat kelamin adalah organ suci, yang mesti diwaspadai dari kekotoran-kekotoran. Maka disebut kemaluan. Sumber dari rasa malu, yang wajib di jaga supaya kehormatannya terlindungi. Sangka baik untuk misuh jenis ini, barangkali karena ingin menyingkirkan segala kekotoran-kekotoran, membuangnya di kakus kenistaan, supaya kembali suci martabatnya.

Tapi, segala hal akan termaknai bergantung cara pandangnya. Baik buruknya sebuah perkara dipengaruhi niat dan orientasinya. Misuhpun demikian, bisa bermotif pelampiasan yang berlebihan sehingga menciderai perasaan liyan. Atau memang punya maksud mencuci keburukan? Sama seperti pisau. Benda itu bisa dinilai baik bila digunakan untuk mengiris cabe ketika memasak, dapat pula berpotensi buruk, saat dipakai untuk membunuh manusia.  Siapa tahu, misuh yang baik adalah ketika tindakan itu ditujukan untuk membersihkan diri yang kotor? Bukan dimaksudkan untuk misuhi liyan dengan kebencian, hingga berdampak ketersinggungan. Kalau bisa sih ndak misuh, membiasakan lisan berhati-hati mengucap.

Tapi toh, hidup tak melulu lancar. Ada tikungan, berjumpa lubang. Kepleset sedikit, ekspresi apapun memungkinkan untuk keluar tiba-tiba. Dengan beragam bentuknya, termasuk lewat suara. Untuk menanggulangi potensi yang mendadak itu, ada baiknya bila mulai merintis cara misuh yang tidak berpeluang menyinggung. Misal, kala sedang kesal, kita berteriak “Gusti Allah mboten sare!” Mungkin begitu. Saya sekadar menduga-duga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s