Konsentrasi

Tiba-tiba saya kangen dengan delman. Kereta yang ditarik dengan kuda, dihela kusir dengan memegang tali kekang. Sewaktu kecil, saya sering menumpang kendaraan itu. Ikut ibu ke pasar, sembari mengamati, kenapa kuda penarik dokar itu perlu dipasangi kacamata?

Suatu kali, saya memberanikan diri bertanya kepada pak kusir. Jawabannya panjang dan rumit bagi ukuran anak kecil. “Jika tanpa kacamata, dia akan liar sebab bisa melihat apa saja. Jalannya bisa tak teratur karena terpancing menginginkan apapun. Mau ini dan itu, lantas mengejarnya. Termasuk ketakutan jika tahu ada cambuk yang kerap melecutnya”. Saya hanya mengangguk, kala itu. Seakan-akan mengerti. Padahal bingung dengan keterangan sepanjang itu.

Bertahun-tahun kemudian, saat teringat dialog itu, terlintas terkaan. Jangan-jangan memang begitu, hewan juga manusia perlu dibatasi pandangannya supaya terkendali hasratnya. Dalam bahasa manusia, barangkali inilah yang disebut konsentrasi. Bentang perhatian yang dikenakan pada sebuah keadaan, lewat kinerja sistem indera. Pandangan perlu dibatasi, agar pikiran bisa menangkap lalu mengolah pesan visual dengan teratur. Begitu juga pendengaran, penciuman dan perasaan. Luas bentang perhatian masing-masing orang berbeda. Bergantung seberapa cepat processor dirinya dalam mengolah tiap lontaran pesan yang bersinggungan dengan indera.

Masing-masing orang, mempunyai jangkau maksimal dan minimal pada fungsi inderanya, Mata punya titik terjauh penglihatan, dimana setelah titik itu kejelasan visual tidak dapat diraih lagi. Bila terlalu dekat pun akan menimbulkan dampak yang sama. Buram atau bahkan tak terlihat sama sekali. Demikian pula dengan telinga, hidung dan indera perasa. Meski begitu, untuk bisa optimal bekerja, manusia perlu menyempitkan lagi jangkauan kerja inderanya. Supaya pikiran sebagai pengolah informasi, tidak bingung dan brangasan. Konsentrasi merupakan cara yang ditempuh. Membawa apa-apa yang terlintas dibenak, sebagai hasil serapan indera, pada ruangan khusus untuk ditelaah. Itupun masih belum cukup. Jika seseorang akan meraih keadaan yang lebih detil, maka ruangan konsentrasi tadi, perlu disempitkan lagi. Membuang apa yang tidak perlu dan membiarkan apa yang dibutuhkan. Itulah yang disebut sebagai fokus.

Ibaratnya, seorang pengendara moda yang sedang melintas di sebuah jalan. Mata pengendara akan mempunyai bentangan maksimal, sesuai dengan daya penglihatannya. Baik menyamping, atas, bawah atau kedepan. Seluruh informasi yang menyentuh indera akan dimasukkan dalam sistem ingatan. Baliho yang berdiri menjulang, orang menyeberang, kucing di dekat tong sampah dan aneka pemandangan lain, saling berjubel merasuk memori.

Sebab harus ada pemilahan mana informasi yang dibutuhkan dan yang tidak, agar kerja pikiran tidak semrawut, maka ia akan menyempitkan kejelasan pandangan itu. Dia mesti meruangkan rimbunan informasi hanya pada yang diperhatikan saja. Ruang itu disebut konsentrasi. Maka hal-hal diluar itu, akan diabaikan. Supaya tidak nggrambyang dibangunlah titik yang dijadikan acuan, demi menjaga kehati-hatian saat berkendara. Titik Itulah yang disebut fokus.

Konsentrasi, berasal dari bahasa Ingris yang telah diserap dalam bahasa Indonesia, concentration. Artinya, menengahkan. Membawa segala sesuatu yang tercecer, pada posisi tengah agar mudah ditelaah. Dibangun dari dua istilah latin yaitu, com dan centrum. Com berarti bersama, sedang centrum adalah tengah. Fokus, berasal dari bahasa Latin, focus, artinya perapian. Tempat dimana sumber kehangatan yang disebarkan oleh api berada. Seiring berlalunya waktu, seorang filsuf inggris bernama Thomas Hobbes, memasukkan kata focus secara resmi pada tengah abad 17, kedalam kosa bahasa Inggris dengan arti baru : pusat kegiatan atau energi.

Konsentrasi dan fokus adalah dua hal yang kerap dilakukan manusia dengan melakukan pembatasan-pembatasan kerja indera untuk memperoleh inti persoalan. Cara agar hasrat yang liar bisa dikendalikan demi menuntaskan masalah. Konsentrasi merupakan kerja menyempitkan luasan pandang, menyingkap keriuhan jangkauan dengar dan menciutkan daya penciuman. Makin besar konsentrasi, berarti kian runcinglah kerja indera.

Teramat ngeri dibayangkan, apabila manusia tidak memiliki keduanya. Segala informasi akan berdesakkan di pikiran, lantas orang akan kacau mengenali masing-masingnya. Kebingungan yang akut melanda, akibat tak mampu mengidentifikasi lalu-lintas data. Bahkan bisa jadi mampu melemahkan daya pikir sampai ketingkat paling bawah. Barangkali apa yang disebut sebagai frustasi dan keluhan tekanan mental berasal dari kondisi itu. Menipisnya kemampuan konsentrasi, pudarnya titik fokus.

Mendadak saya kangen dengan pak kusir tempat saya bertanya, kenapa kuda berkacamata. Jawaban dia, mungkin ada benarnya. Hewan itu juga perlu dipaksa untuk konsentrasi. Menengahkan pandangannya, agar patuh dengan batas-batas jalan. Hingga penumpang berikut pengendali delman, tidak terjun ke jurang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s