Mimpi

Pada riuhnya dinamika, manusia menyerap segala informasi lewat inderanya. Baik itu yang terperhatikan maupun yang tidak. Informasi tadi, mengalir masuk kedalam bilik-bilik pikiran. Membentuk gugus-gugus kategori. Jika orang melihat mobil, misalnya, maka mekanisme ingatan akan segera meletakkannya pada “kategori kendaraan”, di ruang-ruang otak. Kinerja yang seperti ini bekerja sinambung, terus-menerus. Apabila ada hal baru yang dialami manusia, otak akan segera sibuk mencari kategori yang cocok untuk memasukkan informasi tersebut.

Manusia adalah makhluk visual. Segala yang dimengerti, senantiasa didasari oleh konsep-konsep imaji. Serba gambar. Mendengar apa, merasa apa, dengan segera benak akan melukis sesuatu yang berdekatan tafsir dengan pengalaman itu. Informasi yang masuk ke pikiran, segera dikonversi dalam simbol-simbol visual. Begitu juga dengan fenomena mimpi. Peristiwa tersebut adalah cara, bagaimana otak menerjemahkan informasi yang tidak terkategori dalam otak. Informasi yang melayang-layang tak punya tempat. Mereka asing, dan butuh diakui. Sifat dasar Informasi itu, menuntut manusia untuk menerjemahkannya. Maka, mereka masuk lewat sistem bawah sadar, lalu terkonversi dalam bentuk visual. Hanya supaya manusia bisa menangkapnya. Sebab tanpa upaya itu, informasi yang asing tetaplah asing, dan manusia akan kebingungan dengan sesaknya pikiran oleh keasingan tadi. Jadi, mimpi juga penting. Bukan hanya bunga tidur yang kerap diabaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s