Orientasi

Beberapa hari di Jogja, saya menikmati bangun pagi. Sudah lama sekali, nyaris lupa rasanya kesegaran di awal hari. Sejak bekerja sebagai reporter hingga graphic designer, saya akrab dengan begadang. Kalaupun bertemu pagi, semangat sudah menipis. Tak lagi punya kesempatan penuh untuk berasyik masyuk dengan hangat sinar matahari pagi.

Jarum arloji hampir menunjuk arah angka lima. Saya iseng jalan-jalan sendirian menyusur jalan Timoho. Langit mulai tersepuh warna kemerahan. Fajar menyingsing, indah sekali. Tidak berlebihan jika saya terkesima. Gumpalan awan yang menyebar acak itu, memantul bias cahaya matahari. Seperti percik cat yang dimuncratkan rambang pada kanvas putih kebiruan. Pemandangan yang mencengangkan.

Saya menerka, jangan-jangan, orang-orang jaman dahulu, mengalami degub perasaan yang sama seperti saya, ketika menyaksikan adegan fajar. Takjub dengan polah alam, ketika membuka hari. Mata tertuju pada arah matahari terbit, lantas mengeyam keanggunan bola surya yang merambah naik lewat cakrawala. Untuk mengenangnya, kemudian mereka membuat istilah khusus untuk menyebut mata angin, tempat fenomena itu berlangsung. Kita, orang di kawasan nusantara, akrab dengan kata “Timur” artinya belia. Kemudian juga Wetan, yang berasal dari kata Kawitan, artinya awal mula.

Bisa jadi, itu semua adalah interpretasi leluhur akan merekahnya pagi. Hari dimulai dari arah timur, lahir untuk membesar sebagai siang dan mengiring orang-orang berpencar berbudidaya.

Demikian pula dengan bahasa inggris. Mereka menyebut arah matahari terbit dengan kata “east” yang diserap dari bahasa sanskrit “ushas”. Artinya cahaya atau fajar. Pada perkembangannya, kata itu dilafal di berbagai kebudayaan. Orang jerman kuno menyebut “Austo, austra” artinya “menghadap matahari terbit”, untuk menyimbolkan arah timur. Dari pengujaran itulah, di kemudian hari sebuah benua baru yang letaknya berdeketan dengan matahari terbit – dilihat dari eropa – disebut Australia.

Lidah latin, menamakan arah timur dengan kata “orientem”. Kemudian bahasa perancis dan inggris meminjamnya dengan perubahan menjadi “Orient”. Artinya senada, arah matahari terbit. Selaju waktu, kata terebut tumbuh menjadi “orientation” yang diserap dalam bahasa Indonesia sebagai Orientasi, artinya maksud atau tujuan.

Barangkali, alam memang petunjuk yang tak lekang jaman. Istilah orientasi, menjadi pertanda atas itu. Bahwa setiap tujuan yang dicetuskan manusia akan selaras dengan sifat alam. Ketika orang menggunakan kata “orientasi”, sesungguhnya dia sedang bergerak kearah harapan. Melangkah menuju timur, menyapa terbit cahaya.

Seperti pagi itu, saya menguyah fajar yang indah, Di jogja, kampung halaman kedua. Meski pernah puluhan tahun hidup disana, terus terang, baru kali itu saya betul-betul menikmati pagi harinya. Tidur yang cukup, rupanya menjadi bekal memadai untuk bisa menangkap pesona alam tersebut. Mendadak desis batin saya bertanya “Apa orientasimu hari ini?”. Jawab Saya “Kesana, menuju cahaya. Tempat harapan tergantung menunggu diraih”. Wuiih…muluk sekali!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s