Prestasi

Hingga kini, saya belum paham benar apa yang dimaksud dengan prestasi. Ketidakmengertian itu disebabkan kegagalan saya mencari temali etimologi dari kata tersebut. Barangkali yang dimaksudkan adalah pencapaian kepuasan per tahap pada jengkal proses pengusahaan sesuatu. Satu-satunya kata yang bisa menjadi pijakan untuk mengerti maksud dari istilah prestasi itu adalah prestigious. Sebuah kata sifat yang diambil dari bahasa latin, praestringere, artinya buta, menutup mata, mempesona, sulap. Kata bendanya ialah prestige. Masih sama, berakar pada bahasa latin, yang artinya “penipuan, ilusi”. Pada perkembangannya, prestigious diserap pula dalam bahasa kita dengan ejaan yang disesuaikan, prestisius, yang kurang lebih artinya : bergengsi.

Bisa jadi, uluran-uluran kata tadi, bersambung satu sama lain. Apabila prestasi adalah salinan dari praestringere, maka tarikan arti yang bisa diambil adalah upaya peraihan pesona, dengan cara membangun ilusi-ilusi. Dari sudut pandang makna positif, ikhtiar mencapai pesona tadi, dirintis lewat pengadaan cita-cita. Dari kacamata yang lain, usaha-usaha perengkuhan pesona dan gengsi tersebut, ditempuh melalui cara membabi buta.

Namun, jika prestasi dan praestringere, tidak memiliki rangkai persaudaraan, saya tidak mengerti lagi apa maksud istilah tersebut.

Saya terpancing menulis tentang kisaran kata prestasi ini, setalah melihat banyak spanduk di beberapa ruas jalan, yang memuat kata itu. Dari kalimat-kalimat kampanye calon-calon legislator hingga pariwara dagang. Agaknya, istilah prestasi ini merupakan dambaan. Berada di puncak menara, tempat orang-orang berusaha menggapainya.

Sejatinya, manusia memang memiliki hasrat untuk senantiasa mempesona manusia lainnya. Dengan berbagai cara serta niatan. Suasana serba gemilang, hasil yang kemilau menjadi kejaran pada usaha-usahanya mengarungi kehidupan. Rencana-rencana disusun, orang diprogram untuk berlabuh pada sesuatu yang ia impikan. Walau, banyak yang sadar, bahwa keputusan akan hasil yang persis, tidak bisa diterka secara pasti.

Pengetahuan-pengetahuan yang dikandung dalam diri manusia mempunyai jangkauan maksimal, hanya sampai pada taraf mengenal kecenderungan, mengendus gejala. Selebihnya adalah kemisteriusan. Untuk menanggulangi peluang putus asa yang akut, akibat keremangan situasi kedepan, maka sistem software dalam diri manusia, menyediakan fasilitas agar terjauh dari kondisi fatal itu. Muncullah kerinduan akan terbitnya keajaiban, sebagai sarana menghibur diri sendiri, memotivasi dinamikanya. Ilusi-ilusi menyeruak, lantas menusia mesti bisa mengenali masing-masingnya, agar usaha pencapaian hasil hidupnya, tak terperosok pada jalan yang tidak beruntung.

Bila kata prestasi merupakan anak turun dari kata “praestringere”, sebaiknya orang berhati-hati. Sebab prestasi dikelilingi oleh pagar-pagar tipuan, ilusi-ilusi yang berpeluang menjauhkannya dari arah kebaikan. Mesti jitu memainkan trik, untuk tidak tertipu atau jatuh menjadi penipu. Sebab jika istilah prestasi adalah serapan dari “praestringere”, itu menjadi pertanda, bahwa manusia memang sedang bersimulasi dengan apapun yang disekitarnya. Berperan pada panggung teka-teki, bermodalkan yakin dan tahu. Sebab yang memegang keputusan akan kepastian hakiki, tentunya bukan manusia itu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s