Alarm

Keluar dari bandara yang riuh, badan saya limbung menahan lelah. Berjalan menuju halte kendaraan umum untuk segera mencari moda lanjutan, yang membawa saya pulang. Jakarta sedang menggeliat. Pagi baru saja dipecah oleh hilir mudik aktivitas orang-orang. Kota ini tengah memulai kesibukannya.

Perjalanan antar kota antar propinsi menyisakan capek. Empat hari yang lalu saya memulai acara bepergian dari ibu kota menuju ke Semarang, lalu di lanjut ke Jogja. Bisa jadi tubuh mempunyai regulasi, yang mengatur penggunaannya. Semacam batas-batas pemakaian. Saat pergerakannya menyentuh titik puncak kewajaran, maka tubuh akan mengingatkan berupa datangnya rasa letih. Seperti ada alarm otomatis, yang terpasang pada masing-masing manusia berikut parameter-parameternya.

Bila membutuhkan asupan makanan, perut akan segera memberi sinyal kepada otak untuk berpikir mengenai sarapan. Rasa laparpun dijelang. Demikian juga ketika sedang makan, alarm akan kembali bunyi sebagai pengingat akan tercapainya rasa kenyang. Proses mengudappun dihentikan. Jika pembatasan otomatis dalam tubuh dilawan, yang terjadi adalah ketidaknyamanan. Bahkan, mungkin kerusakan sistem yang berdampak buruk. Orang yang terlalu banyak makan, dengan mengabaikan alarm kenyang, akan mules, berkemungkinan muntah.

Bisa jadi, itulah yang disebut hukum alam. Bahwa segala sesuatu dibatasi disertai tanda-tanda pengingat. Berjalan lewat mekanisme yang menekankan semua perbuatan mesti berada dalam kaidah kecukupan. Segala yang berlebihan itu akan bikin kelimpungan. Seluruh hal yang dipaksakan melahirkan ketidaknyamanan juga gesekan yang melukai. Untuk menjaga tubuh dan perasaan itu agar tidak hancur, akibat perlawanan-perlawanan terhadap hukum alam, maka disediakanlah alarm pengingat.

Meskipun, kaidah kecukupan itu berlaku personal. Satu sama lain orang berbeda. Pengetahuan akan kaidah kecukupan ini, yang dikenal oleh orang banyak sebagai “pengenalan dan pengendalian diri”. Orang jawa biasa menyebutnya “Nerimo Ing Pandum”. Memahami peran dan fungsi kemanusiaannya, berikut kapasitas-kapasitas yang menyertai. Supaya kehidupan yang dijalani tidak timpang, senantiasa selaras,

Sayangnya, keinginan manusia tidak gampang dikendarai begitu saja. Kaidah kecukupan bukan persoalan sederhana. Dia rumit, butuh perjuangan besar untuk menaklukkan keinginan. Sementara, setiap upaya peraihan keinginan, selalu saja dikerubungi oleh ancaman lupa. Sehingga semangat untuk berlaku berlebih-lebihan tak terbendung. Tapi, jangan-jangan, begitulah hidup itu. Konon, kehidupan itu perkelahian untuk menundukkan lupa. Menjaga kewaspadaan, berperang dari satu keadaan, menuju keadaan lain untuk meraih keadaan ideal. Senantiasa bergulat dan hijrah antar kondisi.

Seperti tubuh saya yang sedemikian capek selepas melancong ke beberapa tempat jauh. Barangkali, tubuh saya telah mengingatkan sebelumnya. Bahwa ada takaran aktivitas yang terlampaui batas kecukupannya. Tapi saya abai, lantas melanggar. Resikonya, saya terkulai lemah didalam kendaraan umum. Berjuang meredam lelah, membawa kondisi badan berhijrah menuju tidur. Agar bisa pulih lagi, seimbang kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s