Kritik

Sebut saja, perbincangan tentang sengkarut bahasa vicky, sebagai kegemparan selebritas. Itu Bukan hal baru, sebelumnya pernah terjadi peristiwa serupa. Awal tahun 2000, pernah ramai silang pendapat tentang “bahasa banci”. Menyusul sesudahnya, “bahasa alay”. Saya menamai rentetan fenomena berbahasa itu dengan istilah “kegemparan maling teriak maling”. Bahwa sekelompok orang yang meralat perilaku berbahasa liyan pun belum tentu berbahasa lebih baik dari yang dikoreksinya. Bentuk lontaran pertama kali adalah satir-satir yang dimaksudkan sebagai kritik. Dengan cara mengulang-ulang kekeliruan maupun kekonyolan bicara para pesohor itu secara rutin dan massal.

Disadari atau tidak, Lambat laun, sindiran-sindirian tadi akan berubah menjadi kewajaran baru. Kekonyolan berbahasa para pesohor yang terbeber media tersebut, akan menjelma sebagai kelaziman anyar. Sebab ternyata, segala yang disindir, apa-apa yang dikritik sebelumnya, di kemudian waktu malah dilakukan pula oleh para penyindir. Kekonyolan ganda dan terus membesar, layaknya gelindingan bola salju.

Melempar kritik atas sesuatu, semestinya ditindaklanjuti dengan kesetiaan menjaga jarak dengan yang disanggahnya. Sayangnya, banyak diantara kita yang kerap terbawa arus. Menyindir habis-habisan sejumlah kekeliruan, tapi malah menikmati hidup dalam kekeliruan yang sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s