Serius

Berberapa orang salah paham. Mereka yang mengikuti kicauan di twitter, menganggap saya adalah orang yang menegangkan. Berkicau dengan meminimalisir emoticon, menggunakan tata kalimat yang terkesan tidak santai. Tapi tidak masalah. Saya tangkap itu sebagai dampak atas bahasa tulis. Rangkaian huruf, memang punya kekuatan paksa yang lebih kuat ketimbang suara. Ditambah, susunan bahasa yang saya pakai memang dekat dengan potensi untuk dituduh sebagai orang yang terlalu serius. Akibatnya, seorang kawan dari surabaya pernah bilang “Mas, kayaknya sampeyan kurang piknik”

Sesungguhnya, awal ketertarikan saya kepada twitter justru karena keterbatasan karakternya. Saat itu tertantang untuk bisa menulis dalam ruang yang lebih ketat. Bagaimana mempergunakan lahan yang terbatas untuk menulis gagasan yang cenderung liar. Butuh kematangan siasat. Sebab, pada dasarnya, menulis adalah proses menuangkan gagasan dalam ruang yang terbatas. Memadatkan pikiran menjadi aksara-aksara dan tanda baca, mentransformasikan gejala-gejala maya ke dalam bentuk material.

Suatu kali, seseorang pernah mencibir “Ah, twitter itu, tidak cocok dengan bahasa Indonesia. Media itu dibuat dengan kaidah bahasa Inggris” Mendengar ini, jelas saya menolaknya. Bagi saya, berbahasa adalah cara menyalurkan informasi sesuai dengan ruang dan waktu. Menata kompatibilitas agar tidak timpang dalam berhubungan dengan pihak lain. Maka, biarpun twitter dibangun dengan paradigma bahasa Inggris, tetap akan bisa selaras apabila penggunanya benar-benar melakukan jurus-jurus penyesuaian. Jangan mau kalah dengan keterbatasan. Manusia diberi software berupa akal, untuk meng-akal-i. Beradaptasi pada tiap kondisi yang diasumsikan sulit.

Lambat laun, saya meletakkan twitter sebagai wahana penampung. Mencatat apa yang mendadak terlintas di benak. Daripada bikin sesak otak, lebih baik segera saya wadahkan. Semacam kotak sampah, supaya tak membuat penuh dapur, maka saya membuang plastik, kertas, puntung disana.

Bukankah, banyak yang tidak tahu, bahwa ketika ngetwit itu, saya sedang apa? Bisa Guyon, leyeh-leyeh atau tidak ada kerjaan. Bagian terakhir itulah yang tersering. Pengalih bengong. Saya ngetwit untuk buat sampah dan latihan menulis dalam keterdesakan. Anggap saja, jika ada yang mengira saya orang teramat serius, sebagai resiko atas cara berbahasa. Tidak ada niat sedikitpun untuk menggurui, saya anggap twit saya adalah catatan pribadi yang kebetulan bisa dibaca khalayak. Seperti tendangan bebas dalam sepakbola, yang saya mainkan dilapangan terbuka, sendirian. Bisa kena siapa saja, tapi sejatinya saya hanya mengolah kaki bermain bola.

Meskipun, hidup memang perlu keseriusan, untuk menyelesaikan tiap persoalan. Karena serius, dalam bahasa aslinya – serious – artinya bersungguh-sungguh. Mengungkapkan kesungguhan dalam berpikir serta bertindak untuk mencapai tujuan. Tapi ya jangan tegang-tegang amat lah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s