Label

Mereka yang menganggap diri sebagai kelas menengah itu, tak lain hanyalah segolongan manusia yang merasa dirinya mampu menyelesaikan banyak perkara. Namun, keropos dan rapuh. Tergantung pada suplemen-suplemen motivasi, jika ingin berbuat baik. Meneriakkan kata revolusi, tapi enggan untuk beranjak dari tempat duduknya yang nyaman. Disatu hari yang genting, membuat isu gerakan “save ini dan pray for itu” yang hanya ramai diranah digital. Sembari mengunyah makanan impor yang harganya setara seminggu gaji pembantu rumah tangganya, lantas lincah bicara kemiskinan. Pintar berdalil, lugas bicara agama, namun memejam mata jika tetangganya lapar.

Masa ini, layak disebut sebagai era selebrasi kemasan. Di banyak tempat juluk-juluk, sematan-sematan, gelar-gelar diagungkan. Dijadikan busana kebesaran untuk mengenalkan diri agar dianggap ada dan layak. Orang membuat tanda-tanda pada dirinya, supaya bisa berbeda dengan orang lain. Membangun kardus-kardus pengelompokkan, supaya kemilau eksklusifitasnya, bisa terpancar kepada pihak lain. Kemudian berujar “Ini lho kami, yang lebih baik dari kalian”. Termasuk dengan bangga, mengenakan label “kelas menengah” tadi.

Media adalah panggung terbuka, tempat selebritas modern menari unjuk diri. Identitas-identitas artifisial didengung-dengungkan. Ada yang mengaku intelektual tapi ternyata cuma pengumpul catatan kaki, ada yang menyebut dirinya ustadz dan kyai namun ternyata hanya pedagang yang memasang tarif untuk tiap pemanggilan oleh umat. Terdapat pula, orang yang melabeli diri sebagai motivator, tapi ternyata cuma saudagar nasehat yang memperjualbelikan petuah.

Mungkin, ini jaman tipu-tipu. Identitas serupa topeng yang jumlahnya bisa banyak, dipakai sesuai keperluan. Seseorang bisa mengatakan dengan tegas dan keras, bahwa dirinya baik, pintar dan berakhlak, lalu pada saat yang lain bisa buas dan berhasrat menghancurkan. Lihatlah jalanan ibukota, betapa kendaraan yang berjejal itu saling salip dan terjang, tidak mempedulikan keselamatan pihak lain. Yang penting saya sampai, yang utama saya selamat. Sedang yang lain? Itu urusan masing-masing. Lalu dirumah, dikantor dan diorganisasinya mereka luwes ngobrol tentang akhlak yang luhur.

Barangkali, ini abad paradoks akrobatik. Dimana orang bisa melakukan dua hal yang bertentangan, dengan kesadaran penuh, tanpa perlu merasa bersalah. Mengemis dan meminta tak bisa dibedakan lagi. Menuntut dan merampok nyaris sama pelaksanaannya. Tapi tak perlu risau, sebab beginilah adanya. Kita berada dalam wadah yang sama. Saya pikir, justru inilah waktu, ketika ketangguhan mendapatkan wilayahnya. Tempat menguji, apakah seseorang mampu konsisten menjadi orang baik, ditengah dunia yang sedang sibuk mengurus perlombaan keserakahan. Meski susah sungguh. Sebab menjadi orang baik itu tidak enak, tidak bisa ikut pesta pora kerakusan dan saling sikut. Dan menjadi orang baik di jaman serba gelar ini, harus berani lepas label-label. Berani untuk dituduh, sebagai orang yang tidak baik, asing dan tidak mengikuti kehendak jaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s