Kendaraan

Kendaraan bukan sekadar alat pengangkut, tapi juga soal gaya hidup. Hadirnya jenis-jenis kendaraan, juga berpengaruh dengan pergeseran cara hidup masyarakat sekelilingnya. Dari hal terkecil, seperti cara mengenakan baju hingga pilihan-pilihan jenis alas kaki.

Awal abad ke-20 saat kereta api tumbuh sebagai moda massal yang menghubungkan daerah-daerah di jawa, bersertanya juga terjadi perubahan struktur sosial. Gerbong-gerbong dibagi dalam kelas-kelas, untuk membedakan siapa penumpangnya. Sepur kelas 1 adalah eropa, kelas 2 adalah pribumi priyayi atau mereka yang bependidikan barat, kelas 3 adalah jelata. Klasifikasi ini, secara sederhana, diidentifikasi melalui pandangan akan cara berpakaian yang penumpang kenakan, logat bicaranya sampai tingkat kenecisannya. Selain juga berdasar pertimbangan faktor ras.

Hal yang sama juga muncul di dekade awal tahun 1970-an. Orde baru yang masih belia menggelorakan jargon-jargon pembangun lewat bahasa-bahasa pembangunan. Proyek-proyek infrastruktur dijalankan, impor perangkat untuk memenuhi kebutuhan publik dipacu. Saat itu, hubungan dengan jepang, sedang hangat-hangatnya. Masa bulan madu ini ditandai dengan mendatangkan mobil-mobil dari negeri sakura itu, demi dalih pelayanan masyarakat. Pengenalan jenis mobil “colt” menandai berubahnya sebuah jaman. Mobilitas penduduk merintis keterbukaan informasi tentang peta-peta kebudayaan baru. Konsumsi digeber, kelas-kelas sosial terbangun bersekat-sekat. Orang kaya berpesta dengan kemewahan baru, orang miskin cukup memimpikannya.

Golongan menengah ke atas, tumbuh sebagai kalangan yang paling akrab dengan pembelian dan kepemilikan kendaraan hasil impor itu. Gaya hidup berubah. Kepemilikan mobil, menjadi parameter kesuksesan seseorang. Bahkan, di awal 1980-an, beredar kosakata baru yang diserap dari bahasa jepang, yaitu istilah “Keren”. Kata yang berakar dari bahasa jepang “karen” yang berarti mempesona. Istilah keren itu berkembang untuk menggambarkan gaya hidup seseorang yang lekat dengan kemewahan teknologi saat itu. Benda-benda mewah seperti mobil berikut telepon genggam yang terakit besertanya, adalah lambang-lambang baru keberhasilan pencapaian ekonomi seseorang. Kalau belum memiliki benda-benda buatan jepang itu, maka bisa dikatakan seseorang belum bisa dijuluki sukses.

Hikayat tentang kemilikan kendaraan, selalu berhubungan erat dengan hasrat dasar manusia untuk tampil unggul dibanding liyan. Dari masa moda kuda hingga kereta kebangsawanan. Memiliki kendaraan adalah salah satu pencapaian yang didamba. Orang merasa naik kelas ketika mempunyainya. Titik inilah yang disasar kolonialisme jenis apapun. Keberhasilan tiap penjajahan, kerapkali dimulai dengan kemampuan menguasai cara berpikir suatu bangsa, yang dibangun lewat gaya hidupnya. Jika dimasa lalu, kolonialisme itu berupa kepenguasaan wilayah fisik, kini telah berubah. Perdagangan bebas adalah peluru tajam untuk melumpuhkan sebuah bangsa, sampai luluh lantak kemandirian dirinya. Asumsi-asumsi bergeser, hingga konsumerisme yang tadinya merupakan tindakan yang dianggap negatif, berubah menjadi kewajaran baru dan dimaklumi.

Rayuan-rayuan bertebaran. Bujukan untuk membeli mengepung setiap hari, dengan fasilitas-fasilitas penunjangnya. Jaman pelampiasan tengah berlangsung. Segala hasrat disokong pasar, untuk dipenuhi.  “Jika tak mampu beli, maka cicillah. Bila itu susah, maka hutanglah. Kalau masih dirasakan berat, jangan khawatir, kami sediakan kartu sakti untuk berhutang. Ayo beli…beli dan beli”.

Hari-hari ini, Indonesia sedang ramai bergunjing tentang peluncuran mobil berharga rendah. Seakan-akan penguasa berkata “Karena kami memperhatikan rakyat kecil, maka kami sediakan mobil murah untuk kalian”, lalu menyisipkan tanya “Kami baik tho?”. Sembari ngopi santai di kebun istana, mereka meneropong rakyat yang berduyun-duyun mengantri di pusat-pusat penjualan kendaraan roda empat. Para penguasa tersenyum, lantas menyalami rombongan pengimpor mobil, sambil berujar “Kita berhasil!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s