Mudik

Tak usah meragukan lagi daya tahan rakyat Indonesia dalam menerobos kesulitan. Suasana menjelang lebaran, adalah salah satu gambaran mengenai itu. Betapa kuatnya mereka. Bergumul dengan antrian kemacetan jalanan jalur utama antar kota besar, menunggu berjam-jam pada kehingaran stasiun kereta juga terminal bus lintas daerah. Ada semacam energi potensial yang sontak keluar membesar, begitu menapaki kesempatan untuk pulang kampung.

Barangkali, ini adalah semangat yang turun menurun, terwarisi dari nenek moyang bangsa ini. Rantau dan mudik, merupakan dua kosakata yang ejawantahnya telah akrab berabad-abad. Manusia-manusia yang telah lekat dengan mental melancong untuk bertahan hidup. Mengais nafkah, bertebaran menjajal kesempatan.

Bila ditelaah, kedua kata tadi – rantau dan mudik – adalah istilah yang dekat dengan “masyarakat petualang air”. Saya menyebutnya demikian, karena rantau juga mudik, sama-sama bicara mengenai lingkup wahana jelajah air, yaitu pantai dan sungai. Rantau berarti tempat berpusarnya air, yang mengalir dari hulu.  Bisa juga sepadankan dengan pantai kawasan teluk. Sedang mudik adalah kata kerja, dengan kata dasarnya “udik” yang berarti pedalaman tempat hulu sungai berada. Mudik artinya berlayar menuju hulu. Melawan arus kali untuk menggapai pangkal aliran.

Sudah berlangsung lama, pantai atau pesisir laut di nusantara, menjadi simbol keramaian. Tempat bertemunya orang-orang dari berbagai macam ras, untuk saling bersapa, demi motif-motif yang beragam pula. Dari soal perdagangan hingga pergaulan sosial dan interaksi kebudayaan.

Dari tempat-tempat yang jauh orang-orang melancong menuju pasar yang letaknya berdekatan laut, untuk menjual hasil bumi, atau bermukim disana demi pengaisan nafkah. Anak-anak muda berjalan menuju pesisir, guna mencari pekerjaan. Karena ditempat tersebutlah, pusaran potensi ekonomi yang riaknya lebih besar berada. Atau demi menuntut ilmu di lembaga-lembaga pendidikan yang lazimnya juga ditemukan di area riuh itu juga. Daerah pesisir, tak ubahnya, menjadi titik pertemuan manusia dengan berbagai macam kepentingannya.

Lalu-lalang orang-orang tersebut, jika diumpamakan, seperti sedang menelusuri aliran sungai. Dari hulunya di tanah yang lebih tinggi dari laut, menuju hilir. Dari daerah-daerah yang sunyi, menuju tempat-tempat yang gaduh. Perjalanan menjumpai rantau itu menjadi kiasan, atas upaya-upaya manusia mencukupi hasrat bertahan hidupnya. Hingga pada satu saat tertentu, jika momentumnya dirasa tepat, mereka mesti kembali ke tempat asalnya.  Membawa hasil yang telah diperoleh dari pergumulannya di rantau, untuk dipersembahkan kepada keluarga atau lingkungan kampung halamannya. Perjalanan kembali ini disebut mudik, menuju udik. Lawatan melawan arus sungai, menyongsong hulu, tempat dulu mereka berangkat.

Rantau dan mudik adalah tradisi kemanusian. Hasil dari perkawinan serasi peradaban maritim dan agraris. Simpul pertemuan antara masyarakat pertanian yang membutuhkan lemparan distribusi dengan masyarakat pesisir pantai yang menyediakan tempat persinggahan transaksi segala rupa. Rantau juga simbol dari spiritualitas manusia yang senantiasa menginginkan perubahan atas kualitas hidupnya. Mendatangi kawasan-kawasan untuk bergaul, bertegur sapa hingga penempaan daya juangnya. Lalu mudik, menjadi titik balik atas itu semua. Setelah melanglang, orang-orang butuh pulang untuk membawa hasil capaiannya. Bertemu dengan keluarga, sanak dan sahabat, adalah obat penuntas capek, setelah sekian lama pergi.

Seperti yang terjadi hampir tiap tahun di Indonesia. Peristiwa mudik merupakan kejadian yang tidak terelakkan. Momentum lebaran dijadikan tonggak penempuhan. Meskipun, makin lama, peristiwa mudik ini kian berat dilakoni. Jalan-jalan makin sesak, orang-orang yang melakukan perjalan kian banyak. Dan Negarapun terlihat tak pernah kunjung siap saat kejadian itu berlangsung.

Bisa jadi, sudah menjadi kesadaran lazim, bahwa mudik itu tidak mudah. Tapi potensi semangat dalam tubuh manusia indonesia untuk selalu ingat akan pulang – dengan berbagai maknanya – seakan menjadi senjata tanpa tanding untuk melawan kesulitan itu. Menentang arus sungai untuk menggapai hulu memang tidak ringan. Tapi toh, seberapapun parahnya keadaan, itu tetap tak mematahkan semangat orang-orang yang ingin menjelangi kampung halamannya. Membawa hasil dari tanah rantau, untuk merayakannya di tanah kelahiran. Mengusung cerita-cerita tentang keramaian, lalu mengendapkannya pada kesunyian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s