Demokrasi

Bisa jadi, bangsa ini tengah terlanda wabah latah. Peristiwa-peristiwa direspon dengan terburu-buru, pun digelindingkan dalam sorak-sorai. Apresiasi ditebar murah, beriring pula dengan caci-maki. Mudah kagum terhadap perilaku seseorang, gampang heran dengan tindakan orang lainnya.

Boleh jadi juga, bangsa ini memang benar-benar berada dalam situasi kritis. Seperti seorang yang hendak jatuh ke jurang nan dalam. Dia berjuang keras menguasai keadaan. Dengan tangan dan tubuh yang merengkuh tebing, mencengkeram erat supaya tidak tergelincir terjun. Apapun dijadikan tumpuan. Bahkan, rumput yang lemahpun digenggam erat. Maka siapapun yang mendekat ditanggapi dengan tegang. Bila menolong, kontan dipuja habis-habisan. Jika abai lantas dibenci setengah mati. Tanggapan dilontar, tanpa harus mempedulikan motif-motif apa yang mendasari tindakan orang tersebut.

Kehidupan dibuat biner, pilihan-pilihan menciut. Hanya ada dua macam apresiasi : bagus-jelek, baik-buruk, puji-caci, suka-benci, dan serupanya. Layaknya spektrum warna yang dipangkas, hanya menjadi hitam dan putih saja. Akibatnya, perspektif orang dalam meneropong sejumlah perkarapun, tidak lagi bervariasi. Kekayaan sudut pandang mulai bangkrut. Cara berpikir menjadi sempit, tidak bergairah untuk merunut keberagaman metode telaah. Orang dipaksa untuk memakai cara pandang tertentu dalam menilai sesuatu, sebab kacamata yang lain salah, tidak ilmiah, sesat referensi dan lain semacamnya.

Saya kerap menyebut fenomena ini sebagai, penyakit “pokoknya”. Persoalan sosial dan hiruk-pikuk kemanusaian dibuat final jawabannya. Dilarang ada interpretasi baru. Pertanyaan-pertanyaan ditukas dengan jawaban yang terdesak, lewat tamparan “Pokoknya!”. Pokoknya kalau tidak  begini salah, bila tidak begitu keliru. Pokoknya presidennya ini, gubernurnya itu, camatnya anu, jika dilanggar, akan celaka. Nalar dikerdilkan, suasana batin dipelet dengan macam-macam pencitraan artifisial.

Demokrasi yang konon dijadikan acuan untuk hidup bersama pun jadi ompong, karena kepicikan melanda. Demokrasi yang disanjung, digadang-gadang itu, juga tak kunjung mampu dijadikan senjata untuk merintis keharmonisan. Orang mudah tersinggung karena keberpihakan yang berbeda, lalu membuat pawai gerakan serba “anti ini atau pro itu” berbaris-baris. Fatalnya, demokrasi itupun susah dikritik. Apalagi dipertanyakan, akan memancing naik pitam. Misal dengan pertanyaan “Demokrasi seperti apa yang dianut Indonesia? sehingga dia dijunjung, tapi pada saat beriringan, juga ditelantarkan?”. “Katanya demokrasi itu bagus, tapi kok malah tambah runyam dengan masalah ya?” Bila itu pertanyaan bodoan itu dilontar, pada fase berikutnya, biasanya akan bertemu dengan pernyataan begini “Sudahlah, jangan mencerca demokrasi. Sebab sampeyan toh tidak punya wacana alternatif lain, sebagai penggantinya, kan?”.

Barangkali, demokrasi di negeri ini adalah demokrasi baliho dan spanduk. Dimana masyarakat diajak untuk menikmati seseorang yang entah siapa, berpose disana dikitari kalimat-kalimat normatif. Mereka yang mengaku sebagai pejuang dan pengabdi yang tanpa pamrih, tapi malah mengiklankan dan menawar-nawarkan diri. Berusaha mengoleksi decak kagum orang banyak, merindukan puja-puji. Jikapun dikemudian hari ada aib dan cela yang terpapar, toh rakyat negeri ini akan mudah melupakannya. Karena luasnya hati, sehingga pemaaf. Hari ini dibenci, besok lusa bisa disanjung tinggi lagi, bisa dipilih menjadi pejabat lagi. Asal terlihat sedikit menolong, jadi perampokpun akan mulia di negeri ini. Indahnya demokrasi.

Demokrasi memang bukan Tuhan yang selalu benar serta suci. Mesti ada ikhtiar yang sinambung untuk terus memperbaikinya. Tapi sayangnya, Tuhan juga tidak diperhitungkan dalam demokrasi. Tidak didaftar karsanya ketika pemilu. Disimpan dilaci rumah atau pada relung sunyi tempat-tempat ibadah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s